Gue punya teman, sesama jomblo, yang semester terakhir ini selalu bareng kemana pun. Kita adalah teman yang saling membantu dan selalu ada di saat suka dan duka.
Gue lagi laper dia beliin makanan. Dia lagi haus, gue beliin minuman. Gue kebelet pipis, dia langsung sedia botol kosong. Yah, kedekatan gue dan dia kayak tintin dan snowy. Iya, dia Snowynya.
Apa yang paling bikin kita nempel adalah selera humor yang sama. Kita berdua sama-sama suka nyeletuk hal-hal goblok, sarkas, dan kadang berbau seks. Hmmm, sampai sekarang gue gak ngerti seks itu aromanya kayak apa. Apa? Rasanya? MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAaanjing gue gak tau.
Salah satu celetukan yang sekarang lagi gue inget dari Justice waktu gue habis daftar jadi pengawas di departemen kampus. Sayang banget gue telat dan lowongan udah penuh. Padahal uangnya lumayan. Waktu gue jalan ke arah takor, Justice coba menghibur gue.
"Ge, emang angkatan berapa yang banyak daftar jadi pengawas?"
"2010 kali. Tau dah."
"Ya udah, kalo gitu kita basmi aja satu angkatan. Kita ngelakuin itu, ehhh, apa itu namanya? Geno, gena. Aduh lupa"
"Genosida."
"Nah, iya! Genosida."
"Terus?"
"Terus, cowok cewek kita pisah. Terus yang cowok kita masukin ke ruangan besar."
"Ruang gas maksudnya?"
"Bukan, ruang sauna. Ruangannya terbuat dari kaca. Biar bisa kita lihat prosesnya. Kita telanjangi mereka, terus kita pandangi."
Kita pandangi, kita pandangi, kita pandangi....
Kata-kata itu terus terngiang di telinga gue. Apa yang mau dipandangi?! Titit-titit?
"Wah Ju, berarti kita harus sedia kaca pembesar."
"Buat apa?"
"Yah, siapa tau ada titit-titit yang hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar." "Hmmm, bener-bener."
"Lah, terus yang ceweknya?"
"Ceweknya sama, digituin juga. Cuma suhunya dibuat jauh lebih tinggi. Biar prosesnya lebih cepat. Gak perlu dipandangi."
"Bener-bener. Toh sama-sama punya. Cuma beda di bentuk sama ukuran aja.", jawab gue sambil ngangguk-ngangguk.
Sepanjang perjalanan sampai ke takor gue dan dia gak berhenti ngobrol soal itu. Omongan gue dan dia semakin gak normal, sampai-sampai gue gak sanggup menceritakan itu di sini. Gue dan dia gak pernah berlagak geli atau jijik kalau udah becandaan yang kayak gitu, apalagi kalo topiknya gak jauh-jauh dari vejayjay dan penaynay. Jangan tanya gue kenapa, apalagi tanya ke rumput yang bergoyang kayak bang ebiet.
Ah iya, setelah mengetik ini gue baru menyadari, kayaknya yang punya obsesi memandangi titit-titit cuma gue. Karena yang pertama kali mikir dan nyebut soal titit itu gue, bukan Justice. Justice cuma bilang memandangi, gak pake titit-tititan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar