"Ges, kamu kok gak nangis opungnya meninggal?"
Itu salah satu pertanyaan yang dilontarkan sekitar 7 atau 8 tahun lalu waktu opung doli, ayah bokap gue, meninggal. Dibandingkan dengan para sepupu gue yang nangis tersedu-sedu di sebelah peti mati opung, gue cuma berdiri mematung dan gak mengeluarkan sepatah katapun. Sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Must I cry?
Gue gak tau kenapa gue gak nangis, sementara seluruh keluarga gue wajahnya basah karena air mata. Jadinya sering disalahartikan kalau gue tidak sayang dan tidak merasa kehilangan. How did they know that? Is there any rule that obligate you to cry when you lose the one you love?
There are some people who can't express their feeling in public. They look so cold outside, but you'll never what lies beneath them. I'm one of them. Ketika di sekeliling gue pada nangis berjamaah, dan beberapa dari mereka meraung-meraung, yang bisa gue lakukan hanya diam dan..... diam.
Beberapa hari yang lalu, suami sepupunya nyokap gue, meninggal. Sesuai adat Batak, gue manggil dia uda (om). Ketika almarhum uda dibawa ke rumah dan dibaringkan di atas dipan, saudara-saudara kumpul di sekelilingnya sambil menangis dan bernyanyi lirih menyayangkan kepergiannya yang terlalu cepat.
Waktu itu gue mendampingi opung doli (kakek dari pihak ibu). And guess what? Gue melihat opung gue yang cuma diam mematung sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Persis seperti apa yang gue lakukan. Gue tau sifat gue ini turun dari mana.
Di adat Batak, terutama yang menganut agama Kristen, acara adat untuk orang yang meninggal bisa memakan waktu tiga hari. Dua hari kemudian, gue datang lagi ke rumah almarhum uda untuk menjalankan acara adat. Opung gue, yang posisinya di keluarga Manurung paling tinggi, dipersilakan untuk mandok hata (berbicara). Gue bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Ngomong dengan penuh wibawa?
Tidak.
Ngomong singkat dan padat?
Juga tidak.
Jadi?
NANGIS SEKERAS-KERASNYA.
Kita tidak bisa menilai orang yang paling diam, tenang, berdiri di ujung sambil melipat tangan di suatu pemakaman adalah orang yang paling tidak berperasaan. Terkadang justru mereka yang paling terluka atau merasa paling kehilangan. We just don't know how to express it in public.
So, is it okay to not cry?
For me... Yes, it's okay.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar