Gak sopan? Tenang aja, situ bukan orang pertama yang beranggapan seperti itu.
Seingat gue sejak kecil banget, kira-kira sejak mulai lancar bicara, gue udah diperbolehkan memanggil nama mereka. Bahkan nama opung boru dan opung doli (nenek dan kakek) dari bokap. Kebiasaan ini membuat salah satu teman nyokap heran.
"Ri, kenapa anakmu diajarin manggil orang tua pake namanya?"
"Lah, kenapa? Justru bagus dong."
"Bagus dari mana?"
"Ya bagus, kalau nanti dia hilang, atau kesasar, dia bisa kasih tau nama orang tuanya yg lengkap. Bukan cuma bilang mamiku atau papiku."
Percakapan ini terjadi waktu gue masih umur 3 tahun, sebelum pindah ke Medan. Nyokap gue memang punya pola pikir yang berbeda dibandingkan orang lain. Menurut dia sopan atau tidaknya gue dan kedua adik gue gak bisa diukur hanya dengan bagaimana cara memanggil orang tua. Terlalu dangkal.
Kebiasaan ini sebenarnya hanya berlaku ketika sedang dalam situasi bercanda. Gue bersyukur punya orang tua yang selera humornya luar biasa tinggi. Gak jarang kebiasaan ini sering dipandang aneh sama orang lain. Salah satu contohnya waktu nyokap nelpon gue dan adik-adik yg lagi berenang.
"Halo, iya ma....."
"Jam berapa selesai berenang?"
"Paling ntar jam 7."
"Oh iya, mana Sammy (adik gue), aku mau bicara."
"Sammmmmm. Tante Ria mau bicaraaaaa."
Yap! Gue juga sering manggil nyokap dengan sebutan tante kalo lagi iseng. Temen-temen gue, yang juga ikut berenang, saat itu bingung kenapa gue manggil nyokap dengan sebutan tante. Gue cuma bisa nyengir liat ekspresi mereka.
Pernah lagi kejadian waktu gue udah kuliah dan tiba-tiba nyokap telpon pas gue lagi jalan bareng teman.
"Halooooooouwwww."
"Halo, lagi ngapain?"
"Biasa, lagi jalan sama teman. Kenapa ma?"
"Enggak, cuma mau ngasih tau kalau kami lagi makan-makan enak di sini. Hehehehe." Oke, sekilas informasi, menurut gue Medan surga kuliner. Kalau nyokap lagi makan enak, berarti makanan itu luar biasaaaaaa enaknya!
"Jadi nelpon cuma buat ngasih tau itu?"
"Yoi. Ini lagi rame-rame makan enak"
"Sialaaaaannnnn dikau Riaaaaaa. Memang bener-benerlah ibu yang satu ini. Udah tau di sini makan cuma seadanya."
"Hahaha. Yaudahlah kalau gitu ya. Aku mau makan dulu. Daaahhhhh."
Setelah telpon ditutup, temen gue langsung nanya siapa itu Ria karena yang dia dengar gue lagi telponan sama nyokap. Gue langsung jelasin kalau Ria itu nyokap gue dan kebiasaan memanggil nama orang tua. Menurutnya kebiasaan itu aneh dan kedengaran gak sopan. Gue cuma nyengir dan entah kenapa bangga dibilang punya keluarga yang aneh.
Selama ini gue gak pernah peduli ketika orang negur atau ngatain gue gak sopan ketika melakukan itu. Karena apa? Karena orang tua gue juga menganggap itu biasa aja. Lucunya, kalau kita lagi dalam situasi atau konteks yang serius, gue dan adik-adik gak pernah memanggil mereka dengan menggunakan nama orang tua.
Berarti orang tua kalian gak becus dong ngajarin sopan santun?
Gue cuma bisa nyengir dengar kata-kata ini. Justru sebaliknya, ketika gue kecil, di satu waktu nyokap gue luar biasa keras dan gak segan-segan ngasih hukuman kalau anaknya salah. Sampai-sampai anak tetangga gue bilang nyokap gue galak. Cuma selesai dihukum, gak sampai setengah jam kami langsung bercanda lagi sambil ketawa bareng :). Di waktu yang lain nyokap gue bakalan santai banget. Dia bisa ketawa waktu tahu gue dihukum guru, sambil nyuruh menikmati hukumannya kalau memang benar gue yang salah.
"Ya sekali-sekali dihukum guru kan gak masalah. Biar ada yang bisa dikenang."
Mungkin terdengar subyektif, gak penting dan kelihatan mau muji diri sendiri, tapi berkat itu gue dan adik-adik menjadi tipe anak yang "tidak membiarkan orang tua bawa barang belanjaan ketika menemani mereka belanja." Itu juga berkat didikan nyokap yang awlnya mewajibkan kami membawa belanjaan dan akhirnya terbiasa. Nggak, memang gue dan adik-adik gue belum hebat-hebat banget. Cuma gitu doang. Hanya saja sampai sekarang gue suka heran dan sewot ngeliat anak yang melenggang sementara orang tuanya harus bawa seabrek-abrek belanjaan.
Lagi lagi dan lagi gue bersyukur tumbuh dalam keluarga yang punya selera humor tinggi dan berpikiran terbuka. Kebiasaan-kebiasaan seperti manggil nama orang tua, main pedang-pedangan pakai sapu sama bokap, iseng mencet-mencet hidung dan gelitikin telinga nyokap yang lagi tidur, nyelip tidur di antara bokap dan nyokap, ngubur bokap yang lagi tidur pake berlapis-lapis selimut dan bantal, saling membuat lelucon satu sama lain dan banyak kebiasaan 'aneh' lainnya masih dilakukan sampai sekarang. Hal-hal seperti itu justru menjadi bentuk ungkapan kasih sayang satu sama lain. Apalagi kami tidak terbiasa mengumbar kata "aku sayang kamu" atau "aku mencintaimu".
Jadi, dengan kebiasaan gue itu, apakah gue tidak sopan?
Ini isi sms gue dan nyokap ketika gue lagi heboh skripsian.
Borjong itu kata dalam bahasa Batak yang artinya, kalau tidak salah, kunyuk dan opung boru artinya nenek.
