Selasa, 25 Juni 2013

MDGS

Minggu depan gue sidang. Depan gue minggu sidang. Gue sidang minggu depan. Sidang gue minggu depan.

Deg-degan.

Kamis, 20 Juni 2013

Perempuan Harus Menunggu Dihampiri (katanya)

Seharusnya gue saat ini ngerjain daftar pustaka tugas akhir. Apa boleh buat, setiap ngerjain tugas, hal-hal lain kelihatan lebih menarik. Seperti menghitung jumlah buletan di baju mbak-mbak di seberang gue.

Tiba-tiba gue teringat dengan buku 'Lady in Waiting' yg sering dibicarakan sekitar gue. Gue gak mau mengomentari isi buku ini karena belum gue baca. Gue mengomentari isi otak teman gue yg habis baca buku ini. Pada intinya dia berpendapat: 

Women must stop chasing men and let the men do all the chasing!

Gue langsung bertanya-tanya kenapa????? Kok bisa??? 

Karena kita diciptakan berbeda dengan laki-laki.

Menurutnya sebagai perempuan TIDAK PERLU MELAKUKAN APA-APA ketika menyukai seseorang. Cukup serahkan semuanya kepada Tuhan dan arahkan seluruh perhatian kepadaNya biar Dia yang menunjukkan jalan.

Sekali lagi gue terpana dengan jalan pikiran ini. Well, oke. Gue termasuk orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Hanya saja, sebagai orang yg percaya adanya Tuhan, gue sering tidak sejalan dengan pemikiran ini. Pemikiran kayak gini, menurut gue, memaksa kita buat jadi orang yang cuma bisa pasrah tanpa ngelakuin apa-apa.

"Gak ngelakuin apa-apa? Menurut gue berdoa dan meminta kepada Tuhan itu usaha juga kok."

Well kalau begitu dari dulu gue cukup berdoa dan pasrah setiap uts dan uas. Enak banget! Enggak, gue gak bilang berdoa meminta kepada Tuhan itu salah. Gue juga masih meminta dalam doa sama Tuhan setiap ada keinginan, kebutuhan atau menghadapi masalah. Tapi, kalo cuma minta doang tanpa melakukan usaha lain itu benar? 

"Yah itu kan beda masalah. Kalo yg lo bilang kan soal cita-cita. Cita-cita itu kan sesuatu yg pasif, gak bergerak. Emang udah seharusnya kita yg menghampiri. Kalau ini kan soal pasangan hidup. Kita ini diciptakan berbeda sama laki-laki dan laki-laki itu hidup, bergerak dan berinisiatif. Jadi wajarlah kita sebagai perempuan yg menunggu dihampiri, atas bantuan dan kehendak Tuhan."

Ah, lagi-lagi alasan 'penciptaan'. Kodratkah itu? Atau hanya hasil dari konstruksi sosial? 

Intinya standpoint gue dalam hal ini adalah gue gak setuju. Gue sampai sekarang masih percaya dengan kata-kata ora et labora. Gue tetap mengutamakan berdoa tetapi juga gak meninggalkan usaha. Apapun itu yg ingin gue capai, cari atau temukan. Entah kenapa di telinga gue, gak tahu deh di telinga lo gimana, alasan-alasan tadi kayak rengekan ababil yg sering ada di twit-twit quote gak penting.

I want you to know I love you but I don't want to tell you.

LO KATA DIA MAMA LORENG BISA BACA PIKIRAN?? Ribet banget hidup lo!!!
Ngomong-ngomong soal hidup yang ribet, gue ketemu gambar ini beberapa hari yang lalu dan gue setuju dengan seluruh isinya. Well, good night. Tugas gue sudah memanggil-manggil dari tadi.





Selasa, 04 Juni 2013

Gue Juga Pendosa

Akhir-akhir ini gue lagi seneng banget dengerin lagu Ozzy Osbourne - I don't want to change the world. Lagu ini bisa gue puter berkali-kali dalam sehari. Bukan, gue bukan fans sejati kelas kakap ozzy atau black sabbath. Gue masih pada tingkat penikmat. Walaupun gue demen banget sama lagu-lagu mereka di album paranoid yang enaknya bangsat!

Gue suka banget sebagian dari lirik lagu ini.

Tell me I'm a sinner, I got news for you.
 I spoke to God this morning and he don't like you
You telling all the people the original sin 
He says, He knows you better than you'll ever know him.


Begitu denger bagian ini, liriknya langsung nancep banget di kepala dan buat ketawa setengah mati.
Gue termasuk orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Bukan, gue bukan mau ngajak debat soal Tuhan itu ada atau enggak. Kalau lo gak percaya, silakan. 
Jadi gue mau ngapain? 
Lagi-lagi gue cuma mau menyalurkan isi pikiran gue. Lagu ini mengingatkan gue  kata-kata yang pernah gue ucapin beberapa waktu lalu ke seorang teman.

"Lo tau gak salah satu hal yang paling bikin gue kesel? Ketika yang katanya saudara seagama bilang gue belum atau gak pantas ambil bagian dalam pelayanan karena kelakuan gue masih gak bener. Sial banget kan?!"
Alasannya, gimana bisa gue melayani dengan baik kalau ikut kegiatan ibadah aja gue jarang. Apalagi katanya otak gue tidak sesuai dengan ajaran Yang Maha Kuasa. Gak tau, sebenernya gak sesuai dengan ajaran Tuhan atau gak sesuai dengan ajaran mereka. Gue yang menganggap para perokok, atheis dan orang-orang yang menjalin hubungan beda agama atau sesama jenis bukan suatu masalah dianggap menyalahi aturan. Pikiran gue yang seperti ini dikhawatirkan dapat menjerumuskan orang lain. 

Gue teringat curhatan seorang teman yang anak binaannya dipersulit ketika ingin menjadi pelayan, karena dia menjalin hubungan beda agama. Waktu itu gue dengan semangat empat lima mendorong dia untuk memperjuangkan keinginan anak binaannya. 

"Jangan tolol kaya mereka. Kalo dia memang mau melayani, perjuangkan, apapun resikonya. Kalo lo emang percaya adanya Tuhan, jika Dia berkehendak anak lo jadi pelayan, pasti dibukakan jalan. Jangan ikut-ikutan goblok kayak mereka." 

Gue memang agak risih dengan masalah kayak gini. Ya, menghalangi orang ingin melayani merupakan sebuah masalah besar buat gue. Kadang-kadang pengen banget ngomong gini, "Nyet, kalo seseorang ada keinginan untuk melayani atau berniat baik, sebangsat-bangsat apapun menurut lo kelakuannya, kasih dia kesempatan. Percuma mulut lo ngomongin soal kasih, tapi ngehalangin orang berniat baik. Emang lo yakin itu kehendak Tuhan dia gak pantas melayani karena bukan orang baik-baik? Kalo mo nyari yang gak ada dosa, sana mati dulu terus cari di sorga. Itu juga kalo lo masuk ke sana." Cuma kesempatan itu belum datang di dunia nyata, gue cuma bisa nyampein itu di sini. Meh.

Kadang-kadang kita, termasuk gue, terlalu sibuk menghitung dosa orang lain dan ups! Lupa kalau sama-sama berdosa. Perasaannya udah kudus aja. Berasa yang paling kenal Tuhan dan kehendakNya. Padahal, pfffftttt..

Gue memang pendosa. Ucapan gue suka diselipi kata makian. Gue juga jarang banget saat teduh dan ikut persekutuan. Tapi, bukan berarti lebih buruk atau lebih baik dari saudara-saudara yang aktif di persekutuan, pelayanan dan organisasi keagamaan. Kalo tiap berdoa mohon supaya dosa diampuni, kenapa gue dengan seenak jidat ngukur dosa orang lain?

"Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Yohanes 8:7 - Ucapan Yesus ketika seorang perempuan yang berzinah akan dilempari batu.

Telanjangi lalu pandangi

Gue punya teman, sesama jomblo, yang semester terakhir ini selalu bareng kemana pun. Kita adalah teman yang saling membantu dan selalu ada di saat suka dan duka.
Gue lagi laper dia beliin makanan. Dia lagi haus, gue beliin minuman. Gue kebelet pipis, dia langsung sedia botol kosong. Yah, kedekatan gue dan dia kayak tintin dan snowy. Iya, dia Snowynya. 

