Sudah dua bulan berlalu, memerhatikan perempuan itu setiap pulang kerja menjadi sebuah candu baginya. Dia tidak tahu perempuan itu sadar atau tidak akan keberadaannya, tetapi sebisa mungkin dia melakukan semuanya dengan tidak mencolok.
Terkadang dia hanya lewat sepintas di depan toko dan melihat sekilas perempuan itu. Di lain kesempatan, dia akan duduk selama setengah jam atau lebih di cafe depan toko. Agar tidak terlalu kentara dia membuka laptopnya agar terlihat sibuk, walau matanya lebih lama menatap perempuan itu daripada layar. Semua dia lakukan agar tidak disangka sebagai seorang penguntit. Dia takut rutinitasnya ini mengundang salah paham. Padahal yang dia lakukan hanya mengagumi keindahan seorang perempuan, dari jauh.
Sampai saat ini dia masih belum berani mendekati perempuan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang setiap dia berusaha memasuki toko itu. Tangannya berkeringat dingin dan dia hanya bisa mematung di depan pintu. Setiap itu terjadi, dia memutuskan untuk berbalik arah dan pulang ke rumah. Dia belum berani untuk menghampiri langsung perempuan itu. Dia takut lidahnya kelu dan gagapnya kumat jika berada di depan perempuan itu. Dia malu.
Hari itu, setelah puas melihat sekilas ke toko, dia berpikir, mau sampai kapan? Mau sampai kapan dia hanya bisa melihat dari jauh? Sementara dia mulai merasakan ada sebuah tuntutan yang semakin besar dari dalam dirinya. Dia mulai menyadari bahwa dia menginginkan lebih dan lebih lagi. Tidak hanya mencuri pandang. Tidak hanya melihat. Tidak hanya memerhatikan dari jauh. Dia mau lebih dari itu.
Semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya. Dorongan itu terlalu kuat dan tidak bisa dikendalikan. Ada rasa panas di dadanya yang membuat dia terjaga semalaman. Dia tidak sabar menunggu munculnya surya. Seperti ada sebuah motor raksasa yang menggerakkan keberaniannya. Dia telah menetapkan hatinya. Dia akan memenuhi tuntutan itu.
Dia mau lebih dan dia akan mendapatkan lebih.
Kamis, 29 Agustus 2013
Mama gak perlu jadi temanku
Mama cukup jadi mama, tidak perlu berusaha jadi temanku.
Mama cukup jadi mama, tidak perlu memposisikan dirimu jadi temanku.
Segala hal yang bisa dilakukan seorang teman sudah pasti bisa mama lakukan, tapi tidak seorang pun teman yang bisa melakukan segala hal dengan baik seperti yang kau lakukan.
Aku bisa cari dua, tiga atau sepuluh teman di luaran sana, tapi tidak mungkin mencari sosok ibu selain mama.
Jangan turunkan posisimu dengan menjadi temanku. Jangan rendahkan dirimu demi mendapatkan gelar 'teman' dari diriku.
Jadi mama cukup jadi mama. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
*Kata-kata ini pernah gue ucapkan langsung ke nyokap and she loved it.
Selasa, 27 Agustus 2013
Perempuan itu (1)
Setiap hari dia melewati toko itu hanya untuk melihat pujaan hatinya.
"Dia sungguh indah", pikirnya dalam hati.
Sepanjang hidupnya dia belum pernah menemukan perempuan yang bisa menarik perhatiannya.
Pertama kali dia melihatnya seminggu yang lalu, perempuan itu sedang berdiri di dalam tokonya, menggunakan gaun musim panas berwarna putih sepanjang lutut. Belahannya yang rendah menunjukkan lehernya yang jenjang. Gaun itu sesuai dengan cuaca yang saat itu sangat panas. Dia tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. Senyumannya membuat lelaki itu tersipu malu, walaupun bukan ditujukan kepadanya.
Lelaki itu pulang dengan gembira, berharap esok hari akan bertemu kembali.
Keesokan harinya, lelaki itu pulang lebih larut dari tempat kerjanya. Terlalu banyak yang harus diselesaikan. Tangan kecil jamnya menunjuk ke arah angka 10. Toko itu sudah tutup. Dia pulang dengan sedih sambil berharap. "Masih ada esok hari", pikirnya.
Esoknya, lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya, yang ada di dalam pikirannya. Setiap hari di pikirannya hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang melewati toko tersebut. Jantungnya berdegup kencang setiap dia hampir sampai toko tersebut.
30 meter lagi
20 meter
10 meter
Deg!
Kali ini perempuan itu memakai gaun musim panas berwarna biru langit dengan pola bunga-bunga kecil bewarna putih. Serasi dengan kulitnya yang pucat.
Pria itu memutuskan untuk melihatnya melalui cafe di seberang toko. Masih ada satu jam lagi sebelum toko ditutup, pikirnya. Dia tidak memilih meja di luar, tetapi di dalam yang sedikit menghadap ke arah toko. Dia takut terlalu mencolok.
Melalui balik kaca cafe, dia memandang perempuan itu sambil menyesap americano double shot espresso tanpa gulanya. Lidahnya seakan tidak merasakan pahit. Seluruh konsentrasinya terpusat pada indera penglihatannya.
Dia menatap setiap jengkal tubuh perempuan itu, sambil memuji setiap bagiannya di dalam hati. Sempurna, terlalu sempurna.
Waktu menunjukkan angka sembilan, toko mulai sepi dan hanya ada 3 pelanggan, tetapi perempuan itu tidak menunjukkan rasa kelelahan. Dia tetap tersenyum kepada pelanggan yang masih mencari barang kebutuhannya. Pria itu lalu memutuskan untuk pulang dan tidak menunggu sampai toko itu tutup. Dia harus mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat esok hari. Sepanjang perjalanan menuju rumah, pria itu tak henti-hentinya berdendang. Belum pernah dia merasa sebahagia itu.
Dia tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu tidur dan bertemu perempuan itu lagi keesokan harinya. Di dalam pikirannya hanya ada dia, dia dan dia...
"Dia sungguh indah", pikirnya dalam hati.
Sepanjang hidupnya dia belum pernah menemukan perempuan yang bisa menarik perhatiannya.
Pertama kali dia melihatnya seminggu yang lalu, perempuan itu sedang berdiri di dalam tokonya, menggunakan gaun musim panas berwarna putih sepanjang lutut. Belahannya yang rendah menunjukkan lehernya yang jenjang. Gaun itu sesuai dengan cuaca yang saat itu sangat panas. Dia tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. Senyumannya membuat lelaki itu tersipu malu, walaupun bukan ditujukan kepadanya.
Lelaki itu pulang dengan gembira, berharap esok hari akan bertemu kembali.
Keesokan harinya, lelaki itu pulang lebih larut dari tempat kerjanya. Terlalu banyak yang harus diselesaikan. Tangan kecil jamnya menunjuk ke arah angka 10. Toko itu sudah tutup. Dia pulang dengan sedih sambil berharap. "Masih ada esok hari", pikirnya.
Esoknya, lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya, yang ada di dalam pikirannya. Setiap hari di pikirannya hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang melewati toko tersebut. Jantungnya berdegup kencang setiap dia hampir sampai toko tersebut.
30 meter lagi
20 meter
10 meter
Deg!
Kali ini perempuan itu memakai gaun musim panas berwarna biru langit dengan pola bunga-bunga kecil bewarna putih. Serasi dengan kulitnya yang pucat.
Pria itu memutuskan untuk melihatnya melalui cafe di seberang toko. Masih ada satu jam lagi sebelum toko ditutup, pikirnya. Dia tidak memilih meja di luar, tetapi di dalam yang sedikit menghadap ke arah toko. Dia takut terlalu mencolok.
Melalui balik kaca cafe, dia memandang perempuan itu sambil menyesap americano double shot espresso tanpa gulanya. Lidahnya seakan tidak merasakan pahit. Seluruh konsentrasinya terpusat pada indera penglihatannya.
Dia menatap setiap jengkal tubuh perempuan itu, sambil memuji setiap bagiannya di dalam hati. Sempurna, terlalu sempurna.
Waktu menunjukkan angka sembilan, toko mulai sepi dan hanya ada 3 pelanggan, tetapi perempuan itu tidak menunjukkan rasa kelelahan. Dia tetap tersenyum kepada pelanggan yang masih mencari barang kebutuhannya. Pria itu lalu memutuskan untuk pulang dan tidak menunggu sampai toko itu tutup. Dia harus mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat esok hari. Sepanjang perjalanan menuju rumah, pria itu tak henti-hentinya berdendang. Belum pernah dia merasa sebahagia itu.
Dia tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu tidur dan bertemu perempuan itu lagi keesokan harinya. Di dalam pikirannya hanya ada dia, dia dan dia...
Kupu-kupu
Beri satu alasan kenapa aku harus melakukan itu?”
Kedua alisku berkerut memikirkan alasan yang tepat. Jika sekali saja yang kuutarakan tidak sesuai dengan hatinya, maka alasan apapun yang mendukung tidak akan menggoyahkan keteguhannya. Tapi tiba-tiba, belum sempat aku berbicara, dia sudah tertawa.
“You look so funny. Kamu gak perlu capek-capek nyari alasan yang tepat. Cukup bilang ‘tanpa alasan’ mungkin aku bakalan setuju.”, katanya sambil tertawa memamerkan satu lesung pipitnya yang manis.
“Maksudnya?”
"Well, you know. Terkadang tanpa alasan merupakan alasan terbaik melakukan sesuatu. Terutama cinta, justru semakin indah ketika kamu melakukannya tanpa alasan.”, jawabnya sambil menatap lekat-lekat kedua mataku. Mata itu seperti samudra. Sangat dalam, sehingga aku tidak bisa menebak isinya, tetapi memikat, sampai aku rela terseret ombaknya. “Indah..” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut kembali oleh kedua mata itu.
Saat itu kami sedang duduk di beranda rumahku. Tiba-tiba hujan deras turun, membuatku memindahkan posisi dudukku jauh ke dalam agar tidak terkena rintikan hujan. Sementara dia bergeming, tetap bersandar di salah satu pilar, menutup kedua matanya dan mengarahkan wajahnya ke arah hujan. Percikan-percikan air hujan yang terbawa angin mulai membasahi wajahnya. Dia menikmati tiap tetesnya sambil tersenyum dan berdendang, mulai hanyut dalam dunianya sendiri.
Kupu-kupu yang lucu
Ke mana engkau terbang
Lagunya tidak sesuai dengan cuaca saat itu. Mana ada kupu-kupu yang terbang ketika hujan deras. Tetapi dia tidak peduli. Dia tetap melanjutkan nyanyiannya sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan kiri, seakan mengikuti alur terbang kupu-kupu.
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Aku mulai memandangi tiap jengkal tubuhnya. Ada yang bergemuruh di dalam dada, rasa rindu yang ingin menyeruak. Rambutnya hitam lebat sebahu. Aku masih ingat aroma mawar setiap dia tertidur di bahuku. Bibirnya yang mungil dan tebal, basah terkena air hujan. Aku masih ingat bagaimana dia menjilat sisa-sisa susu yang selalu menempel di pinggirnya.
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Rambutnya disibakkan ke sebelah kiri, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu disemprotkan parfum. Lagi-lagi beraroma mawar, misterius dan mengundang. Dia tahu, gairahku selalu meningkat setiap mencium aroma itu. Jari-jarinya mungil dan lentik, dengan kukunya yang diwarnai biru langit. Terlihat kontras tapi serasi dengan warna kulitnya yang tidak terlalu putih. Tangan yang dulu selalu kuggenggam dengan hati-hati, takut meremukkannya jika menggenggam terlalu keras. Tangannya yang dingin, membuatku enggan melepaskannya agar tetap hangat.
Tidakkah sayapmu merasa lelah
Tubuh mungilnya tidak sesuai dengan energinya yang tak pernah habis. Wajahnya yang lembut tidak menggambarkan keteguhan hatinya. Dibalik penampilannya yang rapuh tersembunyi sosok yang keras bagai batu karang. Sosok yang terus membuatku jatuh, sehingga dia menjadi pusat gravitasiku dimanapun aku berada.
"Kamu belum jawab pertanyaanku”, katanya tiba-tiba sambil tersenyum. Sebuah senyum miring yang memikat.
“Masih perlu dijawab?”
“Tergantung seberapa besar keinginanmu.”
“Seberapa besarpun keinginanku sepertinyanya gak akan pernah cukup.”
"Yah, mungkin. Kamu tahu? kupu-kupu itu indah justru ketika dia terbang dengan bebas, bukan waktu dia di dalam kaca. Kepakan sayapnya seakan membalas goyangan daun yang menyapanya. Warnanya justru semakin indah ketika dia hilir mudik di tengah-tengah bunga. “
Dia benar, pikirku. Sudah tujuh tahun aku mengenalnya. Kepribadian kami bagai langit dan bumi, tapi justru saling melengkapi. Aku yang memiliki pembawaan tenang merasa nyaman dengannya yang tidak bisa diam. Aku yang pendiam menikmati peranku jadi pendengar setiap ceritanya yang seakan tidak pernah habis. Aku yang lebih senang di rumah merasa menemukan dunia baru ketika mengikutinya. Dia memiliki jiwa yang bebas. Tidak ada satupun yang dapat mengekang langkahnya. Harinya diisi dengan berbagai hal baru. Jiwanya dipenuhi rasa penasaran dan haus dengan berbagai pengalaman. Kata petualangan seakan mengalir di dalam darahnya. Makin lama aku semakin tidak mampu mengikutinya.
Sesekali dia akan beristirahat dan memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Tapi tidak pernah lama dan tak mungkin bertahan lama. Rasa bosan akan segera menghampirinya. Dia kembali pergi mengunjungi berbagai yang menarik hatinya.
“Ya, keindahan kupu-kupu itulah yang selama ini menarik hatiku.”, jawabku setelah sekian lama kami terdiam.
Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Dia mendekatiku, menatapku dengan tajam, membuatku beku seketika. Tangannya membelai rambutku, kemudian turun ke pipiku.
“Sejauh apa dia menarik hatimu?”, tanyanya sambil terus membelai pipiku. “Sangat jauh. Bahkan terlalu jauh. Keindahannya membuatku selalu mengikutinya. Sampai aku lelah, sampai aku memutuskan untuk berhenti dan mencoba menangkapnya. Membawanya ke rumah dan menikmati keindahannya”, jawabku.
“Ketika kupu-kupu itu ditangkap keindahannya akan hilang saat itu juga.”, jawabnya. Kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Menghentikanku untuk membalas perkataannya lebih jauh. Seperti ada aliran listrik mengaliri tubuhku. Aku membalas ciumannya. Di tengah hujan deras kami bercumbu. Kepalaku terus-menerus menyuruhku untuk berhenti, tapi dorongan dalam dada mendorongku untuk semakin merengkuh tubuhnya. Aku memeluknya sepuasku, merasakan setiap inci tubuhnya. Malam itu kuhabiskan dengannya. Rindu yang tertahan selama ini kulampiaskan semua.
Kedua alisku berkerut memikirkan alasan yang tepat. Jika sekali saja yang kuutarakan tidak sesuai dengan hatinya, maka alasan apapun yang mendukung tidak akan menggoyahkan keteguhannya. Tapi tiba-tiba, belum sempat aku berbicara, dia sudah tertawa.
“You look so funny. Kamu gak perlu capek-capek nyari alasan yang tepat. Cukup bilang ‘tanpa alasan’ mungkin aku bakalan setuju.”, katanya sambil tertawa memamerkan satu lesung pipitnya yang manis.
“Maksudnya?”
"Well, you know. Terkadang tanpa alasan merupakan alasan terbaik melakukan sesuatu. Terutama cinta, justru semakin indah ketika kamu melakukannya tanpa alasan.”, jawabnya sambil menatap lekat-lekat kedua mataku. Mata itu seperti samudra. Sangat dalam, sehingga aku tidak bisa menebak isinya, tetapi memikat, sampai aku rela terseret ombaknya. “Indah..” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut kembali oleh kedua mata itu.
Saat itu kami sedang duduk di beranda rumahku. Tiba-tiba hujan deras turun, membuatku memindahkan posisi dudukku jauh ke dalam agar tidak terkena rintikan hujan. Sementara dia bergeming, tetap bersandar di salah satu pilar, menutup kedua matanya dan mengarahkan wajahnya ke arah hujan. Percikan-percikan air hujan yang terbawa angin mulai membasahi wajahnya. Dia menikmati tiap tetesnya sambil tersenyum dan berdendang, mulai hanyut dalam dunianya sendiri.
Kupu-kupu yang lucu
Ke mana engkau terbang
Lagunya tidak sesuai dengan cuaca saat itu. Mana ada kupu-kupu yang terbang ketika hujan deras. Tetapi dia tidak peduli. Dia tetap melanjutkan nyanyiannya sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan kiri, seakan mengikuti alur terbang kupu-kupu.
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Aku mulai memandangi tiap jengkal tubuhnya. Ada yang bergemuruh di dalam dada, rasa rindu yang ingin menyeruak. Rambutnya hitam lebat sebahu. Aku masih ingat aroma mawar setiap dia tertidur di bahuku. Bibirnya yang mungil dan tebal, basah terkena air hujan. Aku masih ingat bagaimana dia menjilat sisa-sisa susu yang selalu menempel di pinggirnya.
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Rambutnya disibakkan ke sebelah kiri, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu disemprotkan parfum. Lagi-lagi beraroma mawar, misterius dan mengundang. Dia tahu, gairahku selalu meningkat setiap mencium aroma itu. Jari-jarinya mungil dan lentik, dengan kukunya yang diwarnai biru langit. Terlihat kontras tapi serasi dengan warna kulitnya yang tidak terlalu putih. Tangan yang dulu selalu kuggenggam dengan hati-hati, takut meremukkannya jika menggenggam terlalu keras. Tangannya yang dingin, membuatku enggan melepaskannya agar tetap hangat.
Tidakkah sayapmu merasa lelah
Tubuh mungilnya tidak sesuai dengan energinya yang tak pernah habis. Wajahnya yang lembut tidak menggambarkan keteguhan hatinya. Dibalik penampilannya yang rapuh tersembunyi sosok yang keras bagai batu karang. Sosok yang terus membuatku jatuh, sehingga dia menjadi pusat gravitasiku dimanapun aku berada.
"Kamu belum jawab pertanyaanku”, katanya tiba-tiba sambil tersenyum. Sebuah senyum miring yang memikat.
“Masih perlu dijawab?”
“Tergantung seberapa besar keinginanmu.”
“Seberapa besarpun keinginanku sepertinyanya gak akan pernah cukup.”
