Selamat pagi Tuhan.
Bagaimana kabarMu? Aku di sini, di Bandung lebih tepatnya.
Ah, tapi tanpa perlu kuberi tahu, Kau sudah tahu semuanya tentang aku. Bahkan sampai hal yang aku tidak tahu.
Jadi mengapa aku memberi tahuMu?
Karena aku ingin basa-basi, ingin berbicara panjang, layaknya teman.
Maafkan aku jika Engkau merasa tidak sopan, tapi daripada berdoa dengan melipat tangan dan menutup mata, aku lebih suka seperti ini.
Aku lebih suka menulis seperti ini atau berbicara sendiri di dalam kamar, berbicara denganMu.
Tuhan, tidak sampai setengah jam yang lalu, 10 menit setelah aku terjaga dari tidurku, aku menerima sebuah berita yang mengejutkan. Yah Kau taulah.
Reaksiku?
Seperti biasa Tuhan, mencoba tenang, mencoba santai sambil mengunyah pepaya.
Kau kan tahu Tuhan, Mama pernah bilang, aku salah satu anaknya yang paling bisa menahan emosi di depan umum. Tapi jangan tanya kalau sendirian di kamar. Hahaha
Bagaimana menurutku?
Nah, itulah yang sebenarnya ingin kutanyakan padaMu. Apa tujuan semua ini?
Kalau boleh jujur sebentar tadi aku sempat panik dan bingung. Hanya saja ada satu hal yang tidak aku mengerti, ada satu hal yang belum aku pahami sepenuhnya.
Jauh di dalam hati ada perasaan, entah bagaimana, tenang. Ada sesuatu yang menenangkan hatiku.
Kau tau Tuhan? Aku belum mengerti bagaimana akhir dari semua ini, tapi yang aku mengerti bahwa ini adalah saatnya belajar untuk lebih berserah kepadaMu. Mungkin ke depannya akan ada saat keadaanku naik turun. Selama itu terjadi aku meminta tolong kepadaMu, maukah Engkau untuk tidak melepaskan tanganku sekalipun? Walaupun malah aku yang malah mencoba melepaskan tanganMu? Seperti anak yang mencoba melepaskan genggaman tangan orang tuanya.
Bahkan jika aku berada di titik terendahku? Seperti anak yang mulai rewel dan tidak mengerti maksud baik orang tuanya. Siapa lagi yang bisa kuandalkan selain Kau?
Tuhan.
Terima Kasih.
Untuk apa?
Untuk semuanya, segala hal. Aku menyayangiMu. Sungguh. Aku tahu aku nakal dan sering melupakan perkataanMu. Aku minta maaf dan berterima kasih karena Kau mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih atas kesetiaanMu. Terima kasih atas kasihMu. Terima kasih.
Aku menyayangimu.
:)
Rabu, 12 Februari 2014
Jumat, 07 Februari 2014
Is it okay to not cry?
"Ges, kamu kok gak nangis opungnya meninggal?"
Itu salah satu pertanyaan yang dilontarkan sekitar 7 atau 8 tahun lalu waktu opung doli, ayah bokap gue, meninggal. Dibandingkan dengan para sepupu gue yang nangis tersedu-sedu di sebelah peti mati opung, gue cuma berdiri mematung dan gak mengeluarkan sepatah katapun. Sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Must I cry?
Gue gak tau kenapa gue gak nangis, sementara seluruh keluarga gue wajahnya basah karena air mata. Jadinya sering disalahartikan kalau gue tidak sayang dan tidak merasa kehilangan. How did they know that? Is there any rule that obligate you to cry when you lose the one you love?
There are some people who can't express their feeling in public. They look so cold outside, but you'll never what lies beneath them. I'm one of them. Ketika di sekeliling gue pada nangis berjamaah, dan beberapa dari mereka meraung-meraung, yang bisa gue lakukan hanya diam dan..... diam.
