Kamis, 26 September 2013

Sering Dibilang Gak Sopan

Di keluarga, gue dan adik-adik punya kebiasaan memanggil orang tua menggunakan nama mereka, tapi dalam konteks bercanda. Maksudnya? Kalau gue manggil bokap atau nyokap, selain menggunakan mama atau papa, gue juga boleh menggunakan "Ria" dan "Jopi" atau "Mama Ria" dan "Pak Jopi". Ya, Ria dan Jopi itu nama kedua orang tua gue.

Gak sopan? Tenang aja, situ bukan orang pertama yang beranggapan seperti itu.

Seingat gue sejak kecil banget, kira-kira sejak mulai lancar bicara, gue udah diperbolehkan memanggil nama mereka. Bahkan nama opung boru dan opung doli (nenek dan kakek) dari bokap. Kebiasaan ini membuat salah satu teman nyokap heran.
"Ri, kenapa anakmu diajarin manggil orang tua pake namanya?"
"Lah, kenapa? Justru bagus dong."
"Bagus dari mana?"
"Ya bagus, kalau nanti dia hilang, atau kesasar, dia bisa kasih tau nama orang tuanya yg lengkap. Bukan cuma bilang mamiku atau papiku."

Percakapan ini terjadi waktu gue masih umur 3 tahun, sebelum pindah ke Medan. Nyokap gue memang punya pola pikir yang berbeda dibandingkan orang lain. Menurut dia sopan atau tidaknya gue dan kedua adik gue gak bisa diukur hanya dengan bagaimana cara memanggil orang tua. Terlalu dangkal.

Kebiasaan ini sebenarnya hanya berlaku ketika sedang dalam situasi bercanda. Gue bersyukur punya orang tua yang selera humornya luar biasa tinggi. Gak jarang kebiasaan ini sering dipandang aneh sama orang lain. Salah satu contohnya waktu nyokap nelpon gue dan adik-adik yg lagi berenang.
"Halo, iya ma....."
"Jam berapa selesai berenang?"
"Paling ntar jam 7."
"Oh iya, mana Sammy (adik gue), aku mau bicara."
"Sammmmmm. Tante Ria mau bicaraaaaa."
 Yap! Gue juga sering manggil nyokap dengan sebutan tante kalo lagi iseng. Temen-temen gue, yang juga ikut berenang, saat itu bingung kenapa gue manggil nyokap dengan sebutan tante. Gue cuma bisa nyengir liat ekspresi mereka.

Pernah lagi kejadian waktu gue udah kuliah dan tiba-tiba nyokap telpon pas gue lagi jalan bareng teman.
"Halooooooouwwww."
"Halo, lagi ngapain?"
"Biasa, lagi jalan sama teman. Kenapa ma?"
"Enggak, cuma mau ngasih tau kalau kami lagi makan-makan enak di sini. Hehehehe." Oke, sekilas informasi, menurut gue Medan surga kuliner. Kalau nyokap lagi makan enak, berarti makanan itu luar biasaaaaaa enaknya!
"Jadi nelpon cuma buat ngasih tau itu?"
"Yoi. Ini lagi rame-rame makan enak"
"Sialaaaaannnnn dikau Riaaaaaa. Memang bener-benerlah ibu yang satu ini. Udah tau di sini makan cuma seadanya."
"Hahaha. Yaudahlah kalau gitu ya. Aku mau makan dulu. Daaahhhhh."

Setelah telpon ditutup, temen gue langsung nanya siapa itu Ria karena yang dia dengar gue lagi telponan sama nyokap. Gue langsung jelasin kalau Ria itu nyokap gue dan kebiasaan memanggil nama orang tua. Menurutnya kebiasaan itu aneh dan kedengaran gak sopan. Gue cuma nyengir dan entah kenapa bangga dibilang punya keluarga yang aneh.

Selama ini gue gak pernah peduli ketika orang negur atau ngatain gue gak sopan ketika melakukan itu. Karena apa? Karena orang tua gue juga menganggap itu biasa aja. Lucunya, kalau kita lagi dalam situasi atau konteks yang serius, gue dan adik-adik gak pernah memanggil mereka dengan menggunakan nama orang tua.

Berarti orang tua kalian gak becus dong ngajarin sopan santun?
Gue cuma bisa nyengir dengar kata-kata ini. Justru sebaliknya, ketika gue kecil, di satu waktu nyokap gue luar biasa keras dan gak segan-segan ngasih hukuman kalau anaknya salah. Sampai-sampai anak tetangga gue bilang nyokap gue galak. Cuma selesai dihukum, gak sampai setengah jam kami langsung bercanda lagi sambil ketawa bareng :). Di waktu yang lain nyokap gue bakalan santai banget. Dia bisa ketawa waktu tahu gue dihukum guru, sambil nyuruh menikmati hukumannya kalau memang benar gue yang salah.
"Ya sekali-sekali dihukum guru kan gak masalah. Biar ada yang bisa dikenang."

Mungkin terdengar subyektif, gak penting dan kelihatan mau muji diri sendiri, tapi berkat itu gue dan adik-adik menjadi tipe anak yang "tidak membiarkan orang tua bawa barang belanjaan ketika menemani mereka belanja." Itu juga berkat didikan nyokap yang awlnya mewajibkan kami membawa belanjaan dan akhirnya terbiasa. Nggak, memang gue dan adik-adik gue belum hebat-hebat banget. Cuma gitu doang. Hanya saja sampai sekarang gue suka heran dan sewot ngeliat anak yang melenggang sementara orang tuanya harus bawa seabrek-abrek belanjaan.

Lagi lagi dan lagi gue bersyukur tumbuh dalam keluarga yang punya selera humor tinggi dan berpikiran terbuka. Kebiasaan-kebiasaan seperti manggil nama orang tua, main pedang-pedangan pakai sapu sama bokap, iseng mencet-mencet hidung dan gelitikin telinga nyokap yang lagi tidur, nyelip tidur di antara bokap dan nyokap, ngubur bokap yang lagi tidur pake berlapis-lapis selimut dan bantal, saling membuat lelucon satu sama lain dan banyak kebiasaan 'aneh' lainnya  masih dilakukan sampai sekarang. Hal-hal seperti itu justru menjadi bentuk ungkapan kasih sayang satu sama lain. Apalagi kami tidak terbiasa mengumbar kata "aku sayang kamu" atau "aku mencintaimu".

Jadi, dengan kebiasaan gue itu, apakah gue tidak sopan?

Ini isi sms gue dan nyokap ketika gue lagi heboh skripsian.
Borjong itu kata dalam bahasa Batak yang artinya, kalau tidak salah, kunyuk dan opung boru artinya nenek.

Jumat, 20 September 2013

Lo Baru Sadar

Lo baru sadar udah lama gak baca-baca alkitab ketika minggu lalu di gereja lupa di mana letak kitab Yosua.
Lo baru sadar alasan suka minum kopi hitam pahit supaya hidup lo yang hambar terasa lebih manis.
Lo baru sadar bertambah tua itu menyebalkan setelah dimarahi satpam karena masuk ke trolley supermarket.
Lo baru sadar (dan bersyukur) punya dua adik yang baik setelah mendengar berbagai keluhan teman tentang kelakuan adik mereka.
Lo baru sadar (dan bersyukur) punya keluarga yang sinting ketika sekitar menganggap ganjil kebiasaan 'boleh memanggil orang tua dengan namanya ketika sedang bercanda'.
Lo baru sadar lo bukan anak gaul, seperti kata teman lo, karena gak punya akun path dan akun line terbengkalai.
Lo baru sadar ternyata tujuan merapatkan kedua tangan waktu difoto supaya toket kelihatan lebih gede dan belahannya lebih menantang.
Lo baru sadar kalau pria di samping lo cukup manis, sayang bawa monyet.
Lo baru sadar kopi yang dipesan udah dingin.
Lo baru sadar cuma lo yang datang dan duduk sendirian di sini.
Lo baru sadar kalo tulisan ini buah dari kesepian.
Lo baru sadar sampai akhir tulisan ini pun rasa sepi itu belum juga hilang.

Rabu, 04 September 2013

Ucapan Nyokap dan Kelompok Kecil

Tadi siang gue baru makan siang bareng vivi, niar dan ka Joan, kelompok kecil gue. Percakapan sebelum, sambil dan setelah makan tadi sangat-sangat membantu menjawab pertanyaan "Mau jadi apa gue setelah lulus kuliah?".

Berawal dari curhatan vivi yang bingung menentukan langkah ke depan yang harus dia ambil. Pertanyaan semacam apakah harus pindah dari pekerjaannya atau tidak. Ya semacam itulah. Dikarenakan kelompok kecil ini merupakan kelompok persekutuan, tentunya omongan soal 'masa depan' ini terkait dengan sesuai atau tidak dengan kehendak Tuhan.

Menurut gue, salah satu masalah yang dihadapi hampir semua mahasiswa yang baru lulus adalah memilih langkah selanjutnya. Apakah mau lanjut sekolah, itu juga milih sekolah di mana, apakah mau kerja, itu juga milih mau kerja apa, atau pilihan lain seperti mau liburan dulu atau mau santai-santai dulu.

Hal yang buat susah menentukan langkah selanjutnya yaitu karena ada berbagai pihak yang ingin 'dibuat senang'. Setiap pilihan selalu dihitung-hitung dengan 'apakah membuat gue senang', 'apakah orang tua gue setuju', 'apa nanti kata orang sekitar', dan sebagainya. Apalagi beban ini menurut gue semakin berat buat orang-orang yang lulus dari 'universitas ternama'. Lo tau kan cibiran-cibiran seperti 'Masa lulusan ini kerjanya gitu?" atau "Masa anak universitas xx belum dapat kerja juga?".

Sekarang gue juga sedang menghadapi masa itu. Bingung mempersiapkan jawaban dari pertanyaan apa yang akan gue lakukan setelah wisuda. Akhirnya ada kata-kata ka Joan yang walaupun bukan situjukan ke gue, tapi ngena banget.

"Kalau gitu, coba lo cari tahu apa kehendak Tuhan. Kasih deadline sekitar sebulan untuk tahu apa yang terbaik buat lo. Jangan pikirkan apa kata sekitar atau apa keinginan orang tua dulu. Karena pada akhirnya lo sendiri yang menjalani semua itu."

Ah ya, gue lupa belum coba tanya sama Tuhan. Ya, gue sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan menganggap kata-kata kak Joan itu sangat pas buat gue. Tiba-tiba gue jadi rindu sama Tuhan. Lo tahu kan perasaan rindu ingin menghubungi seseorang yang dulu sangat dekat sama lo, tapi karena satu dan lain hal hubungan lo menjauh? Ya, akhir-akhir ini gue sempat menjauh dari Dia dan gue jadi sekangen itu berkomunikasi denganNya.

Sebelumnya nyokap juga pernah bilang ke gue, setelah berkali-kali gue menolak ajakan ikut seleksi masuk PNS,

"Sekarang kau harus tentukan sikap. Kalau mau langsung kerja, maka cari. Kalau mau lanjut sekolah, ya persiapkan dirimu! Kalau kau mau nyari beasiswa sambil kerja juga bisa. Yang penting kau harus tentukan sikap!"

Dibalik sikap keras nyokap, gue menangkap ada tanda persetujuan untuk setiap keputusan yang gue ambil. Gue tahu, menyenangkan hati dan membuat bangga orang tua dan kakek nenek merupakan perbuatan yang baik. Tapi pada akhirnya kita tidak bisa menyenangkan setiap orang kan? Pada akhirnya juga gue sendirilah yang menjalani semuanya. Oleh karena itu, perkataan nyokap benar-benar melegakan hati dan membantu gue, dengan catatan gue harus sepenuhnya bertanggung jawab dan bekerja keras terhadap langkah yang gue ambil. 

Akhir kata, gue sangat senang dan merasa ini merupakan 'campur tangan Tuhan' membantu gue, yang udah jarang berkomunikasi dengan Dia, memutuskan langkah apa yang harus gue ambil. Makasih banyak Bapa. Seperti kata Sudjiwo Tedjo, Kau itu memang Maha Asyik.



Senin, 02 September 2013

Kalau kepalamu gak nempel di leher

Gue punya penyakit lupa yang lumayan nyusahin. Lupa bawa sesuatulah, lupa naruh barang atau lupa balas sms. Lo tau kan tipe orang yang baru balas sms tiga, empat atau 12 jam kemudian alasannya karena lupa? Nah itu gue.

Sekitar empat hari yang lalu, setelah gladi resik wisuda, penyakit lupa gue kambuh lagi. Waktu itu gue, Dila dan Mocil memutuskan buat makan malam di takor, setelah GR selesai. Itung-itung hemat, daripada makan di perpus pusat yang harganya dua kali lipat tapi porsinya lebih sedikit. Sampai di takor, karena capek, keringetan, haus dan kelaparan bergabung jadi satu, semua barang yang dibawa diletakin asal (baca: dicampakin) gitu aja di atas meja. Singkat cerita, selesai makan kita bertiga buru-buru balik karena masing-masing udah pada punya janji ketemu sama orang lain. Barang yang diletakin di atas meja gue samber gitu aja tanpa lihat-lihat lagi.

Dari takor gue langsung menuju margo, janjian makan malam (lagi) bareng orang tua. Iya, gue memang melihara naga di perut. Pokoknya sesampainya di sana penampilan gue luar biasa ajrut-ajrutan. Gue masih pake dress brokat warna ungu-merah muda meriah dipadu sama sendal jepit, tangan kiri gue nenteng plastik kresek isi toga, napas gue ngos-ngosan dan makeup gue udah gak berbentuk lagi. Belum lagi gue harus keliling margo nyari mak bapak gue karena hape mati. Gue persis calon pengantin habis kabur, kayak Julia Roberts di Runaway Bride. Bedanya dia bawa bunga, gue bawa kantong kresek. Dia kabur naik kuda, gue kabur naik angkot. Dia kabur berapa kali pun tetap aja ada yang mau nikahin, gue punya pacar aja belum. Okesip gak ada persis-persisnya sama sekali. Malah miris.

Selesai makan malam, gue balik ke kosan, mak bapak gue balik nginap di rumah saudara gara-gara penginapan pada penuh. Di kosan, gue bongkar-bongkar lagi tuh kresek buat persiapan wisuda besok, dan ENG ING ENG! Sepatu dan pita toga gue gak ada. Gue ubek-ubek sampai koyak juga tetap gak ketemu. Gue langsung panik, apalagi pitanya mau dipake wisuda besok dan sepatunya baru dipake sehari. Gue langsung telpon mocil buat nanyain mas min, barang gue ada ketinggalan atau gak di takor. Hasilnya nihil. Mau gak mau gue pinjem pita ke Melin yang lulus semester lalu. Ecieee lulus 3,5 tahun. Halah. Untung dia masih nyimpen dan belum sempat dipinjemin ke orang lain. Gak pake babibu lagi gue langsung ke kosan dia ngambil pitanya. Sepatu yang baru dipake sehari gue ikhlasin aja.

Besok paginya jam 6 tiba-tiba Mocil sms gue, katanya jam 5 pagi mas min nemu barang-barang gue di takor. Hidup mas Min! Mas min penyelamat wisuda. Mas min penyelamat sepatu baru. Mas min penyelamat hati saya yang gak ikhlas-ikhlas amat kehilangan sepatu. Mas min mas min mas min oye! Pagi-pagi banget gue langsung ke takor jemput barang-barangnya yang disambut dengan senyuman manis campur geli mas min. Pokoknya barang-barang gue balik tanpa kerusakan apapun. Sepanjang jalan gue memarahi diri sendiri supaya gak terlalu serampangan naruh barang. Mungkin orang yang waktu itu ngeliat nyangka gue gila karena ngomel-ngomel sendiri gak karuan.

Besoknya, jam 6 pagi, gue, nyokap dan bokap udah di stasiun senen mau berangkat ke Semarang. Ternyata aksi memarahi diri sendiri gak mempan buat mengobati kebiasaan gue. Waktu bokap minta KTP gue buat check-in, ternyata dompet gue gak ada di dalam tas. Alhasil pagi-pagi, di stasiun, gue udah brak-brik-bruk gak jelas ngeluarin semua isi tas gue yang seabrek-abrek itu, di bawah pelototan nyokap dan bokap. Sisa waktu check-in udah tinggal 45 menit lagi, kalau dompet gue memang tinggal di Depok, matilah gue digantung nyokap. Gue udah bingung mau nyari-nyari alasan apa kalau itu dompet bener-bener tinggal. Mau pura-pura ayan gak mungkin. Mau pura-pura gila sambil buka baju juga percuma, yang ada dada rata gue malah diketawain. Mau kesurupan arwah hewan takut garing, gue bisanya cuma niru suara babi. Gak ada keren-kerennya.

Bokap gue makin gak sabar, nyokap gue apalagi. Sebelum nyokap gue bersiap-siap marah, gue iseng ngebongkar isi ransel gue, walaupun gue gak yakin-yakin amat ada di situ. Ternyata. tuh dompet ada di bagian paling dalam ransel. Gue cuma bisa nyengir, gak inget kapan pernah masukin itu. Nyokap gue cuma bisa ngejitak gue, sekalian meriksa isi kepala gue.

Nyokap gue takut kejadian beberapa tahun lalu keulang lagi. Waktu bokap sama nyokap pergi ke kampung halaman buat ngehadirin pesta saudara dekat, ternyata tas berisi kebaya dan jas bokap lupa gue masukin mobil. Alhasil sampai sana bokap nyokap gue pinjam baju sambil ngomel-ngomel di telepon. Sampai rumah gue diomelin habis-habisan. Cuma sampai sekarang gue suka geli inget kejadian itu.

Setelah diomelin habis-habisan, bokap gue menutup semua omelan dengan satu kalimat yang masih gue ingat sampai saat ini.
"Kurasa, kalau kepalamu gak nempel di leher, pasti kau bakalan lupa di mana kau letakin kepalamu itu!"

Untungnya sampai sekarang masih nempel.