Minggu, 07 September 2014

Ingin masuk Sorga? Belajarlah kepada anak kecil.

Minggu kali ini saya memutuskan untuk ibadah jam 9 di GPIB Gideon Kelapa Dua. Sebenarnya saya lebih suka mengikuti ibadah jam 6 pagi atau 4 sore, karena suasananya yang lebih sepi bisa membantu saya juga lebih bisa menghayati ibadah dibandingkan ibadah jam 9 yang ramai. Akan tetapi karena telat bangun dan banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sore ini, maka saya memutuskan untuk ibadah jam 9.

Ada satu hal yang berbeda pada ibadah kali ini. Sampai sepuluh menit sebelum ibadah dimulai, seluruh tempat duduk di bagian belakang penuh. Aneh, biasanya sekitar jam segitu harusnya masih tersisa cukup banyak tempat duduk di bagian belakang. Langsung menuju bagian depan, saya langsung bingung ketika melihat seluruh bagian depan bangku panjang dipenuhi oleh anak-anak dan setiap barisnya ditempel kertas putih bertuliskan "Anak Layan"

"Mbak-mbak, duduk di sini saja", kata perempuan yang berparaskan Indonesia Timur kepada saya.
Jadilah saya duduk di baris paling depan bagian tengah, tepat di belakang tempat anak-anak tersebut.




Ternyata saat itu gereja sedang merayakan hari ulang tahun Persekutuan Anak yang ke-55, sehingga yang biasanya ibadah untuk anak-anak sekolah minggu dipisah, kali ini digabung. Sehingga kali ini yang menjadi pengiring nyanyian serta pembaca ayat Alkitab adalah anak-anak.

Ibadah kali ini menurut saya berbeda sekali dengan ibadah sebelumnya.

Jika saya diminta untuk mendeskripsikan seluruh lagu pujian pada ibadah kali itu dengan satu kata, maka jawabnya adalah CERIA! Mulai dari musik, lirik sampai suasana saat menyanyikan lagu. Saya bisa merasakan semangat yang jarang sekali saya dapatkan di ibadah orang dewasa. Semangat dan keceriaan yang tulus. 

Selama ini kebanyakan berbagai lagu pujian dipnuhi dengan seruan bagaimana Tuhan menyelesaikan berbagai kesulitan di dalam hidup atau ungkapan penuh penyesalan dan minta ampun pada Tuhan akan dosa yang dinyanyikan dengan lirik dan musik yang berat. Lain halnya kali ini, sebagaimana lagu anak-anak, maka lirik dan musiknya sangat sederhana. 

"Yesus sobatku, temanku dan sayang padaku"

Kapan terakhir kali saya menganggap Yesus sebagai sosok seorang teman? Kapan terakhir kali saya menganggap Yesus sebagai sahabatku? Saya hampir lupa kalau saya punya sahabat sekeren ini. 

Lagu-lagu ini mengingatkan saya kembali bagaimana memuji Tuhan dengan penuh hati gembira dan ceria bukan dilandasai dengan rasa takut.

Ketika pendeta berkhotbah, sudah bisa dipastikan saat itu itu benar-benar berisik! Ada anak yang lagi nangis, mondar-mandir, ngobrol dengan temannya dan berdiri di atas bangku sambil memainkan rambut orang tuanya. Anehnya saya malah merasa damai. Ada yang lucu saat itu, setiap pendeta menanyakan sesuatu ke anak-anak pasti akan dijawab dengan kencang, serentak dan penuh semangat walaupun suasananya berisik. Justru kebalikan dari ibadah dewasa yang biasa saya datangi. Saya tidak pernah mendengar jemaat dewasa menjawab pertanyaan pendeta dengan kencang, serentak dan penuh semangat seperti yang dilakukan anak-anak tadi.

Berbagai pertanyaan mulai muncul. Mengapa kita yang dewasa tidak sesemangat anak-anak di sekolah minggu ketika menjawab pertanyaan pendeta? Tidak seceria mereka ketika menyanyikan lagu-lagu pujian? Tidak sekencang mereka ketika menyebutkan kata "Amen" pada setiap akhir doa?

Malu? Gengsi? Takut salah? Lalu apa masih bisa disebut kita beribadah dengan tulus jika masih gengsi? 

Siapa yang sangka, justru anak-anak itu memberikan saya contoh bagaimana memuji Tuhan dengan hati gembira. Mengajarkan saya bahwa beribadah itu menyenangkan. Memberi tahu saya bahwa tidak perlu khawatir dengan tatapan orang lain jika nada yang saya nyanyikan fals. Nyanyikan saja dengan semangat! 

Mungkin kata orang benar, jika kita mau mendapatkan jawaban yang bijak bertanyalah kepada anak kecil. Selama ini kita sibuk mengajarkan anak kecil bagaimana beribadah dengan benar. Siapa yang mengira kalau kita juga bisa belajar dari mereka? Bukankah Yesus sendiri pernah berkata bahwa kita harus belajar kepada anak kecil?

Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Lukas 18: 16- 17)



Rabu, 12 Februari 2014

Pagi di Bandung

Selamat pagi Tuhan.
Bagaimana kabarMu? Aku di sini, di Bandung lebih tepatnya.
Ah, tapi tanpa perlu kuberi tahu, Kau sudah tahu semuanya tentang aku. Bahkan sampai hal yang aku tidak tahu.
Jadi mengapa aku memberi tahuMu?
Karena aku ingin basa-basi, ingin berbicara panjang, layaknya teman.
Maafkan aku jika Engkau merasa tidak sopan, tapi daripada berdoa dengan melipat tangan dan menutup mata, aku lebih suka seperti ini.
Aku lebih suka menulis seperti ini atau berbicara sendiri di dalam kamar, berbicara denganMu.

Tuhan, tidak sampai setengah jam yang lalu, 10 menit setelah aku terjaga dari tidurku, aku menerima sebuah berita yang mengejutkan. Yah Kau taulah.

Reaksiku?
Seperti biasa Tuhan, mencoba tenang, mencoba santai sambil mengunyah pepaya.
Kau kan tahu Tuhan, Mama pernah bilang, aku salah satu anaknya yang paling bisa menahan emosi di depan umum. Tapi jangan tanya kalau sendirian di kamar. Hahaha

Bagaimana menurutku?
Nah, itulah yang sebenarnya ingin kutanyakan padaMu. Apa tujuan semua ini?
Kalau boleh jujur sebentar tadi aku sempat panik dan bingung. Hanya saja ada satu hal yang tidak aku mengerti, ada satu hal yang belum aku pahami sepenuhnya.
Jauh di dalam hati ada perasaan, entah bagaimana, tenang. Ada sesuatu yang menenangkan hatiku.

Kau tau Tuhan? Aku belum mengerti bagaimana akhir dari semua ini, tapi yang aku mengerti bahwa ini adalah saatnya belajar untuk lebih berserah kepadaMu. Mungkin ke depannya akan ada saat keadaanku naik turun. Selama itu terjadi aku meminta tolong kepadaMu, maukah Engkau untuk tidak melepaskan tanganku sekalipun? Walaupun malah aku yang malah mencoba melepaskan tanganMu? Seperti anak yang mencoba melepaskan genggaman tangan orang tuanya.

Bahkan jika aku berada di titik terendahku? Seperti anak yang mulai rewel dan tidak mengerti maksud baik orang tuanya. Siapa lagi yang bisa kuandalkan selain Kau?

Tuhan.
Terima Kasih.

Untuk apa?
Untuk semuanya, segala hal. Aku menyayangiMu. Sungguh. Aku tahu aku nakal dan sering melupakan perkataanMu. Aku minta maaf dan berterima kasih karena Kau mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih atas kesetiaanMu. Terima kasih atas kasihMu. Terima kasih.

Aku menyayangimu.
:)

Jumat, 07 Februari 2014

Is it okay to not cry?

"Ges, kamu kok gak nangis opungnya meninggal?"

Itu salah satu pertanyaan yang dilontarkan sekitar 7 atau 8 tahun lalu waktu opung doli, ayah bokap gue, meninggal. Dibandingkan dengan para sepupu gue yang nangis tersedu-sedu di sebelah peti mati opung, gue cuma berdiri mematung dan gak mengeluarkan sepatah katapun. Sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Must I cry?

Gue gak tau kenapa gue gak nangis, sementara seluruh keluarga gue wajahnya basah karena air mata. Jadinya sering disalahartikan kalau gue tidak sayang dan tidak merasa kehilangan. How did they know that? Is there any rule that obligate you to cry when you lose the one you love?

There are some people who can't express their feeling in public. They look so cold outside, but you'll never what lies beneath them. I'm one of them. Ketika di sekeliling gue pada nangis berjamaah, dan beberapa dari mereka meraung-meraung, yang bisa gue lakukan hanya diam dan..... diam.