"Yah, mungkin. Kamu tahu? kupu-kupu itu indah justru ketika dia terbang dengan bebas, bukan waktu dia di dalam kaca. Kepakan sayapnya seakan membalas goyangan daun yang menyapanya. Warnanya justru semakin indah ketika dia hilir mudik di tengah-tengah bunga. “
Dia benar, pikirku. Sudah tujuh tahun aku mengenalnya. Kepribadian kami bagai langit dan bumi, tapi justru saling melengkapi. Aku yang memiliki pembawaan tenang merasa nyaman dengannya yang tidak bisa diam. Aku yang pendiam menikmati peranku jadi pendengar setiap ceritanya yang seakan tidak pernah habis. Aku yang lebih senang di rumah merasa menemukan dunia baru ketika mengikutinya. Dia memiliki jiwa yang bebas. Tidak ada satupun yang dapat mengekang langkahnya. Harinya diisi dengan berbagai hal baru. Jiwanya dipenuhi rasa penasaran dan haus dengan berbagai pengalaman. Kata petualangan seakan mengalir di dalam darahnya. Makin lama aku semakin tidak mampu mengikutinya.
Sesekali dia akan beristirahat dan memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Tapi tidak pernah lama dan tak mungkin bertahan lama. Rasa bosan akan segera menghampirinya. Dia kembali pergi mengunjungi berbagai yang menarik hatinya.
“Ya, keindahan kupu-kupu itulah yang selama ini menarik hatiku.”, jawabku setelah sekian lama kami terdiam.
Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Dia mendekatiku, menatapku dengan tajam, membuatku beku seketika. Tangannya membelai rambutku, kemudian turun ke pipiku.
“Sejauh apa dia menarik hatimu?”, tanyanya sambil terus membelai pipiku. “Sangat jauh. Bahkan terlalu jauh. Keindahannya membuatku selalu mengikutinya. Sampai aku lelah, sampai aku memutuskan untuk berhenti dan mencoba menangkapnya. Membawanya ke rumah dan menikmati keindahannya”, jawabku.
“Ketika kupu-kupu itu ditangkap keindahannya akan hilang saat itu juga.”, jawabnya. Kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Menghentikanku untuk membalas perkataannya lebih jauh. Seperti ada aliran listrik mengaliri tubuhku. Aku membalas ciumannya. Di tengah hujan deras kami bercumbu. Kepalaku terus-menerus menyuruhku untuk berhenti, tapi dorongan dalam dada mendorongku untuk semakin merengkuh tubuhnya. Aku memeluknya sepuasku, merasakan setiap inci tubuhnya. Malam itu kuhabiskan dengannya. Rindu yang tertahan selama ini kulampiaskan semua.
---
Keesokan harinya, seperti biasa, kupu-kupuku terbang lagi. Ternyata alasan ‘tanpa alasan’ tidak cukup. Sebesar apapun keinginanku juga tidak akan pernah cukup untuk membuatnya tinggal. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Kupu-kupuku terlihat lebih indah ketika terbang daripada diam di dalam kaca. Dengan sayapnya yang rapuh namun indah dia pergi lagi, tanpa lelah, meninggalkanku dan cinta yang dia tanam sejak tujuh tahun lalu.
Tidak sempat
Ibuku tidak mencintaiku.
Aku tumbuh dengan anggapan itu selama hampir empat puluh tahun. Sejak kecil tidak ada peluk mesra atau ucapan bangga. Setiap hari hanya kritikan dan perintah untuk menjadi lebih baik, seperti kakakku.
Membandingkan kami berdua sudah menjadi kebiasaan ibuku. Tidak seperti kakakku, aku tidak pintar, tidak gaul dan tidak berprestasi. Tidak pernah ada pelukan atau ucapan sayang. Bahkan tidak ada kata aku mencintaimu dan menyayangimu yang pernah keluar darinya.
Orang bilang cinta pertama kali dirasakan di rumah, di dalam keluarga. Di mana kau dicintai apa adanya. Aku tidak menemukan itu. Aku tidak merasakan cinta itu. Aku menganggap bahwa ibuku tidak mencintaiku, sekalipun atau sedikitpun. Lulus sekolah aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Mencari sebuah kebebasan, sebuah penerimaan dan cinta.
---
Malam hari setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku menerima telepon dari kakakku. Tumben, pikirku.
“Halo, dek. Aku ganggu gak telepon kamu malam-malam begini?”, suaranya terasa canggung.
“Gak papa.”
“Gimana kabarmu?”
“Baik.”
“Kemarin aku ditelpon ibu. Katanya dia susah sekali menghubungi kamu.”
"Aku sibuk.” Hening sementara.
"Gini, kemarin ibu bilang akhir minggu ini dia mau nginap di rumahmu. Kasihan ibu gak ada teman”
“Aku tau tapi gak bisa”, jawabku dingin. Tidak akan pernah bisa, batinku.
“Kamu masih marah sama ibu? Mau sampe kapan? Kamu gak capek hidup kayak gitu?”
Aku hanya bisa diam.
"Bagaimanapun dia itu tetap ibu kita. Ibumu”, dia menekankan suaranya di bagian akhir.
“Di akta kelahiran”, jawabku cepat.
“Gak ada gunanya menyimpan dendam seumur hidup. Ibu sudah tua, gak ada salahnya kan kamu menuruti keinginannyamenginap di tempatmu sebentar?”
“Justru salah. Salah besar.”
“Mungkin ini terakhir kalinya kamu bertemu ibu”, jawabnya. “Tidak ada salahnya memberi kesempatan. Suatu hari kita akan menyesal karena hal-hal yang tidak kita lakukan.”
“Terserah”, ucapku cepat sambil menutup telepon. Tanpa pikir panjang aku menjawab asal karena tidak ingin melanjutkan perdebatan. Sepanjang malam aku mengutuki diri sendiri.
---
Jumat sore aku menjemput ibuku di bandara. Hampir sepuluh tahun aku tidak melihatnya, sejak pemakaman ayah. Saat itu aku memutuskan untuk sibuk menerima tamu yang berbelasungkawa. Lebih baik begitu daripada harus berada di samping ibuku.
Deg!
Aku melihat ibuku keluar dari pintu terminal kedatangan. Ada perasaan aneh ketika aku melihatnya lagi. Dia tampak lebih kurus dan rapuh. Tidak seperti yang kubayangkan selama ini, sosok yang tinggi dan menakutkan. Rambutnya yang dulu hitam lebat sebagian besar telah memutih. Wajahnya yang dulu keras dengan tulang pipi yang tinggi dan tegas tampak melembut. Walaupun menjelang 70 tapi kecantikannya masih terlihat. Dia memakai setelan merah tua. Tangan kanannya menenteng tas bewarna senada dengan sepatunya. Sementara tangannya yang lain menarik koper bewarna kelabu. Dia tersenyum melihatku. Hangat.