Apa yang paling bikin kita nempel adalah selera humor yang sama. Kita berdua sama-sama suka nyeletuk hal-hal goblok, sarkas, dan kadang berbau seks. Hmmm, sampai sekarang gue gak ngerti seks itu aromanya kayak apa. Apa? Rasanya? MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAaanjing gue gak tau. 
Salah satu celetukan yang sekarang lagi gue inget dari Justice waktu gue habis daftar jadi pengawas di departemen kampus. Sayang banget gue telat dan lowongan udah penuh. Padahal uangnya lumayan. Waktu gue jalan ke arah takor, Justice coba menghibur gue. 
"Ge, emang angkatan berapa yang banyak daftar jadi pengawas?" 
"2010 kali. Tau dah." 
"Ya udah, kalo gitu kita basmi aja satu angkatan. Kita ngelakuin itu, ehhh, apa itu namanya? Geno, gena. Aduh lupa" 
"Genosida." 
"Nah, iya! Genosida." 
"Terus?" 
"Terus, cowok cewek kita pisah. Terus yang cowok kita masukin ke ruangan besar."
"Ruang gas maksudnya?" 
"Bukan, ruang sauna. Ruangannya terbuat dari kaca. Biar bisa kita lihat prosesnya. Kita telanjangi mereka, terus kita pandangi."

Kita pandangi, kita pandangi, kita pandangi....
Kata-kata itu terus terngiang di telinga gue. Apa yang mau dipandangi?! Titit-titit? 

"Wah Ju, berarti kita harus sedia kaca pembesar." 
"Buat apa?" 
"Yah, siapa tau ada titit-titit yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar." "Hmmm, bener-bener." 
"Lah, terus yang ceweknya?" 
"Ceweknya sama, digituin juga. Cuma suhunya dibuat jauh lebih tinggi. Biar prosesnya lebih cepat. Gak perlu dipandangi." 
"Bener-bener. Toh sama-sama punya. Cuma beda di bentuk sama ukuran aja.", jawab gue sambil ngangguk-ngangguk. 

Sepanjang perjalanan sampai ke takor gue dan dia gak berhenti ngobrol soal itu. Omongan gue dan dia semakin gak normal, sampai-sampai gue gak sanggup menceritakan itu di sini. Gue dan dia gak pernah berlagak geli atau jijik kalau udah becandaan yang kayak gitu, apalagi kalo topiknya gak jauh-jauh dari vejayjay dan penaynay. Jangan tanya gue kenapa, apalagi tanya ke rumput yang bergoyang kayak bang ebiet. 


Ah iya, setelah mengetik ini gue baru menyadari, kayaknya yang punya obsesi memandangi titit-titit cuma gue. Karena yang pertama kali mikir dan nyebut soal titit itu gue, bukan Justice. Justice cuma bilang memandangi, gak pake titit-tititan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Catatan si Geges

Nama gue, Grace. Cakep banget ya namanya?
Lebih cakep daripada yang punya nama. Gue gak merendah kok, beneran enggak. 
Setelah gue baru lahir, yang pertama kali berpendapat kayak gitu adalah opung doli (ayahnya mama) gue sendiri. Waktu dia jenguk nyokap gue di rumah sakit. 
"Ri, siapa namanya kau kasih?" 
"Grace pak." 
"Grace?! Dari nama Grace Kelly? Gendut, besar berjambul kayak gini dikasih nama Grace?" 

Yah, begitulah kira-kira ceritanya. Nyokap gue mencoba membela diri, namun upayanya gagal. 

Blog ini gue buat tujuannya cuma menceritakan apa yang ada dalam otak gue. Ya otak gue, bukan celana dalam, walaupun bentuk keduanya rada mirip. Jadi kalau isinya aneh dan gak konsisten harap maklum. Otak gue memang lebih heboh dari beha pink neon berenda gue. 

Moga-moga blog ini gak bernasib kayak blog-blog gue sebelumnya. Digantungin dan gak digubris, kayak kolor butut yang dijemur terus gak diambil-ambil.