Beberapa hari yang lalu, suami sepupunya nyokap gue, meninggal. Sesuai adat Batak, gue manggil dia uda (om). Ketika almarhum uda dibawa ke rumah dan dibaringkan di atas dipan, saudara-saudara kumpul di sekelilingnya sambil menangis dan bernyanyi lirih menyayangkan kepergiannya yang terlalu cepat.
Waktu itu gue mendampingi opung doli (kakek dari pihak ibu). And guess what? Gue melihat opung gue yang cuma diam mematung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Persis seperti apa yang gue lakukan. Gue tau sifat gue ini turun dari mana.

Di adat Batak, terutama yang menganut agama Kristen, acara adat untuk orang yang meninggal bisa memakan waktu tiga hari. Dua hari kemudian, gue datang lagi ke rumah almarhum uda untuk menjalankan acara adat. Opung gue, yang posisinya di keluarga Manurung paling tinggi, dipersilakan untuk mandok hata (berbicara). Gue bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Ngomong dengan penuh wibawa?

Tidak.

Ngomong singkat dan padat?

Juga tidak.

Jadi?

NANGIS SEKERAS-KERASNYA.

Kita tidak bisa menilai orang yang paling diam, tenang, berdiri di ujung sambil melipat tangan di suatu pemakaman adalah orang yang paling tidak berperasaan. Terkadang justru mereka yang paling terluka atau merasa paling kehilangan. We just don't know how to express it in public.

So, is it okay to not cry?

For me... Yes, it's okay.

Kamis, 30 Januari 2014

Gadis berambut warna-warni

Hari ini gue pikir akan berjalan seperti biasa, hambar, malah sedikit ruwet.
Pulang dari ujian di tempat les dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepala. Penuh rasa khawatir, bingung dan takut.

Waktu bus yang ditumpangi hampir sampai di tempat tujuan, gue yang mau turun dari pintu belakang menangkap sosok perempuan berambut warna-warni yang turun lewat pintu depan. Mencolok mata. Sambil menunggu bus berhenti gue terus melihat dia, dengan earphone terpasang di kedua telinganya, berdendang sambil tersenyum lebar. Tidak sampai 10 detik, tapi berasa sangat lama. Ada sesuatu di matanya yang buat gue tertarik. Mata yang menunjukkan sang empunya memiliki jiwa yang bebas, riang dan menikmati hidup.

Gue dan dia turun di tempat yang sama. Kedua bola mata gue terus merekam sosoknya yang jalan tepat di depan gue. Ketika dia melompati jalan yang rusak, entah mengapa terlihat seperti sedang menari. Dia terlihat menikmati setiap meter yang dilalui. Mungkin di matanya menyusuri trotoar yang tidak terawat itu seperti berjalan di tapak-tapak batu kolam dangkal. Aspal di kanannya terlihat seperti air yang jernih, dan ketika dia menyeberang, kumpulan mobil dan motor terlihat seperti rombongan ikan.

Selama gue mengikuti dan menikmati sosoknya dari belakang, dan akhirnya berpisah jalan, gue tersenyum dan bertanya, "kapan terakhir kali gue seperti itu?".

Kapan terakhir kali gue berdendang di angkutan umum?
Kapan terakhir kali loncat-loncat di genangan air?
Kapan terakhir kali nyanyi dengan suara kencang di kamar?
Kapan terakhir kali gue mandi hujan tanpa mengeluh?
Kapan terakhir kali gue main 'jaga keseimbangan' seakan kanan kiri gue adalah jurang?
Kapan terakhir kali gue menggambar dengan hati gembira, tanpa dituntut keindahannya?
Kapan terakhir kali gue menjalani hari tanpa mengeluh, tanpa rasa khawatir dan tanpa rasa takut?
Kapan terakhir kali gue benar-benar menikmati setiap hal yang gue lakukan?
Kapan terakhir kali gue menikmati setiap menit yang gue lalui?
Kapan terakhir kali gue menghabiskan waktu sendiri hanya dengan buku dan kopi?

Kenapa gue gak bisa mengulangi semua itu kembali?
Kenapa?

Gue percaya setiap pertemuan memiliki makna. Termasuk hari ini. Merci beaucoup gadis berambut warna warni. Tu me rapelles de ces moments. Simple, meis précieux.



Ahhhh, mana gitar dan peralatan gambar gue? Mari kita bercumbu sampai hari ini selesai.