Beberapa hari yang lalu, suami sepupunya nyokap gue, meninggal. Sesuai adat Batak, gue manggil dia uda (om). Ketika almarhum uda dibawa ke rumah dan dibaringkan di atas dipan, saudara-saudara kumpul di sekelilingnya sambil menangis dan bernyanyi lirih menyayangkan kepergiannya yang terlalu cepat.
Waktu itu gue mendampingi opung doli (kakek dari pihak ibu). And guess what? Gue melihat opung gue yang cuma diam mematung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Persis seperti apa yang gue lakukan. Gue tau sifat gue ini turun dari mana.
Di adat Batak, terutama yang menganut agama Kristen, acara adat untuk orang yang meninggal bisa memakan waktu tiga hari. Dua hari kemudian, gue datang lagi ke rumah almarhum uda untuk menjalankan acara adat. Opung gue, yang posisinya di keluarga Manurung paling tinggi, dipersilakan untuk mandok hata (berbicara). Gue bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Ngomong dengan penuh wibawa?
Tidak.
Ngomong singkat dan padat?
Juga tidak.
Jadi?
NANGIS SEKERAS-KERASNYA.
Kita tidak bisa menilai orang yang paling diam, tenang, berdiri di ujung sambil melipat tangan di suatu pemakaman adalah orang yang paling tidak berperasaan. Terkadang justru mereka yang paling terluka atau merasa paling kehilangan. We just don't know how to express it in public.
So, is it okay to not cry?
For me... Yes, it's okay.
Itu salah satu pertanyaan yang dilontarkan sekitar 7 atau 8 tahun lalu waktu opung doli, ayah bokap gue, meninggal. Dibandingkan dengan para sepupu gue yang nangis tersedu-sedu di sebelah peti mati opung, gue cuma berdiri mematung dan gak mengeluarkan sepatah katapun. Sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Must I cry?
Gue gak tau kenapa gue gak nangis, sementara seluruh keluarga gue wajahnya basah karena air mata. Jadinya sering disalahartikan kalau gue tidak sayang dan tidak merasa kehilangan. How did they know that? Is there any rule that obligate you to cry when you lose the one you love?
There are some people who can't express their feeling in public. They look so cold outside, but you'll never what lies beneath them. I'm one of them. Ketika di sekeliling gue pada nangis berjamaah, dan beberapa dari mereka meraung-meraung, yang bisa gue lakukan hanya diam dan..... diam.
Beberapa hari yang lalu, suami sepupunya nyokap gue, meninggal. Sesuai adat Batak, gue manggil dia uda (om). Ketika almarhum uda dibawa ke rumah dan dibaringkan di atas dipan, saudara-saudara kumpul di sekelilingnya sambil menangis dan bernyanyi lirih menyayangkan kepergiannya yang terlalu cepat.
Waktu itu gue mendampingi opung doli (kakek dari pihak ibu). And guess what? Gue melihat opung gue yang cuma diam mematung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Persis seperti apa yang gue lakukan. Gue tau sifat gue ini turun dari mana.
Di adat Batak, terutama yang menganut agama Kristen, acara adat untuk orang yang meninggal bisa memakan waktu tiga hari. Dua hari kemudian, gue datang lagi ke rumah almarhum uda untuk menjalankan acara adat. Opung gue, yang posisinya di keluarga Manurung paling tinggi, dipersilakan untuk mandok hata (berbicara). Gue bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Ngomong dengan penuh wibawa?
Tidak.
Ngomong singkat dan padat?
Juga tidak.
Jadi?
NANGIS SEKERAS-KERASNYA.
Kita tidak bisa menilai orang yang paling diam, tenang, berdiri di ujung sambil melipat tangan di suatu pemakaman adalah orang yang paling tidak berperasaan. Terkadang justru mereka yang paling terluka atau merasa paling kehilangan. We just don't know how to express it in public.
So, is it okay to not cry?
For me... Yes, it's okay.
Langganan:
Postingan (Atom)