Aku menghampirinya untuk membantu membawakan kopernya. Tanpa pelukan, ciuman dan basa-basi menanyakan kabar satu sama lain kami menuju mobilku. Selama perjalanan, kami lebih banyak diam. Sesekali dia bertanya mengenai pekerjaanku. Semuanya kujawab dengan singkat tanpa balik bertanya. Sesampainya di rumah, dia mengernyit. Dia terlihat tidak suka dengan pilihan warna dinding rumahku dan perabotannya.
Ya, aku memilih pewarna yang memang tidak disukai ibuku. Setiap pilihan yang kubuat di hidupku memang tidak pernah sesuai dengan keinginan ibuku. Aku seorang pelukis. Pekerjaan yang dianggap ibuku tidak menjamin masa depan. Aku juga memutuskan untuk tidak menikah. Suatu hal yang sering disebut ibuku sebagai penyakit perempuan masa kini. Dia terlihat ingin berkomentar, namun mengurungkan niatnya.
Aku kemudian mengantarkan dia ke kamarnya dan meninggalkannya untuk menyiapkan makan malam. Ketika makan malam, rasa canggung memenuhi seluruh ruang makan, sesekali diselingi suara sendok dan garpu yang beradu. Perasaan tidak nyaman membuatku cepat-cepat menyelesaikan makan malam. Selesai makan aku bergegas merapikan meja dan melanjutkan pekerjaanku. “Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja.”, kataku sambil meninggalkannya menonton TV di ruang tengah.
---
Perasaanku berkecamuk ketika melanjutkan pekerjaanku. Pikiranku buntu dan tanganku tidak mau diajak bekerja sama. Aku memikirkan kecanggungan yang akan kuhadapi selama dua hari ke depan. Tiba-tiba pintu ruang kerjaku terbuka. Ibuku masuk sambil membawa dua mug cokelat hangat.
“Ibu butuh sesuatu?”, jawabku sambil pura-pura melanjutkan lukisanku, sesekali melirik ke arahnya berusaha tidak melihat matanya. Dia memberikan salah satu mug kemudian menyeret satu kursi untuk diduduki di dekatku.
"Ibu butuh bicara samamu.”, katanya.
“Tapi aku lagi kerja”, kataku sambil meletakkan minumanku ke bawah kursiku.
“Kamu cukup mendengar, sambil melanjutkan lukisanmu. Tidak perlu ditanggapi jika kau tak mau.”
Aku mencoba melanjutkan kembali pekerjaanku.
“Ibu minta maaf... “
Aku sempat menghentikan kegiatanku, lalu pura-pura melanjutkannya seakan tidak peduli.
“Selama 40 tahun ini ibu telah salah memperlakukanmu. Ibu punya berbagai alasan untuk setiap kesalahan yang ibu lakukan. Tapi ibu tahu, alasan apapun tidak dapat membenarkannya.”
Aku berbalik dan menatap lekat-lekat matanya. Warnanya cokelat muda, persis sepertiku.
“Aku telah melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Menganggapmu sebagai penghalang. Menyia-nyiakanmu yang seharusnya merupakan anugerah bagiku”
Ibuku memang seorang yang berjiwa bebas, tidak ingin terikat dan perfeksionis. Menurutnya memiliki anak sudah cukup membuatnya terkekang setelah memutuskan untuk menikah muda. Namun punya satu anak yang sempurna seperti kakakku masih bisa dia terima. Dia berencana untuk kembali menyusun mimpinya. Tapi aku, muncul tanpa rencana. Kemunculanku dan kekuranganku menghancurkan susunan mimpinya dan dianggap sebagai sebuah kesalahan yang besar.
“Ibu tahu kata maaf tidak akan cukup untuk mengobati lukamu. Kata maaf juga tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap seperti sihir ibu peri. Memaafkan dengan sepenuh hati membutuhkan waktu.”
Ada perasaan tulus yang keluar dari kata-katanya. Aku hanya bisa terdiam sambil memandang keriput di wajahnya. Terakhir bertemu keriputnya tidak sebanyak ini. Matanya juga tampak lelah, walaupun sinarnya masih dapat membuatku membisu. Sejak kapan ibu yang selama ini tampak kuat terlihat rapuh seperti ini?
“Ibu udah selesai? Aku mau lanjut bekerja.”, kataku dingin memotong keheningan yang sempat tercipta.
"Sudah”, kata ibuku pelan. Dia lalu memegang bahuku dari belakang kemudian pergi meninggalkan ruangan. Perasaan haus langsung melandaku. Cepat-cepat kutenggak cokelat tadi sampai habis. Jantungku berdegup kencang dan keringat mengalir dari dahiku. Aku memutuskan menyudahi pekerjaanku dan kembali ke kamarku. Aku mencoba memejamkan mata, namun sulit. Setiap kata masih teringat jelas dan sentuhannya masih terasa. Aku baru tertidur menjelang subuh karena kelelahan menghadapi perasaanku sendiri.
---
Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Ibuku telah menyiapkan sarapan pagi. Suka atau tidak suka mengakuinya, masakan ibuku memang sangat enak. Setelah sarapan aku memutuskan berjalan-jalan ke taman di dekat rumah bersamanya.
Saat itu cuacanya sejuk. Aku dan ibu duduk di bangku di bawah pohon. Dia menanyakan alasanku mengapa memutuskan tidak menikah. Aku menjawab belum menemukan cinta yang selama ini aku cari. Lalu aku menanyakan bagaimana masa mudanya.
“Masa mudaku? Sama sepertimu. Umur 17 tahun aku bertengkar dengan ayahku dan memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari kebebasan. Selama tiga tahun aku hidup tidak menentu. Bekerja apa saja demi memenuhi kebutuhanku. Bahkan aku pernah mengalami pelecehan seksual. Aku sempat menyesal dengan keputusa yang kuambil, tapi aku terlalu keras kepala saat itu. Terlalu malu untuk kembali ke orang tuaku, harga diriku tidak mengizinkanku melakukannya. Mau tidak mau aku harus melanjutkan hidupku, sesakit apapun itu.", dia berhenti sebentar. Matanya menerawang.
"Lalu, di saat aku tidak punya apa-apa lagi, aku bertemu ayahmu. Dia pria yang sangat baik, bahkan terlalu baik. Di dalam dirinya aku menemukan rasa aman. Pada akhirnya aku menerimanya tanpa rasa cinta, tidak sanggup menolak ketulusannya. Lagipula saat itu yang kubutuhkan bukanlah cinta, tapi tempat berlindung dan kepastian dapat melanjutkan hidup."
