Rabu, 04 September 2013

Ucapan Nyokap dan Kelompok Kecil

Tadi siang gue baru makan siang bareng vivi, niar dan ka Joan, kelompok kecil gue. Percakapan sebelum, sambil dan setelah makan tadi sangat-sangat membantu menjawab pertanyaan "Mau jadi apa gue setelah lulus kuliah?".

Berawal dari curhatan vivi yang bingung menentukan langkah ke depan yang harus dia ambil. Pertanyaan semacam apakah harus pindah dari pekerjaannya atau tidak. Ya semacam itulah. Dikarenakan kelompok kecil ini merupakan kelompok persekutuan, tentunya omongan soal 'masa depan' ini terkait dengan sesuai atau tidak dengan kehendak Tuhan.

Menurut gue, salah satu masalah yang dihadapi hampir semua mahasiswa yang baru lulus adalah memilih langkah selanjutnya. Apakah mau lanjut sekolah, itu juga milih sekolah di mana, apakah mau kerja, itu juga milih mau kerja apa, atau pilihan lain seperti mau liburan dulu atau mau santai-santai dulu.

Hal yang buat susah menentukan langkah selanjutnya yaitu karena ada berbagai pihak yang ingin 'dibuat senang'. Setiap pilihan selalu dihitung-hitung dengan 'apakah membuat gue senang', 'apakah orang tua gue setuju', 'apa nanti kata orang sekitar', dan sebagainya. Apalagi beban ini menurut gue semakin berat buat orang-orang yang lulus dari 'universitas ternama'. Lo tau kan cibiran-cibiran seperti 'Masa lulusan ini kerjanya gitu?" atau "Masa anak universitas xx belum dapat kerja juga?".

Sekarang gue juga sedang menghadapi masa itu. Bingung mempersiapkan jawaban dari pertanyaan apa yang akan gue lakukan setelah wisuda. Akhirnya ada kata-kata ka Joan yang walaupun bukan situjukan ke gue, tapi ngena banget.

"Kalau gitu, coba lo cari tahu apa kehendak Tuhan. Kasih deadline sekitar sebulan untuk tahu apa yang terbaik buat lo. Jangan pikirkan apa kata sekitar atau apa keinginan orang tua dulu. Karena pada akhirnya lo sendiri yang menjalani semua itu."

Ah ya, gue lupa belum coba tanya sama Tuhan. Ya, gue sebagai orang yang percaya dengan keberadaan Tuhan menganggap kata-kata kak Joan itu sangat pas buat gue. Tiba-tiba gue jadi rindu sama Tuhan. Lo tahu kan perasaan rindu ingin menghubungi seseorang yang dulu sangat dekat sama lo, tapi karena satu dan lain hal hubungan lo menjauh? Ya, akhir-akhir ini gue sempat menjauh dari Dia dan gue jadi sekangen itu berkomunikasi denganNya.

Sebelumnya nyokap juga pernah bilang ke gue, setelah berkali-kali gue menolak ajakan ikut seleksi masuk PNS,

"Sekarang kau harus tentukan sikap. Kalau mau langsung kerja, maka cari. Kalau mau lanjut sekolah, ya persiapkan dirimu! Kalau kau mau nyari beasiswa sambil kerja juga bisa. Yang penting kau harus tentukan sikap!"

Dibalik sikap keras nyokap, gue menangkap ada tanda persetujuan untuk setiap keputusan yang gue ambil. Gue tahu, menyenangkan hati dan membuat bangga orang tua dan kakek nenek merupakan perbuatan yang baik. Tapi pada akhirnya kita tidak bisa menyenangkan setiap orang kan? Pada akhirnya juga gue sendirilah yang menjalani semuanya. Oleh karena itu, perkataan nyokap benar-benar melegakan hati dan membantu gue, dengan catatan gue harus sepenuhnya bertanggung jawab dan bekerja keras terhadap langkah yang gue ambil. 

Akhir kata, gue sangat senang dan merasa ini merupakan 'campur tangan Tuhan' membantu gue, yang udah jarang berkomunikasi dengan Dia, memutuskan langkah apa yang harus gue ambil. Makasih banyak Bapa. Seperti kata Sudjiwo Tedjo, Kau itu memang Maha Asyik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar