Rabu, 23 Oktober 2013

5 Menit

Saling mengerti tanpa perlu berucap. Saling memahami tanpa berlu berkata. 
Lebih alami, lebih greget, lebih liar.
Katamu.
Menurutmu.

Tapi,
Bertukar kata juga tidak buruk kan? 
Bahkan jauh dari buruk.
Semakin mengenal satu sama lain.
Bagiku.
Menurutku.

Ah, bagaimana bisa? Kita bahkan belum bertukar sapa. 

Kamis, 26 September 2013

Sering Dibilang Gak Sopan

Di keluarga, gue dan adik-adik punya kebiasaan memanggil orang tua menggunakan nama mereka, tapi dalam konteks bercanda. Maksudnya? Kalau gue manggil bokap atau nyokap, selain menggunakan mama atau papa, gue juga boleh menggunakan "Ria" dan "Jopi" atau "Mama Ria" dan "Pak Jopi". Ya, Ria dan Jopi itu nama kedua orang tua gue.

Gak sopan? Tenang aja, situ bukan orang pertama yang beranggapan seperti itu.

Seingat gue sejak kecil banget, kira-kira sejak mulai lancar bicara, gue udah diperbolehkan memanggil nama mereka. Bahkan nama opung boru dan opung doli (nenek dan kakek) dari bokap. Kebiasaan ini membuat salah satu teman nyokap heran.
"Ri, kenapa anakmu diajarin manggil orang tua pake namanya?"
"Lah, kenapa? Justru bagus dong."
"Bagus dari mana?"
"Ya bagus, kalau nanti dia hilang, atau kesasar, dia bisa kasih tau nama orang tuanya yg lengkap. Bukan cuma bilang mamiku atau papiku."

Percakapan ini terjadi waktu gue masih umur 3 tahun, sebelum pindah ke Medan. Nyokap gue memang punya pola pikir yang berbeda dibandingkan orang lain. Menurut dia sopan atau tidaknya gue dan kedua adik gue gak bisa diukur hanya dengan bagaimana cara memanggil orang tua. Terlalu dangkal.

Kebiasaan ini sebenarnya hanya berlaku ketika sedang dalam situasi bercanda. Gue bersyukur punya orang tua yang selera humornya luar biasa tinggi. Gak jarang kebiasaan ini sering dipandang aneh sama orang lain. Salah satu contohnya waktu nyokap nelpon gue dan adik-adik yg lagi berenang.
"Halo, iya ma....."
"Jam berapa selesai berenang?"
"Paling ntar jam 7."
"Oh iya, mana Sammy (adik gue), aku mau bicara."
"Sammmmmm. Tante Ria mau bicaraaaaa."
 Yap! Gue juga sering manggil nyokap dengan sebutan tante kalo lagi iseng. Temen-temen gue, yang juga ikut berenang, saat itu bingung kenapa gue manggil nyokap dengan sebutan tante. Gue cuma bisa nyengir liat ekspresi mereka.

Pernah lagi kejadian waktu gue udah kuliah dan tiba-tiba nyokap telpon pas gue lagi jalan bareng teman.
"Halooooooouwwww."
"Halo, lagi ngapain?"
"Biasa, lagi jalan sama teman. Kenapa ma?"
"Enggak, cuma mau ngasih tau kalau kami lagi makan-makan enak di sini. Hehehehe." Oke, sekilas informasi, menurut gue Medan surga kuliner. Kalau nyokap lagi makan enak, berarti makanan itu luar biasaaaaaa enaknya!
"Jadi nelpon cuma buat ngasih tau itu?"
"Yoi. Ini lagi rame-rame makan enak"
"Sialaaaaannnnn dikau Riaaaaaa. Memang bener-benerlah ibu yang satu ini. Udah tau di sini makan cuma seadanya."
"Hahaha. Yaudahlah kalau gitu ya. Aku mau makan dulu. Daaahhhhh."

Setelah telpon ditutup, temen gue langsung nanya siapa itu Ria karena yang dia dengar gue lagi telponan sama nyokap. Gue langsung jelasin kalau Ria itu nyokap gue dan kebiasaan memanggil nama orang tua. Menurutnya kebiasaan itu aneh dan kedengaran gak sopan. Gue cuma nyengir dan entah kenapa bangga dibilang punya keluarga yang aneh.

Selama ini gue gak pernah peduli ketika orang negur atau ngatain gue gak sopan ketika melakukan itu. Karena apa? Karena orang tua gue juga menganggap itu biasa aja. Lucunya, kalau kita lagi dalam situasi atau konteks yang serius, gue dan adik-adik gak pernah memanggil mereka dengan menggunakan nama orang tua.

Berarti orang tua kalian gak becus dong ngajarin sopan santun?
Gue cuma bisa nyengir dengar kata-kata ini. Justru sebaliknya, ketika gue kecil, di satu waktu nyokap gue luar biasa keras dan gak segan-segan ngasih hukuman kalau anaknya salah. Sampai-sampai anak tetangga gue bilang nyokap gue galak. Cuma selesai dihukum, gak sampai setengah jam kami langsung bercanda lagi sambil ketawa bareng :). Di waktu yang lain nyokap gue bakalan santai banget. Dia bisa ketawa waktu tahu gue dihukum guru, sambil nyuruh menikmati hukumannya kalau memang benar gue yang salah.
"Ya sekali-sekali dihukum guru kan gak masalah. Biar ada yang bisa dikenang."

Mungkin terdengar subyektif, gak penting dan kelihatan mau muji diri sendiri, tapi berkat itu gue dan adik-adik menjadi tipe anak yang "tidak membiarkan orang tua bawa barang belanjaan ketika menemani mereka belanja." Itu juga berkat didikan nyokap yang awlnya mewajibkan kami membawa belanjaan dan akhirnya terbiasa. Nggak, memang gue dan adik-adik gue belum hebat-hebat banget. Cuma gitu doang. Hanya saja sampai sekarang gue suka heran dan sewot ngeliat anak yang melenggang sementara orang tuanya harus bawa seabrek-abrek belanjaan.

Lagi lagi dan lagi gue bersyukur tumbuh dalam keluarga yang punya selera humor tinggi dan berpikiran terbuka. Kebiasaan-kebiasaan seperti manggil nama orang tua, main pedang-pedangan pakai sapu sama bokap, iseng mencet-mencet hidung dan gelitikin telinga nyokap yang lagi tidur, nyelip tidur di antara bokap dan nyokap, ngubur bokap yang lagi tidur pake berlapis-lapis selimut dan bantal, saling membuat lelucon satu sama lain dan banyak kebiasaan 'aneh' lainnya  masih dilakukan sampai sekarang. Hal-hal seperti itu justru menjadi bentuk ungkapan kasih sayang satu sama lain. Apalagi kami tidak terbiasa mengumbar kata "aku sayang kamu" atau "aku mencintaimu".

Jadi, dengan kebiasaan gue itu, apakah gue tidak sopan?

Ini isi sms gue dan nyokap ketika gue lagi heboh skripsian.
Borjong itu kata dalam bahasa Batak yang artinya, kalau tidak salah, kunyuk dan opung boru artinya nenek.

Jumat, 20 September 2013

Lo Baru Sadar

Lo baru sadar udah lama gak baca-baca alkitab ketika minggu lalu di gereja lupa di mana letak kitab Yosua.
Lo baru sadar alasan suka minum kopi hitam pahit supaya hidup lo yang hambar terasa lebih manis.
Lo baru sadar bertambah tua itu menyebalkan setelah dimarahi satpam karena masuk ke trolley supermarket.
Lo baru sadar (dan bersyukur) punya dua adik yang baik setelah mendengar berbagai keluhan teman tentang kelakuan adik mereka.
Lo baru sadar (dan bersyukur) punya keluarga yang sinting ketika sekitar menganggap ganjil kebiasaan 'boleh memanggil orang tua dengan namanya ketika sedang bercanda'.
Lo baru sadar lo bukan anak gaul, seperti kata teman lo, karena gak punya akun path dan akun line terbengkalai.
Lo baru sadar ternyata tujuan merapatkan kedua tangan waktu difoto supaya toket kelihatan lebih gede dan belahannya lebih menantang.
Lo baru sadar kalau pria di samping lo cukup manis, sayang bawa monyet.
Lo baru sadar kopi yang dipesan udah dingin.
Lo baru sadar cuma lo yang datang dan duduk sendirian di sini.
Lo baru sadar kalo tulisan ini buah dari kesepian.
Lo baru sadar sampai akhir tulisan ini pun rasa sepi itu belum juga hilang.

Rabu, 04 September 2013

Ucapan Nyokap dan Kelompok Kecil

Tadi siang gue baru makan siang bareng vivi, niar dan ka Joan, kelompok kecil gue. Percakapan sebelum, sambil dan setelah makan tadi sangat-sangat membantu menjawab pertanyaan "Mau jadi apa gue setelah lulus kuliah?".

Berawal dari curhatan vivi yang bingung menentukan langkah ke depan yang harus dia ambil. Pertanyaan semacam apakah harus pindah dari pekerjaannya atau tidak. Ya semacam itulah. Dikarenakan kelompok kecil ini merupakan kelompok persekutuan, tentunya omongan soal 'masa depan' ini terkait dengan sesuai atau tidak dengan kehendak Tuhan.

Menurut gue, salah satu masalah yang dihadapi hampir semua mahasiswa yang baru lulus adalah memilih langkah selanjutnya. Apakah mau lanjut sekolah, itu juga milih sekolah di mana, apakah mau kerja, itu juga milih mau kerja apa, atau pilihan lain seperti mau liburan dulu atau mau santai-santai dulu.

Hal yang buat susah menentukan langkah selanjutnya yaitu karena ada berbagai pihak yang ingin 'dibuat senang'. Setiap pilihan selalu dihitung-hitung dengan 'apakah membuat gue senang', 'apakah orang tua gue setuju', 'apa nanti kata orang sekitar', dan sebagainya. Apalagi beban ini menurut gue semakin berat buat orang-orang yang lulus dari 'universitas ternama'. Lo tau kan cibiran-cibiran seperti 'Masa lulusan ini kerjanya gitu?" atau "Masa anak universitas xx belum dapat kerja juga?".

Sekarang gue juga sedang menghadapi masa itu. Bingung mempersiapkan jawaban dari pertanyaan apa yang akan gue lakukan setelah wisuda. Akhirnya ada kata-kata ka Joan yang walaupun bukan situjukan ke gue, tapi ngena banget.

"Kalau gitu, coba lo cari tahu apa kehendak Tuhan. Kasih deadline sekitar sebulan untuk tahu apa yang terbaik buat lo. Jangan pikirkan apa kata sekitar atau apa keinginan orang tua dulu. Karena pada akhirnya lo sendiri yang menjalani semua itu."

Ah ya, gue lupa belum coba tanya sama Tuhan. Ya, gue sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan menganggap kata-kata kak Joan itu sangat pas buat gue. Tiba-tiba gue jadi rindu sama Tuhan. Lo tahu kan perasaan rindu ingin menghubungi seseorang yang dulu sangat dekat sama lo, tapi karena satu dan lain hal hubungan lo menjauh? Ya, akhir-akhir ini gue sempat menjauh dari Dia dan gue jadi sekangen itu berkomunikasi denganNya.

Sebelumnya nyokap juga pernah bilang ke gue, setelah berkali-kali gue menolak ajakan ikut seleksi masuk PNS,

"Sekarang kau harus tentukan sikap. Kalau mau langsung kerja, maka cari. Kalau mau lanjut sekolah, ya persiapkan dirimu! Kalau kau mau nyari beasiswa sambil kerja juga bisa. Yang penting kau harus tentukan sikap!"

Dibalik sikap keras nyokap, gue menangkap ada tanda persetujuan untuk setiap keputusan yang gue ambil. Gue tahu, menyenangkan hati dan membuat bangga orang tua dan kakek nenek merupakan perbuatan yang baik. Tapi pada akhirnya kita tidak bisa menyenangkan setiap orang kan? Pada akhirnya juga gue sendirilah yang menjalani semuanya. Oleh karena itu, perkataan nyokap benar-benar melegakan hati dan membantu gue, dengan catatan gue harus sepenuhnya bertanggung jawab dan bekerja keras terhadap langkah yang gue ambil. 

Akhir kata, gue sangat senang dan merasa ini merupakan 'campur tangan Tuhan' membantu gue, yang udah jarang berkomunikasi dengan Dia, memutuskan langkah apa yang harus gue ambil. Makasih banyak Bapa. Seperti kata Sudjiwo Tedjo, Kau itu memang Maha Asyik.



Senin, 02 September 2013

Kalau kepalamu gak nempel di leher

Gue punya penyakit lupa yang lumayan nyusahin. Lupa bawa sesuatulah, lupa naruh barang atau lupa balas sms. Lo tau kan tipe orang yang baru balas sms tiga, empat atau 12 jam kemudian alasannya karena lupa? Nah itu gue.

Sekitar empat hari yang lalu, setelah gladi resik wisuda, penyakit lupa gue kambuh lagi. Waktu itu gue, Dila dan Mocil memutuskan buat makan malam di takor, setelah GR selesai. Itung-itung hemat, daripada makan di perpus pusat yang harganya dua kali lipat tapi porsinya lebih sedikit. Sampai di takor, karena capek, keringetan, haus dan kelaparan bergabung jadi satu, semua barang yang dibawa diletakin asal (baca: dicampakin) gitu aja di atas meja. Singkat cerita, selesai makan kita bertiga buru-buru balik karena masing-masing udah pada punya janji ketemu sama orang lain. Barang yang diletakin di atas meja gue samber gitu aja tanpa lihat-lihat lagi.

Dari takor gue langsung menuju margo, janjian makan malam (lagi) bareng orang tua. Iya, gue memang melihara naga di perut. Pokoknya sesampainya di sana penampilan gue luar biasa ajrut-ajrutan. Gue masih pake dress brokat warna ungu-merah muda meriah dipadu sama sendal jepit, tangan kiri gue nenteng plastik kresek isi toga, napas gue ngos-ngosan dan makeup gue udah gak berbentuk lagi. Belum lagi gue harus keliling margo nyari mak bapak gue karena hape mati. Gue persis calon pengantin habis kabur, kayak Julia Roberts di Runaway Bride. Bedanya dia bawa bunga, gue bawa kantong kresek. Dia kabur naik kuda, gue kabur naik angkot. Dia kabur berapa kali pun tetap aja ada yang mau nikahin, gue punya pacar aja belum. Okesip gak ada persis-persisnya sama sekali. Malah miris.

Selesai makan malam, gue balik ke kosan, mak bapak gue balik nginap di rumah saudara gara-gara penginapan pada penuh. Di kosan, gue bongkar-bongkar lagi tuh kresek buat persiapan wisuda besok, dan ENG ING ENG! Sepatu dan pita toga gue gak ada. Gue ubek-ubek sampai koyak juga tetap gak ketemu. Gue langsung panik, apalagi pitanya mau dipake wisuda besok dan sepatunya baru dipake sehari. Gue langsung telpon mocil buat nanyain mas min, barang gue ada ketinggalan atau gak di takor. Hasilnya nihil. Mau gak mau gue pinjem pita ke Melin yang lulus semester lalu. Ecieee lulus 3,5 tahun. Halah. Untung dia masih nyimpen dan belum sempat dipinjemin ke orang lain. Gak pake babibu lagi gue langsung ke kosan dia ngambil pitanya. Sepatu yang baru dipake sehari gue ikhlasin aja.

Besok paginya jam 6 tiba-tiba Mocil sms gue, katanya jam 5 pagi mas min nemu barang-barang gue di takor. Hidup mas Min! Mas min penyelamat wisuda. Mas min penyelamat sepatu baru. Mas min penyelamat hati saya yang gak ikhlas-ikhlas amat kehilangan sepatu. Mas min mas min mas min oye! Pagi-pagi banget gue langsung ke takor jemput barang-barangnya yang disambut dengan senyuman manis campur geli mas min. Pokoknya barang-barang gue balik tanpa kerusakan apapun. Sepanjang jalan gue memarahi diri sendiri supaya gak terlalu serampangan naruh barang. Mungkin orang yang waktu itu ngeliat nyangka gue gila karena ngomel-ngomel sendiri gak karuan.

Besoknya, jam 6 pagi, gue, nyokap dan bokap udah di stasiun senen mau berangkat ke Semarang. Ternyata aksi memarahi diri sendiri gak mempan buat mengobati kebiasaan gue. Waktu bokap minta KTP gue buat check-in, ternyata dompet gue gak ada di dalam tas. Alhasil pagi-pagi, di stasiun, gue udah brak-brik-bruk gak jelas ngeluarin semua isi tas gue yang seabrek-abrek itu, di bawah pelototan nyokap dan bokap. Sisa waktu check-in udah tinggal 45 menit lagi, kalau dompet gue memang tinggal di Depok, matilah gue digantung nyokap. Gue udah bingung mau nyari-nyari alasan apa kalau itu dompet bener-bener tinggal. Mau pura-pura ayan gak mungkin. Mau pura-pura gila sambil buka baju juga percuma, yang ada dada rata gue malah diketawain. Mau kesurupan arwah hewan takut garing, gue bisanya cuma niru suara babi. Gak ada keren-kerennya.

Bokap gue makin gak sabar, nyokap gue apalagi. Sebelum nyokap gue bersiap-siap marah, gue iseng ngebongkar isi ransel gue, walaupun gue gak yakin-yakin amat ada di situ. Ternyata. tuh dompet ada di bagian paling dalam ransel. Gue cuma bisa nyengir, gak inget kapan pernah masukin itu. Nyokap gue cuma bisa ngejitak gue, sekalian meriksa isi kepala gue.

Nyokap gue takut kejadian beberapa tahun lalu keulang lagi. Waktu bokap sama nyokap pergi ke kampung halaman buat ngehadirin pesta saudara dekat, ternyata tas berisi kebaya dan jas bokap lupa gue masukin mobil. Alhasil sampai sana bokap nyokap gue pinjam baju sambil ngomel-ngomel di telepon. Sampai rumah gue diomelin habis-habisan. Cuma sampai sekarang gue suka geli inget kejadian itu.

Setelah diomelin habis-habisan, bokap gue menutup semua omelan dengan satu kalimat yang masih gue ingat sampai saat ini.
"Kurasa, kalau kepalamu gak nempel di leher, pasti kau bakalan lupa di mana kau letakin kepalamu itu!"

Untungnya sampai sekarang masih nempel.

Kamis, 29 Agustus 2013

Perempuan itu (2)

Sudah dua bulan berlalu, memerhatikan perempuan itu setiap pulang kerja menjadi sebuah candu baginya. Dia tidak tahu perempuan itu sadar atau tidak akan keberadaannya, tetapi sebisa mungkin dia melakukan semuanya dengan tidak mencolok.

Terkadang dia hanya lewat sepintas di depan toko dan melihat sekilas perempuan itu. Di lain kesempatan, dia akan duduk selama setengah jam atau lebih di cafe depan toko. Agar tidak terlalu kentara dia membuka laptopnya agar terlihat sibuk, walau matanya lebih lama menatap perempuan itu daripada layar. Semua dia lakukan agar tidak disangka sebagai seorang penguntit. Dia takut rutinitasnya ini mengundang salah paham. Padahal yang dia lakukan hanya mengagumi keindahan seorang perempuan, dari jauh.

Sampai saat ini dia masih belum berani mendekati perempuan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang setiap dia berusaha memasuki toko itu. Tangannya berkeringat dingin dan dia hanya bisa mematung di depan pintu. Setiap itu terjadi, dia memutuskan untuk berbalik arah dan pulang ke rumah. Dia belum berani untuk menghampiri langsung perempuan itu. Dia takut lidahnya kelu dan gagapnya kumat jika berada di depan perempuan itu. Dia malu.

Hari itu, setelah puas melihat sekilas ke toko, dia berpikir, mau sampai kapan? Mau sampai kapan dia hanya bisa melihat dari jauh? Sementara dia mulai merasakan ada sebuah tuntutan yang semakin besar dari dalam dirinya. Dia mulai menyadari bahwa dia menginginkan lebih dan lebih lagi. Tidak hanya mencuri pandang. Tidak hanya melihat. Tidak hanya memerhatikan dari jauh. Dia mau lebih dari itu.

Semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya. Dorongan itu terlalu kuat dan tidak bisa dikendalikan. Ada rasa panas di dadanya yang membuat dia terjaga semalaman. Dia tidak sabar menunggu munculnya surya. Seperti ada sebuah motor raksasa yang menggerakkan keberaniannya. Dia telah menetapkan hatinya. Dia akan memenuhi tuntutan itu.

Dia mau lebih dan dia akan mendapatkan lebih.

Mama gak perlu jadi temanku

Mama cukup jadi mama, tidak perlu berusaha jadi temanku.
Mama cukup jadi mama, tidak perlu memposisikan dirimu jadi temanku.
Segala hal yang bisa dilakukan seorang teman sudah pasti bisa mama lakukan, tapi tidak seorang pun teman yang bisa melakukan segala hal dengan baik seperti yang kau lakukan.
Aku bisa cari dua, tiga atau sepuluh teman di luaran sana, tapi tidak mungkin mencari sosok ibu selain mama.
Jangan turunkan posisimu dengan menjadi temanku. Jangan rendahkan dirimu demi mendapatkan gelar 'teman' dari diriku. 
Jadi mama cukup jadi mama. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

*Kata-kata ini pernah gue ucapkan langsung ke nyokap and she loved it. 

Selasa, 27 Agustus 2013

Perempuan itu (1)

Setiap hari dia melewati toko itu hanya untuk melihat pujaan hatinya.
"Dia sungguh indah", pikirnya dalam hati.
Sepanjang hidupnya dia belum pernah menemukan perempuan yang bisa menarik perhatiannya.
Pertama kali dia melihatnya seminggu yang lalu, perempuan itu sedang berdiri di dalam tokonya, menggunakan gaun musim panas berwarna putih sepanjang lutut. Belahannya yang rendah menunjukkan lehernya yang jenjang. Gaun itu sesuai dengan cuaca yang saat itu sangat panas. Dia tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. Senyumannya membuat lelaki itu tersipu malu, walaupun bukan ditujukan kepadanya.
Lelaki itu pulang dengan gembira, berharap esok hari akan bertemu kembali.

Keesokan harinya, lelaki itu pulang lebih larut dari tempat kerjanya. Terlalu banyak yang harus diselesaikan. Tangan kecil jamnya menunjuk ke arah angka 10. Toko itu sudah tutup. Dia pulang dengan sedih sambil berharap.  "Masih ada esok hari", pikirnya.

Esoknya, lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya, yang ada di dalam pikirannya. Setiap hari di pikirannya hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang melewati toko tersebut. Jantungnya berdegup kencang setiap dia hampir sampai toko tersebut.

30 meter lagi
20 meter
10 meter

Deg!

Kali ini perempuan itu memakai gaun musim panas berwarna biru langit dengan pola bunga-bunga kecil bewarna putih. Serasi dengan kulitnya yang pucat.

Pria itu memutuskan untuk melihatnya melalui cafe di seberang toko. Masih ada satu jam lagi sebelum toko ditutup, pikirnya. Dia tidak memilih meja di luar, tetapi di dalam yang sedikit menghadap ke arah toko. Dia takut terlalu mencolok.

Melalui balik kaca cafe, dia memandang perempuan itu sambil menyesap americano double shot espresso tanpa gulanya. Lidahnya seakan tidak merasakan pahit. Seluruh konsentrasinya terpusat pada indera penglihatannya.
Dia menatap setiap jengkal tubuh perempuan itu, sambil memuji setiap bagiannya di dalam hati. Sempurna, terlalu sempurna.

Waktu menunjukkan angka sembilan, toko mulai sepi dan hanya ada 3 pelanggan, tetapi perempuan itu tidak menunjukkan rasa kelelahan. Dia tetap tersenyum kepada pelanggan yang masih mencari barang kebutuhannya. Pria itu lalu memutuskan untuk pulang dan tidak menunggu sampai toko itu tutup. Dia harus mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat esok hari. Sepanjang perjalanan menuju rumah, pria itu tak henti-hentinya berdendang. Belum pernah dia merasa sebahagia itu.
Dia tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu tidur dan bertemu perempuan itu lagi keesokan harinya. Di dalam pikirannya hanya ada dia, dia dan dia...

Kupu-kupu

Beri satu alasan kenapa aku harus melakukan itu?”

Kedua alisku berkerut memikirkan alasan yang tepat. Jika sekali saja yang kuutarakan tidak sesuai dengan hatinya, maka alasan apapun yang mendukung tidak akan menggoyahkan keteguhannya. Tapi tiba-tiba, belum sempat aku berbicara, dia sudah tertawa.

“You look so funny. Kamu gak perlu capek-capek nyari alasan yang tepat. Cukup bilang ‘tanpa alasan’ mungkin aku bakalan setuju.”, katanya sambil tertawa memamerkan satu lesung pipitnya yang manis.
“Maksudnya?”
"Well, you know. Terkadang tanpa alasan merupakan alasan terbaik melakukan sesuatu. Terutama cinta, justru semakin indah ketika kamu melakukannya tanpa alasan.”, jawabnya sambil menatap lekat-lekat kedua mataku. Mata itu seperti samudra. Sangat dalam, sehingga aku tidak bisa menebak isinya, tetapi memikat, sampai aku rela terseret ombaknya. “Indah..” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut kembali oleh kedua mata itu.

Saat itu kami sedang duduk di beranda rumahku. Tiba-tiba hujan deras turun, membuatku memindahkan posisi dudukku jauh ke dalam agar tidak terkena rintikan hujan. Sementara dia bergeming, tetap bersandar di salah satu pilar, menutup kedua matanya dan mengarahkan wajahnya ke arah hujan. Percikan-percikan air hujan yang terbawa angin mulai membasahi wajahnya. Dia menikmati tiap tetesnya sambil tersenyum dan berdendang, mulai hanyut dalam dunianya sendiri.

Kupu-kupu yang lucu 
Ke mana engkau terbang 

Lagunya tidak sesuai dengan cuaca saat itu. Mana ada kupu-kupu yang terbang ketika hujan deras. Tetapi dia tidak peduli. Dia tetap melanjutkan nyanyiannya sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan kiri, seakan mengikuti alur terbang kupu-kupu.

Hilir mudik mencari 
Bunga-bunga yang kembang 

Aku mulai memandangi tiap jengkal tubuhnya. Ada yang bergemuruh di dalam dada, rasa rindu yang ingin menyeruak. Rambutnya hitam lebat sebahu. Aku masih ingat aroma mawar setiap dia tertidur di bahuku. Bibirnya yang mungil dan tebal, basah terkena air hujan. Aku masih ingat bagaimana dia menjilat sisa-sisa susu yang selalu menempel di pinggirnya.

Berayun-ayun 
Pada tangkai yang lemah 

Rambutnya disibakkan ke sebelah kiri, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu disemprotkan parfum. Lagi-lagi beraroma mawar, misterius dan mengundang. Dia tahu, gairahku selalu meningkat setiap mencium aroma itu. Jari-jarinya mungil dan lentik, dengan kukunya yang diwarnai biru langit. Terlihat kontras tapi serasi dengan warna kulitnya yang tidak terlalu putih. Tangan yang dulu selalu kuggenggam dengan hati-hati, takut meremukkannya jika menggenggam terlalu keras. Tangannya yang dingin, membuatku enggan melepaskannya agar tetap hangat.

Tidakkah sayapmu merasa lelah

Tubuh mungilnya tidak sesuai dengan energinya yang tak pernah habis. Wajahnya yang lembut tidak menggambarkan keteguhan hatinya. Dibalik penampilannya yang rapuh tersembunyi sosok yang keras bagai batu karang. Sosok yang terus membuatku jatuh, sehingga dia menjadi pusat gravitasiku dimanapun aku berada.

"Kamu belum jawab pertanyaanku”, katanya tiba-tiba sambil tersenyum. Sebuah senyum miring yang memikat.
“Masih perlu dijawab?”
“Tergantung seberapa besar keinginanmu.”
“Seberapa besarpun keinginanku sepertinyanya gak akan pernah cukup.”
"Yah, mungkin. Kamu tahu? kupu-kupu itu indah justru ketika dia terbang dengan bebas, bukan waktu dia di dalam kaca. Kepakan sayapnya seakan membalas goyangan daun yang menyapanya. Warnanya justru semakin indah ketika dia hilir mudik di tengah-tengah bunga. “

Dia benar, pikirku. Sudah tujuh tahun aku mengenalnya. Kepribadian kami bagai langit dan bumi, tapi justru saling melengkapi. Aku yang memiliki pembawaan tenang merasa nyaman dengannya yang tidak bisa diam. Aku yang pendiam menikmati peranku jadi pendengar setiap ceritanya yang seakan tidak pernah habis. Aku yang lebih senang di rumah merasa menemukan dunia baru ketika mengikutinya. Dia memiliki jiwa yang bebas. Tidak ada satupun yang dapat mengekang langkahnya. Harinya diisi dengan berbagai hal baru. Jiwanya dipenuhi rasa penasaran dan haus dengan berbagai pengalaman. Kata petualangan seakan mengalir di dalam darahnya. Makin lama aku semakin tidak mampu mengikutinya. 

Sesekali dia akan beristirahat dan memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Tapi tidak pernah lama dan tak mungkin bertahan lama. Rasa bosan akan segera menghampirinya. Dia kembali pergi mengunjungi berbagai yang menarik hatinya.

“Ya, keindahan kupu-kupu itulah yang selama ini menarik hatiku.”, jawabku setelah sekian lama kami terdiam.

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Dia mendekatiku, menatapku dengan tajam, membuatku beku seketika. Tangannya membelai rambutku, kemudian turun ke pipiku.
“Sejauh apa dia menarik hatimu?”, tanyanya sambil terus membelai pipiku. “Sangat jauh. Bahkan terlalu jauh. Keindahannya membuatku selalu mengikutinya. Sampai aku lelah, sampai aku memutuskan untuk berhenti dan mencoba menangkapnya. Membawanya ke rumah dan menikmati keindahannya”, jawabku.
“Ketika kupu-kupu itu ditangkap keindahannya akan hilang saat itu juga.”, jawabnya. Kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Menghentikanku untuk membalas perkataannya lebih jauh. Seperti ada aliran listrik mengaliri tubuhku. Aku membalas ciumannya. Di tengah hujan deras kami bercumbu. Kepalaku terus-menerus menyuruhku untuk berhenti, tapi dorongan dalam dada mendorongku untuk semakin merengkuh tubuhnya. Aku memeluknya sepuasku, merasakan setiap inci tubuhnya. Malam itu kuhabiskan dengannya. Rindu yang tertahan selama ini kulampiaskan semua.

---

Keesokan harinya, seperti biasa, kupu-kupuku terbang lagi. Ternyata alasan ‘tanpa alasan’ tidak cukup. Sebesar apapun keinginanku juga tidak akan pernah cukup untuk membuatnya tinggal. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Kupu-kupuku terlihat lebih indah ketika terbang daripada diam di dalam kaca. Dengan sayapnya yang rapuh namun indah dia pergi lagi, tanpa lelah, meninggalkanku dan cinta yang dia tanam sejak tujuh tahun lalu.

Tidak sempat

Ibuku tidak mencintaiku.
Aku tumbuh dengan anggapan itu selama hampir empat puluh tahun. Sejak kecil tidak ada peluk mesra atau ucapan bangga. Setiap hari hanya kritikan dan perintah untuk menjadi lebih baik, seperti kakakku. 

Membandingkan kami berdua sudah menjadi kebiasaan ibuku. Tidak seperti kakakku, aku tidak pintar, tidak gaul dan tidak berprestasi. Tidak pernah ada pelukan atau ucapan sayang. Bahkan tidak ada kata aku mencintaimu dan menyayangimu yang pernah keluar darinya. 

Orang bilang cinta pertama kali dirasakan di rumah, di dalam keluarga. Di mana kau dicintai apa adanya. Aku tidak menemukan itu. Aku tidak merasakan cinta itu. Aku menganggap bahwa ibuku tidak mencintaiku, sekalipun atau sedikitpun. Lulus sekolah aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Mencari sebuah kebebasan, sebuah penerimaan dan cinta.

---
Malam hari setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku menerima telepon dari kakakku. Tumben, pikirku. 

“Halo, dek. Aku ganggu gak telepon kamu malam-malam begini?”, suaranya terasa canggung. 
“Gak papa.” 
“Gimana kabarmu?” 
“Baik.” 
“Kemarin aku ditelpon ibu. Katanya dia susah sekali menghubungi kamu.” 
"Aku sibuk.” Hening sementara. 
"Gini, kemarin ibu bilang akhir minggu ini dia mau nginap di rumahmu. Kasihan ibu gak ada teman” 
“Aku tau tapi gak bisa”, jawabku dingin. Tidak akan pernah bisa, batinku. 
“Kamu masih marah sama ibu? Mau sampe kapan? Kamu gak capek hidup kayak gitu?” 
Aku hanya bisa diam. 
"Bagaimanapun dia itu tetap ibu kita. Ibumu”, dia menekankan suaranya di bagian akhir. 
“Di akta kelahiran”, jawabku cepat. 
“Gak ada gunanya menyimpan dendam seumur hidup. Ibu sudah tua, gak ada salahnya kan kamu menuruti keinginannyamenginap di tempatmu sebentar?” 
“Justru salah. Salah besar.” 
“Mungkin ini terakhir kalinya kamu bertemu ibu”, jawabnya. “Tidak ada salahnya memberi kesempatan. Suatu hari kita akan menyesal karena hal-hal yang tidak kita lakukan.” 
“Terserah”, ucapku cepat sambil menutup telepon. Tanpa pikir panjang aku  menjawab asal karena tidak ingin melanjutkan perdebatan. Sepanjang malam aku mengutuki diri sendiri.

---

Jumat sore aku menjemput ibuku di bandara. Hampir sepuluh tahun aku tidak melihatnya, sejak pemakaman ayah. Saat itu aku memutuskan untuk sibuk menerima tamu yang berbelasungkawa. Lebih baik begitu daripada harus berada di samping ibuku. 

Deg! 

Aku melihat ibuku keluar dari pintu terminal kedatangan. Ada perasaan aneh ketika aku melihatnya lagi. Dia tampak lebih kurus dan rapuh. Tidak seperti yang kubayangkan selama ini, sosok yang tinggi dan menakutkan. Rambutnya yang dulu hitam lebat sebagian besar telah memutih. Wajahnya yang dulu keras dengan tulang pipi yang tinggi dan tegas tampak melembut. Walaupun menjelang 70 tapi kecantikannya masih terlihat. Dia memakai setelan merah tua. Tangan kanannya menenteng tas bewarna senada dengan sepatunya. Sementara tangannya yang lain menarik koper bewarna kelabu. Dia tersenyum melihatku. Hangat.

Aku menghampirinya untuk membantu membawakan kopernya. Tanpa pelukan, ciuman dan basa-basi menanyakan kabar satu sama lain kami menuju mobilku. Selama perjalanan, kami lebih banyak diam. Sesekali dia bertanya mengenai pekerjaanku. Semuanya kujawab dengan singkat tanpa balik bertanya. Sesampainya di rumah, dia mengernyit. Dia terlihat tidak suka dengan pilihan warna dinding rumahku dan perabotannya.

Ya, aku memilih pewarna yang memang tidak disukai ibuku. Setiap pilihan yang kubuat di hidupku memang tidak pernah sesuai dengan keinginan ibuku. Aku seorang pelukis. Pekerjaan yang dianggap ibuku tidak menjamin masa depan. Aku juga memutuskan untuk tidak menikah. Suatu hal yang sering disebut ibuku sebagai penyakit perempuan masa kini. Dia terlihat ingin berkomentar, namun mengurungkan niatnya. 

Aku kemudian mengantarkan dia ke kamarnya dan meninggalkannya untuk menyiapkan makan malam. Ketika makan malam, rasa canggung memenuhi seluruh ruang makan, sesekali diselingi suara sendok dan garpu yang beradu. Perasaan tidak nyaman membuatku cepat-cepat menyelesaikan makan malam. Selesai makan aku bergegas merapikan meja dan melanjutkan pekerjaanku. “Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja.”, kataku sambil meninggalkannya menonton TV di ruang tengah.

---

Perasaanku berkecamuk ketika melanjutkan pekerjaanku. Pikiranku buntu dan tanganku tidak mau diajak bekerja sama. Aku memikirkan kecanggungan yang akan kuhadapi selama dua hari ke depan. Tiba-tiba pintu ruang kerjaku terbuka. Ibuku masuk sambil membawa dua mug cokelat hangat. 

“Ibu butuh sesuatu?”, jawabku sambil pura-pura melanjutkan lukisanku, sesekali melirik ke arahnya berusaha tidak melihat matanya. Dia memberikan salah satu mug kemudian menyeret satu kursi untuk diduduki di dekatku. 
"Ibu butuh bicara samamu.”, katanya. 
“Tapi aku lagi kerja”, kataku sambil meletakkan minumanku ke bawah kursiku. 
“Kamu cukup mendengar, sambil melanjutkan lukisanmu. Tidak perlu ditanggapi jika kau tak mau.” 
Aku mencoba melanjutkan kembali pekerjaanku.
“Ibu minta maaf... “
Aku sempat menghentikan kegiatanku, lalu pura-pura melanjutkannya seakan tidak peduli. 
“Selama 40 tahun ini ibu telah salah memperlakukanmu. Ibu punya berbagai alasan untuk setiap kesalahan yang ibu lakukan. Tapi ibu tahu, alasan apapun tidak dapat membenarkannya.” 
Aku berbalik dan menatap lekat-lekat matanya. Warnanya cokelat muda, persis sepertiku. 
“Aku telah melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Menganggapmu sebagai penghalang. Menyia-nyiakanmu yang seharusnya merupakan anugerah bagiku” 

Ibuku memang seorang yang berjiwa bebas, tidak ingin terikat dan perfeksionis. Menurutnya memiliki anak sudah cukup membuatnya terkekang setelah memutuskan untuk menikah muda. Namun punya satu anak yang sempurna seperti kakakku masih bisa dia terima. Dia berencana untuk kembali menyusun mimpinya. Tapi aku, muncul tanpa rencana. Kemunculanku dan kekuranganku menghancurkan susunan mimpinya dan dianggap sebagai sebuah kesalahan yang besar. 

“Ibu tahu kata maaf tidak akan cukup untuk mengobati lukamu. Kata maaf juga tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap seperti sihir ibu peri. Memaafkan dengan sepenuh hati membutuhkan waktu.” 

Ada perasaan tulus yang keluar dari kata-katanya. Aku hanya bisa terdiam sambil memandang keriput di wajahnya. Terakhir bertemu keriputnya tidak sebanyak ini. Matanya juga tampak lelah, walaupun sinarnya masih dapat membuatku membisu. Sejak kapan ibu yang selama ini tampak kuat terlihat rapuh seperti ini? 

“Ibu udah selesai? Aku mau lanjut bekerja.”, kataku dingin memotong keheningan yang sempat tercipta. 
"Sudah”, kata ibuku pelan. Dia lalu memegang bahuku dari belakang kemudian pergi meninggalkan ruangan. Perasaan haus langsung melandaku. Cepat-cepat kutenggak cokelat tadi sampai habis. Jantungku berdegup kencang dan keringat mengalir dari dahiku. Aku memutuskan menyudahi pekerjaanku dan kembali ke kamarku. Aku mencoba memejamkan mata, namun sulit. Setiap kata masih teringat jelas dan sentuhannya masih terasa. Aku baru tertidur menjelang subuh karena kelelahan menghadapi perasaanku sendiri.

---

Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Ibuku telah menyiapkan sarapan pagi. Suka atau tidak suka mengakuinya, masakan ibuku memang sangat enak. Setelah sarapan aku memutuskan berjalan-jalan ke taman di dekat rumah bersamanya.

Saat itu cuacanya sejuk. Aku dan ibu duduk di bangku di bawah pohon. Dia menanyakan alasanku mengapa memutuskan tidak menikah. Aku menjawab belum menemukan cinta yang selama ini aku cari. Lalu aku menanyakan bagaimana masa mudanya. 

“Masa mudaku? Sama sepertimu. Umur 17 tahun aku bertengkar dengan ayahku dan memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari kebebasan. Selama tiga tahun aku hidup tidak menentu. Bekerja apa saja demi memenuhi kebutuhanku. Bahkan aku pernah mengalami pelecehan seksual. Aku sempat menyesal dengan keputusa yang kuambil, tapi aku terlalu keras kepala saat itu. Terlalu malu untuk kembali ke orang tuaku, harga diriku tidak mengizinkanku melakukannya. Mau tidak mau aku harus melanjutkan hidupku, sesakit apapun itu.", dia berhenti sebentar. Matanya menerawang. 

"Lalu, di saat aku tidak punya apa-apa lagi, aku bertemu ayahmu. Dia pria yang sangat baik, bahkan terlalu baik. Di dalam dirinya aku menemukan rasa aman. Pada akhirnya aku menerimanya tanpa rasa cinta, tidak sanggup menolak ketulusannya. Lagipula saat itu yang kubutuhkan bukanlah cinta, tapi tempat berlindung dan kepastian dapat melanjutkan hidup." 
"Apakah sampai ayah meninggal kau tetap tidak benar-benar mencintainya?" 
"Jika iya, aku tidak akan mendampinginya sampai akhir hayatnya."
Setelah itu aku dan dia terdiam selama beberapa menit. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku sambil tersenyum, “Kau tahu? Sekarang aku tahu dari mana datangnya sifat keras kepala dan tangguhmu itu ketika menghadapiku selama bertahun-tahun.”

Deg! 

Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Sinar mata itu dulu sering kulihat, tapi tidak pernah ditujukan kepadaku. Mata yang mengandung rasa bangga dan sayang. Dia lalu menggenggam tanganku sambil melihat ke arah langit senja. 

Malam itu di rumah aku dan dia berbicara hingga subuh. Lebih tepatnya dia yang paling banyak bercerita. Aku hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan singkat. Dia menceritakan berbagai hal seakan tidak ada lain waktu untuk melakukannya. Diam-diam ada perasaan hormat yang muncul dalam diriku kepadanya. Saat itu, tanpa kusadari, perasaanku semakin melembut. 

---

Keesokan siangnya aku mengantarkan ibuku ke bandara. Pesawatnya berangkat dua jam lagi. Kami memutuskan untuk minum teh sebentar sambil menunggu. Kali itu kami hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kami menikmati teh masing-masing dan sesekali memandangi satu sama lain. Kadang-kadang terselip senyum dari kedua bibir kami. 

Tiba saatnya ibuku harus masuk ke ruang tunggu. Di depan pintu dia memelukku dengan erat. Belum sempat aku lepas dari keterkejutanku dan memeluknya balik, dia sudah melepaskan pelukannya. Lalu dia masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku langsung balik menuju mobilku, kembali ke rumah, kembali ke kesibukan semula....

---

Itu terakhir kalinya aku melihat ibuku. Seminggu kemudian kakakku mengabari bahwa ibu meninggal dunia. Aku menghadiri pemakamannya. Peti dibuka untuk penghormatan terakhir. Dia terihat anggun dengan gaun putihnya. Aku membelai pipinya dan mencoba mencium keningnya. 

Seketika air mataku mengalir dan aku menyadari sesuatu. Ada rasa sesak memenuhi dadaku, sakitnya membuat seluruh sendiku lemas. Aku terjatuh di samping peti dan mulai menangis. 

Aku terlambat menyadari akhirnya aku jatuh cinta. Aku menemukan cinta yang selama ini aku cari. Aku jatuh cinta sejak melihat senyuman hangatnya di bandara. Aku jatuh cinta dengan sentuhan tangannya yang lembut. Aku jatuh cinta dengan ketulusannya. Aku jatuh cinta dengan tatapan matanya. Aku jatuh cinta dengan masakannya. 

Aku jatuh cinta kepada ibuku. Aku telah diberi kesempatan seminggu setelah kepulangannya dari rumahku. Tapi menelpon sekedar menanyakan kabarnya pun tak kulakukan. Sekarang semuanya sudah terlambat. Cinta ini tidak sempat dan tak akan pernah bisa kuutarakan kepadanya. 

"Suatu hari kita akan menyesal bukan karena hal yang telah kita lakukan, tetapi karena hal-hal yang tidak pernah kita lakukan."

Minggu, 25 Agustus 2013

Kerja di mana?

"Kalau kau wisuda, euforianya paling lama cuma sebulan. Habis itu langsung pada nanya, 'kerja di mana?'. Yah nanti malah kaunya yang bingung", kata nyokap gue beberapa hari yang lalu.

Sebagai mahasiswa yang baru lulus dan akan di wisuda, pertanyaan 'kerja di mana' bakalan jadi momok selama belum dapat kerja.

Bagaimana dengan gue?
Setelah wisuda gue memutuskan buat nyantai dulu selama sebulan.
Ngapain?
Melakukan apa aja yang gue suka. Apapun itu.
Kenapa?
Karena gue belum siap dan gak mau memaksa diri gue buat siap.

Gue tau, keputusan yang gue ambil ini bakalan menghasilkan kritik dari orang-orang sekitar. Sayang waktunyalah, ngabisin waktulah, ngerepotin oranglah, dan sebagainya. Mungkin selain melakukan apa yang gue suka, sebulan itu bakalan gue pake buat nebelin kuping dan latihan senyum. Anggap angin lalu.

Salah satu hal yang paling lucu, yang makin menguatkan keputusan gue ini, adalah curhatan-curhatan kecil dari temen gue yang udah pada kerja.

"Hadehhh. Pokoknya gue mau nyari 2 minggu buat cuti. Pengen liburannnn.", kata salah satu teman yang sudah bekerja sebelum diwisuda.

"Grace, pokoknya lo puas-puasin deh liburan sebelum nyari kerja. Libur sebulan dulu kek. Nanti kalau kerja baru berasa gak enaknya!", kata teman gue yang lulus semester lalu dan langsung mengikuti management training sebelum wisuda.

See?
Ya mungkin lo berpendapat setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang cukup seminggu liburannya, ada yg cuma dua hari, atau mungkin memang merekanya aja kali yang gak doyan kerja kantoran. Terserah.

Sebulan ini gue berencana mencari aktivitas yang bisa dengan nyaman gue kerjakan. Sejujurnya gue takut terjebak ke dalam sebuah kerjaan atau aktivitas yang gak sesuai dengan passion gue hanya gara-gara gak tahan dengan tekanan pertanyaan 'kerja di mana?'.

Selain itu, alasan kenapa gue gak mau langsung kerja adalah I don't wanna be a robot. Seakan-akan semua sudah ditentukan. Sekolah - Kuliah - Kerja -Mati. Sebulan ini gue berencana memanusiakan diri sendiri. Mencari kepercayaan diri. Mencari lagi mimpi-mimpi gue yang hampir terkubur karena perkataan "gak mungkin!" dan "emang bisa?" dari sekitar. Mimpi-mimpi yang dipandang sebelah mata oleh keluarga besar, kecuali nyokap gue, karena dianggap tidak jelas dan penghasilannya diragukan. Mimpi-mimpi yang bisa membuat gue berasa benar-benar hidup.

Sekilas informasi, buat sebagian besar orang Batak, berdasarkan yang gue amati selama ini, PNS merupakan pekerjaan yang paling dihormati. Selain itu dokter, pegawai di perusahaan besar, atau pekerjaan lain yang dianggap berpenghasilan 'tetap dan menjamin hidup'. Bagaimana dengan pekerja seni? Penulis? Perancang busana? Pelukis? Dan lain-lain? Siap-siap mendapat sambutan yang tidak menyenangkan.

Beberapa hari yang lalu, lewat sms, nyokap menyuruh gue ikut seleksi CPNS. Dia bilang, dia dan opung doli (kakek dari nyokap) bakalan bangga kalau gue jadi PNS. Dengan seenaknya gue bales "aku gak mau jadi PNS.." Gak lama setelah itu nyokap langsung menelpon gue. Sebelum diangkat, gue udah menyiapkan berbagai pembelaan untuk mempertahankan keputusan gue.
Guess what? Nyokap malah ketawa sambil menanyakan alasan. At that moment, gue bersyukur punya orang tua yang berpikiran seterbuka itu.


My mom always believes in me and in every decision that I make. Dulu dia yang paling mendukung gue ketika memutuskan untuk mengambil jalur skripsi dan kuliah 4 tahun, di mana sebagian besar teman gue memutuskan 144 sks dan lulus 3.5 tahun. Dia juga yang mendukung gue habis-habisan dari kritik orang sekitar ketika gue memilih mengambil komunikasi ui, ketimbang itb dan ugm yang katanya masa depannya lebih terjamin.

Now I make my decision. Apa yang akan gue lakukan, gue mau jadi apa,  bagaimana gue mencapainya dan resiko apa yang akan gue hadapi, walaupun tidak semua orang akan menyambut itu dengan baik.

Buat apa gue hidup kalau hanya untuk mengikuti dan menyenangkan orang lain?

Egois? Terserah.

Mulai sekarang gue harus sering-sering pasang senyum dan menebalkan telinga. Embrace yourself Grace. Serbuan pertanyaan "Kerja di mana?" akan segera datang.



Sabtu, 24 Agustus 2013

Sesekali monyet

Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang senang menghitung dosa orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang gemar menghakimi orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang suka bilang 'kamu nanti masuk neraka!' ke orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang sering meneriakkan nama Tuhan di jalan-jalan dengan arogan.

Siapa kamu? Tuhan? Tangan kanan Tuhan? Pembawa pesan Tuhan? Perpanjangan tangan Tuhan? Perwakilan Tuhan? Pembela Tuhan?

Dasar monyet!

Ahhh. Masa monyet teriak monyet?

Jumat, 16 Agustus 2013

Come and talk to me

There you are again
I see you all the time
We haven't really met yet, 
But you know, I don't mind
Cause I think today's the day
I'm gonna go right up and say to you
Would it be alright
If I called you up sometime?

There you go again
I let you get away
At least I've got more time
To think of what I might say (like)
“Couldn't we be good” (or maybe)
“Don't you think that we should find
Some quiet little place where we'd make love all day?”

Come and talk to me
What are you waiting for
Cause I can see you passing every day and I'm always wanting more
Come and talk to me
What are you gonna do
Cause I can't seem to get the nerve to get off my own ass 
And come and talk to you

You know I love the type
You look like you've been up all night
And yet somehow still look beautiful
You do it all at the same time
Whenever you walk by
You always look me in the eyes
And in that moment I know
the same thing's on your mind

It always seems to be that I let the good things pass by
Because I let my fear stop me (but not this time)

Lirik lagu Keri Noble - Talk to me ini, lagi-lagi, kena banget ke gue. Sebelumnya gue mengikuti kata-kata di lagu ini, gue gak ngebiarin rasa takut menghentikan langkah gue. I already have the no, why don't I take the risk to get the yes? Yak, gue menghampiri langsung orang tersebut. 

Sekarang? Sekarang kejadian lagi dengan orang yang berbeda. Tapi kali ini gue maunya sih dia yang menghampiri. Come and talk to me. Mungkin terdengar silly, kebanyakan alasan atau gue yang luar biasa ge-er. Cuma gue penasaran, seberapa berani dia menghampiri gue. I admire that kind of man. I really do.



Minggu, 11 Agustus 2013

Mereka bilang

Mereka pernah bilang, "Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dengarkan kata hatimu."

Mereka pernah bilang, "Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan simpan semuanya di dalam hati."

Aku ikuti. Aku jalani. Aku mulai memilih. Memilih sesuai keinginanku. Mengatakan isi hatiku. Aku mulai percaya diri.  Aku semakin berani.

Tapi sekarang...

Sekarang mereka bilang, "Kenapa kamu milih itu? Memangnya kamu bisa hidup dengan itu?"

Sekarang mereka bilang, "Jangan sembarangan ngomong! Memang kamu tau apa tentang hidup?"

Sekarang, percaya diri yang telah kubangun mulai goyah. Keberanian yang kupunya sedikit demi sedikit menghilang. Suara hatiku semakin samar terdengar.

Sekarang, yang aku butuhkan bukan lagi kata mereka. Aku cuma butuh keteguhan hati. Ah ya, juga Tuhan. Aku masih percaya Tuhan itu ada. Aku akan meminta keteguhan hati dariNya.

Selasa, 25 Juni 2013

MDGS

Minggu depan gue sidang. Depan gue minggu sidang. Gue sidang minggu depan. Sidang gue minggu depan.

Deg-degan.

Kamis, 20 Juni 2013

Perempuan Harus Menunggu Dihampiri (katanya)

Seharusnya gue saat ini ngerjain daftar pustaka tugas akhir. Apa boleh buat, setiap ngerjain tugas, hal-hal lain kelihatan lebih menarik. Seperti menghitung jumlah buletan di baju mbak-mbak di seberang gue.

Tiba-tiba gue teringat dengan buku 'Lady in Waiting' yg sering dibicarakan sekitar gue. Gue gak mau mengomentari isi buku ini karena belum gue baca. Gue mengomentari isi otak teman gue yg habis baca buku ini. Pada intinya dia berpendapat: 

Women must stop chasing men and let the men do all the chasing!

Gue langsung bertanya-tanya kenapa????? Kok bisa??? 

Karena kita diciptakan berbeda dengan laki-laki.

Menurutnya sebagai perempuan TIDAK PERLU MELAKUKAN APA-APA ketika menyukai seseorang. Cukup serahkan semuanya kepada Tuhan dan arahkan seluruh perhatian kepadaNya biar Dia yang menunjukkan jalan.

Sekali lagi gue terpana dengan jalan pikiran ini. Well, oke. Gue termasuk orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Hanya saja, sebagai orang yg percaya adanya Tuhan, gue sering tidak sejalan dengan pemikiran ini. Pemikiran kayak gini, menurut gue, memaksa kita buat jadi orang yang cuma bisa pasrah tanpa ngelakuin apa-apa.

"Gak ngelakuin apa-apa? Menurut gue berdoa dan meminta kepada Tuhan itu usaha juga kok."

Well kalau begitu dari dulu gue cukup berdoa dan pasrah setiap uts dan uas. Enak banget! Enggak, gue gak bilang berdoa meminta kepada Tuhan itu salah. Gue juga masih meminta dalam doa sama Tuhan setiap ada keinginan, kebutuhan atau menghadapi masalah. Tapi, kalo cuma minta doang tanpa melakukan usaha lain itu benar? 

"Yah itu kan beda masalah. Kalo yg lo bilang kan soal cita-cita. Cita-cita itu kan sesuatu yg pasif, gak bergerak. Emang udah seharusnya kita yg menghampiri. Kalau ini kan soal pasangan hidup. Kita ini diciptakan berbeda sama laki-laki dan laki-laki itu hidup, bergerak dan berinisiatif. Jadi wajarlah kita sebagai perempuan yg menunggu dihampiri, atas bantuan dan kehendak Tuhan."

Ah, lagi-lagi alasan 'penciptaan'. Kodratkah itu? Atau hanya hasil dari konstruksi sosial? 

Intinya standpoint gue dalam hal ini adalah gue gak setuju. Gue sampai sekarang masih percaya dengan kata-kata ora et labora. Gue tetap mengutamakan berdoa tetapi juga gak meninggalkan usaha. Apapun itu yg ingin gue capai, cari atau temukan. Entah kenapa di telinga gue, gak tahu deh di telinga lo gimana, alasan-alasan tadi kayak rengekan ababil yg sering ada di twit-twit quote gak penting.

I want you to know I love you but I don't want to tell you.

LO KATA DIA MAMA LORENG BISA BACA PIKIRAN?? Ribet banget hidup lo!!!
Ngomong-ngomong soal hidup yang ribet, gue ketemu gambar ini beberapa hari yang lalu dan gue setuju dengan seluruh isinya. Well, good night. Tugas gue sudah memanggil-manggil dari tadi.





Selasa, 04 Juni 2013

Gue Juga Pendosa

Akhir-akhir ini gue lagi seneng banget dengerin lagu Ozzy Osbourne - I don't want to change the world. Lagu ini bisa gue puter berkali-kali dalam sehari. Bukan, gue bukan fans sejati kelas kakap ozzy atau black sabbath. Gue masih pada tingkat penikmat. Walaupun gue demen banget sama lagu-lagu mereka di album paranoid yang enaknya bangsat!

Gue suka banget sebagian dari lirik lagu ini.

Tell me I'm a sinner, I got news for you.
 I spoke to God this morning and he don't like you
You telling all the people the original sin 
He says, He knows you better than you'll ever know him.


Begitu denger bagian ini, liriknya langsung nancep banget di kepala dan buat ketawa setengah mati.
Gue termasuk orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan. Bukan, gue bukan mau ngajak debat soal Tuhan itu ada atau enggak. Kalau lo gak percaya, silakan. 
Jadi gue mau ngapain? 
Lagi-lagi gue cuma mau menyalurkan isi pikiran gue. Lagu ini mengingatkan gue  kata-kata yang pernah gue ucapin beberapa waktu lalu ke seorang teman.

"Lo tau gak salah satu hal yang paling bikin gue kesel? Ketika yang katanya saudara seagama bilang gue belum atau gak pantas ambil bagian dalam pelayanan karena kelakuan gue masih gak bener. Sial banget kan?!"
Alasannya, gimana bisa gue melayani dengan baik kalau ikut kegiatan ibadah aja gue jarang. Apalagi katanya otak gue tidak sesuai dengan ajaran Yang Maha Kuasa. Gak tau, sebenernya gak sesuai dengan ajaran Tuhan atau gak sesuai dengan ajaran mereka. Gue yang menganggap para perokok, atheis dan orang-orang yang menjalin hubungan beda agama atau sesama jenis bukan suatu masalah dianggap menyalahi aturan. Pikiran gue yang seperti ini dikhawatirkan dapat menjerumuskan orang lain. 

Gue teringat curhatan seorang teman yang anak binaannya dipersulit ketika ingin menjadi pelayan, karena dia menjalin hubungan beda agama. Waktu itu gue dengan semangat empat lima mendorong dia untuk memperjuangkan keinginan anak binaannya. 

"Jangan tolol kaya mereka. Kalo dia memang mau melayani, perjuangkan, apapun resikonya. Kalo lo emang percaya adanya Tuhan, jika Dia berkehendak anak lo jadi pelayan, pasti dibukakan jalan. Jangan ikut-ikutan goblok kayak mereka." 

Gue memang agak risih dengan masalah kayak gini. Ya, menghalangi orang ingin melayani merupakan sebuah masalah besar buat gue. Kadang-kadang pengen banget ngomong gini, "Nyet, kalo seseorang ada keinginan untuk melayani atau berniat baik, sebangsat-bangsat apapun menurut lo kelakuannya, kasih dia kesempatan. Percuma mulut lo ngomongin soal kasih, tapi ngehalangin orang berniat baik. Emang lo yakin itu kehendak Tuhan dia gak pantas melayani karena bukan orang baik-baik? Kalo mo nyari yang gak ada dosa, sana mati dulu terus cari di sorga. Itu juga kalo lo masuk ke sana." Cuma kesempatan itu belum datang di dunia nyata, gue cuma bisa nyampein itu di sini. Meh.

Kadang-kadang kita, termasuk gue, terlalu sibuk menghitung dosa orang lain dan ups! Lupa kalau sama-sama berdosa. Perasaannya udah kudus aja. Berasa yang paling kenal Tuhan dan kehendakNya. Padahal, pfffftttt..

Gue memang pendosa. Ucapan gue suka diselipi kata makian. Gue juga jarang banget saat teduh dan ikut persekutuan. Tapi, bukan berarti lebih buruk atau lebih baik dari saudara-saudara yang aktif di persekutuan, pelayanan dan organisasi keagamaan. Kalo tiap berdoa mohon supaya dosa diampuni, kenapa gue dengan seenak jidat ngukur dosa orang lain?

"Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Yohanes 8:7 - Ucapan Yesus ketika seorang perempuan yang berzinah akan dilempari batu.

Telanjangi lalu pandangi

Gue punya teman, sesama jomblo, yang semester terakhir ini selalu bareng kemana pun. Kita adalah teman yang saling membantu dan selalu ada di saat suka dan duka.
Gue lagi laper dia beliin makanan. Dia lagi haus, gue beliin minuman. Gue kebelet pipis, dia langsung sedia botol kosong. Yah, kedekatan gue dan dia kayak tintin dan snowy. Iya, dia Snowynya. 

Apa yang paling bikin kita nempel adalah selera humor yang sama. Kita berdua sama-sama suka nyeletuk hal-hal goblok, sarkas, dan kadang berbau seks. Hmmm, sampai sekarang gue gak ngerti seks itu aromanya kayak apa. Apa? Rasanya? MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAaanjing gue gak tau. 
Salah satu celetukan yang sekarang lagi gue inget dari Justice waktu gue habis daftar jadi pengawas di departemen kampus. Sayang banget gue telat dan lowongan udah penuh. Padahal uangnya lumayan. Waktu gue jalan ke arah takor, Justice coba menghibur gue. 
"Ge, emang angkatan berapa yang banyak daftar jadi pengawas?" 
"2010 kali. Tau dah." 
"Ya udah, kalo gitu kita basmi aja satu angkatan. Kita ngelakuin itu, ehhh, apa itu namanya? Geno, gena. Aduh lupa" 
"Genosida." 
"Nah, iya! Genosida." 
"Terus?" 
"Terus, cowok cewek kita pisah. Terus yang cowok kita masukin ke ruangan besar."
"Ruang gas maksudnya?" 
"Bukan, ruang sauna. Ruangannya terbuat dari kaca. Biar bisa kita lihat prosesnya. Kita telanjangi mereka, terus kita pandangi."

Kita pandangi, kita pandangi, kita pandangi....
Kata-kata itu terus terngiang di telinga gue. Apa yang mau dipandangi?! Titit-titit? 

"Wah Ju, berarti kita harus sedia kaca pembesar." 
"Buat apa?" 
"Yah, siapa tau ada titit-titit yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar." "Hmmm, bener-bener." 
"Lah, terus yang ceweknya?" 
"Ceweknya sama, digituin juga. Cuma suhunya dibuat jauh lebih tinggi. Biar prosesnya lebih cepat. Gak perlu dipandangi." 
"Bener-bener. Toh sama-sama punya. Cuma beda di bentuk sama ukuran aja.", jawab gue sambil ngangguk-ngangguk. 

Sepanjang perjalanan sampai ke takor gue dan dia gak berhenti ngobrol soal itu. Omongan gue dan dia semakin gak normal, sampai-sampai gue gak sanggup menceritakan itu di sini. Gue dan dia gak pernah berlagak geli atau jijik kalau udah becandaan yang kayak gitu, apalagi kalo topiknya gak jauh-jauh dari vejayjay dan penaynay. Jangan tanya gue kenapa, apalagi tanya ke rumput yang bergoyang kayak bang ebiet. 


Ah iya, setelah mengetik ini gue baru menyadari, kayaknya yang punya obsesi memandangi titit-titit cuma gue. Karena yang pertama kali mikir dan nyebut soal titit itu gue, bukan Justice. Justice cuma bilang memandangi, gak pake titit-tititan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Catatan si Geges

Nama gue, Grace. Cakep banget ya namanya?
Lebih cakep daripada yang punya nama. Gue gak merendah kok, beneran enggak. 
Setelah gue baru lahir, yang pertama kali berpendapat kayak gitu adalah opung doli (ayahnya mama) gue sendiri. Waktu dia jenguk nyokap gue di rumah sakit. 
"Ri, siapa namanya kau kasih?" 
"Grace pak." 
"Grace?! Dari nama Grace Kelly? Gendut, besar berjambul kayak gini dikasih nama Grace?" 

Yah, begitulah kira-kira ceritanya. Nyokap gue mencoba membela diri, namun upayanya gagal. 

Blog ini gue buat tujuannya cuma menceritakan apa yang ada dalam otak gue. Ya otak gue, bukan celana dalam, walaupun bentuk keduanya rada mirip. Jadi kalau isinya aneh dan gak konsisten harap maklum. Otak gue memang lebih heboh dari beha pink neon berenda gue. 

Moga-moga blog ini gak bernasib kayak blog-blog gue sebelumnya. Digantungin dan gak digubris, kayak kolor butut yang dijemur terus gak diambil-ambil.