"Apakah sampai ayah meninggal kau tetap tidak benar-benar mencintainya?"
"Jika iya, aku tidak akan mendampinginya sampai akhir hayatnya."
Setelah itu aku dan dia terdiam selama beberapa menit. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku sambil tersenyum, “Kau tahu? Sekarang aku tahu dari mana datangnya sifat keras kepala dan tangguhmu itu ketika menghadapiku selama bertahun-tahun.”
Deg!
Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Sinar mata itu dulu sering kulihat, tapi tidak pernah ditujukan kepadaku. Mata yang mengandung rasa bangga dan sayang. Dia lalu menggenggam tanganku sambil melihat ke arah langit senja.
Malam itu di rumah aku dan dia berbicara hingga subuh. Lebih tepatnya dia yang paling banyak bercerita. Aku hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan singkat. Dia menceritakan berbagai hal seakan tidak ada lain waktu untuk melakukannya. Diam-diam ada perasaan hormat yang muncul dalam diriku kepadanya. Saat itu, tanpa kusadari, perasaanku semakin melembut.
---
Keesokan siangnya aku mengantarkan ibuku ke bandara. Pesawatnya berangkat dua jam lagi. Kami memutuskan untuk minum teh sebentar sambil menunggu. Kali itu kami hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kami menikmati teh masing-masing dan sesekali memandangi satu sama lain. Kadang-kadang terselip senyum dari kedua bibir kami.
Tiba saatnya ibuku harus masuk ke ruang tunggu. Di depan pintu dia memelukku dengan erat. Belum sempat aku lepas dari keterkejutanku dan memeluknya balik, dia sudah melepaskan pelukannya. Lalu dia masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku langsung balik menuju mobilku, kembali ke rumah, kembali ke kesibukan semula....
---
Itu terakhir kalinya aku melihat ibuku. Seminggu kemudian kakakku mengabari bahwa ibu meninggal dunia. Aku menghadiri pemakamannya. Peti dibuka untuk penghormatan terakhir. Dia terihat anggun dengan gaun putihnya. Aku membelai pipinya dan mencoba mencium keningnya.
Seketika air mataku mengalir dan aku menyadari sesuatu. Ada rasa sesak memenuhi dadaku, sakitnya membuat seluruh sendiku lemas. Aku terjatuh di samping peti dan mulai menangis.
Aku terlambat menyadari akhirnya aku jatuh cinta. Aku menemukan cinta yang selama ini aku cari. Aku jatuh cinta sejak melihat senyuman hangatnya di bandara. Aku jatuh cinta dengan sentuhan tangannya yang lembut. Aku jatuh cinta dengan ketulusannya. Aku jatuh cinta dengan tatapan matanya. Aku jatuh cinta dengan masakannya.
Aku jatuh cinta kepada ibuku. Aku telah diberi kesempatan seminggu setelah kepulangannya dari rumahku. Tapi menelpon sekedar menanyakan kabarnya pun tak kulakukan. Sekarang semuanya sudah terlambat. Cinta ini tidak sempat dan tak akan pernah bisa kuutarakan kepadanya.
"Suatu hari kita akan menyesal bukan karena hal yang telah kita lakukan, tetapi karena hal-hal yang tidak pernah kita lakukan."
Minggu, 25 Agustus 2013
Kerja di mana?
"Kalau kau wisuda, euforianya paling lama cuma sebulan. Habis itu langsung pada nanya, 'kerja di mana?'. Yah nanti malah kaunya yang bingung", kata nyokap gue beberapa hari yang lalu.
Sebagai mahasiswa yang baru lulus dan akan di wisuda, pertanyaan 'kerja di mana' bakalan jadi momok selama belum dapat kerja.
Bagaimana dengan gue?
Setelah wisuda gue memutuskan buat nyantai dulu selama sebulan.
Ngapain?
Melakukan apa aja yang gue suka. Apapun itu.
Kenapa?
Karena gue belum siap dan gak mau memaksa diri gue buat siap.
Gue tau, keputusan yang gue ambil ini bakalan menghasilkan kritik dari orang-orang sekitar. Sayang waktunyalah, ngabisin waktulah, ngerepotin oranglah, dan sebagainya. Mungkin selain melakukan apa yang gue suka, sebulan itu bakalan gue pake buat nebelin kuping dan latihan senyum. Anggap angin lalu.
Salah satu hal yang paling lucu, yang makin menguatkan keputusan gue ini, adalah curhatan-curhatan kecil dari temen gue yang udah pada kerja.
"Hadehhh. Pokoknya gue mau nyari 2 minggu buat cuti. Pengen liburannnn.", kata salah satu teman yang sudah bekerja sebelum diwisuda.
"Grace, pokoknya lo puas-puasin deh liburan sebelum nyari kerja. Libur sebulan dulu kek. Nanti kalau kerja baru berasa gak enaknya!", kata teman gue yang lulus semester lalu dan langsung mengikuti management training sebelum wisuda.
See?
Ya mungkin lo berpendapat setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang cukup seminggu liburannya, ada yg cuma dua hari, atau mungkin memang merekanya aja kali yang gak doyan kerja kantoran. Terserah.
Sebulan ini gue berencana mencari aktivitas yang bisa dengan nyaman gue kerjakan. Sejujurnya gue takut terjebak ke dalam sebuah kerjaan atau aktivitas yang gak sesuai dengan passion gue hanya gara-gara gak tahan dengan tekanan pertanyaan 'kerja di mana?'.
Selain itu, alasan kenapa gue gak mau langsung kerja adalah I don't wanna be a robot. Seakan-akan semua sudah ditentukan. Sekolah - Kuliah - Kerja -Mati. Sebulan ini gue berencana memanusiakan diri sendiri. Mencari kepercayaan diri. Mencari lagi mimpi-mimpi gue yang hampir terkubur karena perkataan "gak mungkin!" dan "emang bisa?" dari sekitar. Mimpi-mimpi yang dipandang sebelah mata oleh keluarga besar, kecuali nyokap gue, karena dianggap tidak jelas dan penghasilannya diragukan. Mimpi-mimpi yang bisa membuat gue berasa benar-benar hidup.
Sekilas informasi, buat sebagian besar orang Batak, berdasarkan yang gue amati selama ini, PNS merupakan pekerjaan yang paling dihormati. Selain itu dokter, pegawai di perusahaan besar, atau pekerjaan lain yang dianggap berpenghasilan 'tetap dan menjamin hidup'. Bagaimana dengan pekerja seni? Penulis? Perancang busana? Pelukis? Dan lain-lain? Siap-siap mendapat sambutan yang tidak menyenangkan.
Beberapa hari yang lalu, lewat sms, nyokap menyuruh gue ikut seleksi CPNS. Dia bilang, dia dan opung doli (kakek dari nyokap) bakalan bangga kalau gue jadi PNS. Dengan seenaknya gue bales "aku gak mau jadi PNS.." Gak lama setelah itu nyokap langsung menelpon gue. Sebelum diangkat, gue udah menyiapkan berbagai pembelaan untuk mempertahankan keputusan gue.
Guess what? Nyokap malah ketawa sambil menanyakan alasan. At that moment, gue bersyukur punya orang tua yang berpikiran seterbuka itu.
My mom always believes in me and in every decision that I make. Dulu dia yang paling mendukung gue ketika memutuskan untuk mengambil jalur skripsi dan kuliah 4 tahun, di mana sebagian besar teman gue memutuskan 144 sks dan lulus 3.5 tahun. Dia juga yang mendukung gue habis-habisan dari kritik orang sekitar ketika gue memilih mengambil komunikasi ui, ketimbang itb dan ugm yang katanya masa depannya lebih terjamin.
Now I make my decision. Apa yang akan gue lakukan, gue mau jadi apa, bagaimana gue mencapainya dan resiko apa yang akan gue hadapi, walaupun tidak semua orang akan menyambut itu dengan baik.
Buat apa gue hidup kalau hanya untuk mengikuti dan menyenangkan orang lain?
Egois? Terserah.
Mulai sekarang gue harus sering-sering pasang senyum dan menebalkan telinga. Embrace yourself Grace. Serbuan pertanyaan "Kerja di mana?" akan segera datang.
Sebagai mahasiswa yang baru lulus dan akan di wisuda, pertanyaan 'kerja di mana' bakalan jadi momok selama belum dapat kerja.
Bagaimana dengan gue?
Setelah wisuda gue memutuskan buat nyantai dulu selama sebulan.
Ngapain?
Melakukan apa aja yang gue suka. Apapun itu.
Kenapa?
Karena gue belum siap dan gak mau memaksa diri gue buat siap.
Gue tau, keputusan yang gue ambil ini bakalan menghasilkan kritik dari orang-orang sekitar. Sayang waktunyalah, ngabisin waktulah, ngerepotin oranglah, dan sebagainya. Mungkin selain melakukan apa yang gue suka, sebulan itu bakalan gue pake buat nebelin kuping dan latihan senyum. Anggap angin lalu.
Salah satu hal yang paling lucu, yang makin menguatkan keputusan gue ini, adalah curhatan-curhatan kecil dari temen gue yang udah pada kerja.
"Hadehhh. Pokoknya gue mau nyari 2 minggu buat cuti. Pengen liburannnn.", kata salah satu teman yang sudah bekerja sebelum diwisuda.
"Grace, pokoknya lo puas-puasin deh liburan sebelum nyari kerja. Libur sebulan dulu kek. Nanti kalau kerja baru berasa gak enaknya!", kata teman gue yang lulus semester lalu dan langsung mengikuti management training sebelum wisuda.
See?
Ya mungkin lo berpendapat setiap orang itu berbeda-beda. Ada orang yang cukup seminggu liburannya, ada yg cuma dua hari, atau mungkin memang merekanya aja kali yang gak doyan kerja kantoran. Terserah.
Sebulan ini gue berencana mencari aktivitas yang bisa dengan nyaman gue kerjakan. Sejujurnya gue takut terjebak ke dalam sebuah kerjaan atau aktivitas yang gak sesuai dengan passion gue hanya gara-gara gak tahan dengan tekanan pertanyaan 'kerja di mana?'.
Selain itu, alasan kenapa gue gak mau langsung kerja adalah I don't wanna be a robot. Seakan-akan semua sudah ditentukan. Sekolah - Kuliah - Kerja -Mati. Sebulan ini gue berencana memanusiakan diri sendiri. Mencari kepercayaan diri. Mencari lagi mimpi-mimpi gue yang hampir terkubur karena perkataan "gak mungkin!" dan "emang bisa?" dari sekitar. Mimpi-mimpi yang dipandang sebelah mata oleh keluarga besar, kecuali nyokap gue, karena dianggap tidak jelas dan penghasilannya diragukan. Mimpi-mimpi yang bisa membuat gue berasa benar-benar hidup.
Sekilas informasi, buat sebagian besar orang Batak, berdasarkan yang gue amati selama ini, PNS merupakan pekerjaan yang paling dihormati. Selain itu dokter, pegawai di perusahaan besar, atau pekerjaan lain yang dianggap berpenghasilan 'tetap dan menjamin hidup'. Bagaimana dengan pekerja seni? Penulis? Perancang busana? Pelukis? Dan lain-lain? Siap-siap mendapat sambutan yang tidak menyenangkan.
Beberapa hari yang lalu, lewat sms, nyokap menyuruh gue ikut seleksi CPNS. Dia bilang, dia dan opung doli (kakek dari nyokap) bakalan bangga kalau gue jadi PNS. Dengan seenaknya gue bales "aku gak mau jadi PNS.." Gak lama setelah itu nyokap langsung menelpon gue. Sebelum diangkat, gue udah menyiapkan berbagai pembelaan untuk mempertahankan keputusan gue.
Guess what? Nyokap malah ketawa sambil menanyakan alasan. At that moment, gue bersyukur punya orang tua yang berpikiran seterbuka itu.
My mom always believes in me and in every decision that I make. Dulu dia yang paling mendukung gue ketika memutuskan untuk mengambil jalur skripsi dan kuliah 4 tahun, di mana sebagian besar teman gue memutuskan 144 sks dan lulus 3.5 tahun. Dia juga yang mendukung gue habis-habisan dari kritik orang sekitar ketika gue memilih mengambil komunikasi ui, ketimbang itb dan ugm yang katanya masa depannya lebih terjamin.
Now I make my decision. Apa yang akan gue lakukan, gue mau jadi apa, bagaimana gue mencapainya dan resiko apa yang akan gue hadapi, walaupun tidak semua orang akan menyambut itu dengan baik.
Buat apa gue hidup kalau hanya untuk mengikuti dan menyenangkan orang lain?
Egois? Terserah.
Mulai sekarang gue harus sering-sering pasang senyum dan menebalkan telinga. Embrace yourself Grace. Serbuan pertanyaan "Kerja di mana?" akan segera datang.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Sesekali monyet
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang senang menghitung dosa orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang gemar menghakimi orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang suka bilang 'kamu nanti masuk neraka!' ke orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang sering meneriakkan nama Tuhan di jalan-jalan dengan arogan.
Siapa kamu? Tuhan? Tangan kanan Tuhan? Pembawa pesan Tuhan? Perpanjangan tangan Tuhan? Perwakilan Tuhan? Pembela Tuhan?
Dasar monyet!
Ahhh. Masa monyet teriak monyet?
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang gemar menghakimi orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang suka bilang 'kamu nanti masuk neraka!' ke orang lain.
Sesekali ingin bilang 'Monyet!' ke pelayan Tuhan yang sering meneriakkan nama Tuhan di jalan-jalan dengan arogan.
Siapa kamu? Tuhan? Tangan kanan Tuhan? Pembawa pesan Tuhan? Perpanjangan tangan Tuhan? Perwakilan Tuhan? Pembela Tuhan?
Dasar monyet!
Ahhh. Masa monyet teriak monyet?
Jumat, 16 Agustus 2013
Come and talk to me
There you are again
I see you all the time
We haven't really met yet,
But you know, I don't mind
Cause I think today's the day
I'm gonna go right up and say to you
Would it be alright
If I called you up sometime?
There you go again
I let you get away
At least I've got more time
To think of what I might say (like)
“Couldn't we be good” (or maybe)
“Don't you think that we should find
Some quiet little place where we'd make love all day?”
Come and talk to me
What are you waiting for
Cause I can see you passing every day and I'm always wanting more
Come and talk to me
What are you gonna do
Cause I can't seem to get the nerve to get off my own ass
And come and talk to you
You know I love the type
You look like you've been up all night
And yet somehow still look beautiful
You do it all at the same time
Whenever you walk by
You always look me in the eyes
And in that moment I know
the same thing's on your mind
It always seems to be that I let the good things pass by
Because I let my fear stop me (but not this time)
Lirik lagu Keri Noble - Talk to me ini, lagi-lagi, kena banget ke gue. Sebelumnya gue mengikuti kata-kata di lagu ini, gue gak ngebiarin rasa takut menghentikan langkah gue. I already have the no, why don't I take the risk to get the yes? Yak, gue menghampiri langsung orang tersebut.
Sekarang? Sekarang kejadian lagi dengan orang yang berbeda. Tapi kali ini gue maunya sih dia yang menghampiri. Come and talk to me. Mungkin terdengar silly, kebanyakan alasan atau gue yang luar biasa ge-er. Cuma gue penasaran, seberapa berani dia menghampiri gue. I admire that kind of man. I really do.
I see you all the time
We haven't really met yet,
But you know, I don't mind
Cause I think today's the day
I'm gonna go right up and say to you
Would it be alright
If I called you up sometime?
There you go again
I let you get away
At least I've got more time
To think of what I might say (like)
“Couldn't we be good” (or maybe)
“Don't you think that we should find
Some quiet little place where we'd make love all day?”
Come and talk to me
What are you waiting for
Cause I can see you passing every day and I'm always wanting more
Come and talk to me
What are you gonna do
Cause I can't seem to get the nerve to get off my own ass
And come and talk to you
You know I love the type
You look like you've been up all night
And yet somehow still look beautiful
You do it all at the same time
Whenever you walk by
You always look me in the eyes
And in that moment I know
the same thing's on your mind
It always seems to be that I let the good things pass by
Because I let my fear stop me (but not this time)
Lirik lagu Keri Noble - Talk to me ini, lagi-lagi, kena banget ke gue. Sebelumnya gue mengikuti kata-kata di lagu ini, gue gak ngebiarin rasa takut menghentikan langkah gue. I already have the no, why don't I take the risk to get the yes? Yak, gue menghampiri langsung orang tersebut.
Sekarang? Sekarang kejadian lagi dengan orang yang berbeda. Tapi kali ini gue maunya sih dia yang menghampiri. Come and talk to me. Mungkin terdengar silly, kebanyakan alasan atau gue yang luar biasa ge-er. Cuma gue penasaran, seberapa berani dia menghampiri gue. I admire that kind of man. I really do.
Minggu, 11 Agustus 2013
Mereka bilang
Mereka pernah bilang, "Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dengarkan kata hatimu."
Mereka pernah bilang, "Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan simpan semuanya di dalam hati."
Aku ikuti. Aku jalani. Aku mulai memilih. Memilih sesuai keinginanku. Mengatakan isi hatiku. Aku mulai percaya diri. Aku semakin berani.
Tapi sekarang...
Sekarang mereka bilang, "Kenapa kamu milih itu? Memangnya kamu bisa hidup dengan itu?"
Sekarang mereka bilang, "Jangan sembarangan ngomong! Memang kamu tau apa tentang hidup?"
Sekarang, percaya diri yang telah kubangun mulai goyah. Keberanian yang kupunya sedikit demi sedikit menghilang. Suara hatiku semakin samar terdengar.
Sekarang, yang aku butuhkan bukan lagi kata mereka. Aku cuma butuh keteguhan hati. Ah ya, juga Tuhan. Aku masih percaya Tuhan itu ada. Aku akan meminta keteguhan hati dariNya.
Mereka pernah bilang, "Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan simpan semuanya di dalam hati."
Aku ikuti. Aku jalani. Aku mulai memilih. Memilih sesuai keinginanku. Mengatakan isi hatiku. Aku mulai percaya diri. Aku semakin berani.
Tapi sekarang...
Sekarang mereka bilang, "Kenapa kamu milih itu? Memangnya kamu bisa hidup dengan itu?"
Sekarang mereka bilang, "Jangan sembarangan ngomong! Memang kamu tau apa tentang hidup?"
Sekarang, percaya diri yang telah kubangun mulai goyah. Keberanian yang kupunya sedikit demi sedikit menghilang. Suara hatiku semakin samar terdengar.
Sekarang, yang aku butuhkan bukan lagi kata mereka. Aku cuma butuh keteguhan hati. Ah ya, juga Tuhan. Aku masih percaya Tuhan itu ada. Aku akan meminta keteguhan hati dariNya.
Langganan:
Postingan (Atom)