Minggu kali ini saya memutuskan untuk ibadah jam 9 di GPIB Gideon Kelapa Dua. Sebenarnya saya lebih suka mengikuti ibadah jam 6 pagi atau 4 sore, karena suasananya yang lebih sepi bisa membantu saya juga lebih bisa menghayati ibadah dibandingkan ibadah jam 9 yang ramai. Akan tetapi karena telat bangun dan banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan sore ini, maka saya memutuskan untuk ibadah jam 9.
Ada satu hal yang berbeda pada ibadah kali ini. Sampai sepuluh menit sebelum ibadah dimulai, seluruh tempat duduk di bagian belakang penuh. Aneh, biasanya sekitar jam segitu harusnya masih tersisa cukup banyak tempat duduk di bagian belakang. Langsung menuju bagian depan, saya langsung bingung ketika melihat seluruh bagian depan bangku panjang dipenuhi oleh anak-anak dan setiap barisnya ditempel kertas putih bertuliskan "Anak Layan"
"Mbak-mbak, duduk di sini saja", kata perempuan yang berparaskan Indonesia Timur kepada saya.
Jadilah saya duduk di baris paling depan bagian tengah, tepat di belakang tempat anak-anak tersebut.
Ternyata saat itu gereja sedang merayakan hari ulang tahun Persekutuan Anak yang ke-55, sehingga yang biasanya ibadah untuk anak-anak sekolah minggu dipisah, kali ini digabung. Sehingga kali ini yang menjadi pengiring nyanyian serta pembaca ayat Alkitab adalah anak-anak.
Ibadah kali ini menurut saya berbeda sekali dengan ibadah sebelumnya.
Jika saya diminta untuk mendeskripsikan seluruh lagu pujian pada ibadah kali itu dengan satu kata, maka jawabnya adalah CERIA! Mulai dari musik, lirik sampai suasana saat menyanyikan lagu. Saya bisa merasakan semangat yang jarang sekali saya dapatkan di ibadah orang dewasa. Semangat dan keceriaan yang tulus.
Selama ini kebanyakan berbagai lagu pujian dipnuhi dengan seruan bagaimana Tuhan menyelesaikan berbagai kesulitan di dalam hidup atau ungkapan penuh penyesalan dan minta ampun pada Tuhan akan dosa yang dinyanyikan dengan lirik dan musik yang berat. Lain halnya kali ini, sebagaimana lagu anak-anak, maka lirik dan musiknya sangat sederhana.
"Yesus sobatku, temanku dan sayang padaku"
Kapan terakhir kali saya menganggap Yesus sebagai sosok seorang teman? Kapan terakhir kali saya menganggap Yesus sebagai sahabatku? Saya hampir lupa kalau saya punya sahabat sekeren ini.
Lagu-lagu ini mengingatkan saya kembali bagaimana memuji Tuhan dengan penuh hati gembira dan ceria bukan dilandasai dengan rasa takut.
Ketika pendeta berkhotbah, sudah bisa dipastikan saat itu itu benar-benar berisik! Ada anak yang lagi nangis, mondar-mandir, ngobrol dengan temannya dan berdiri di atas bangku sambil memainkan rambut orang tuanya. Anehnya saya malah merasa damai. Ada yang lucu saat itu, setiap pendeta menanyakan sesuatu ke anak-anak pasti akan dijawab dengan kencang, serentak dan penuh semangat walaupun suasananya berisik. Justru kebalikan dari ibadah dewasa yang biasa saya datangi. Saya tidak pernah mendengar jemaat dewasa menjawab pertanyaan pendeta dengan kencang, serentak dan penuh semangat seperti yang dilakukan anak-anak tadi.
Berbagai pertanyaan mulai muncul. Mengapa kita yang dewasa tidak sesemangat anak-anak di sekolah minggu ketika menjawab pertanyaan pendeta? Tidak seceria mereka ketika menyanyikan lagu-lagu pujian? Tidak sekencang mereka ketika menyebutkan kata "Amen" pada setiap akhir doa?
Malu? Gengsi? Takut salah? Lalu apa masih bisa disebut kita beribadah dengan tulus jika masih gengsi?
Siapa yang sangka, justru anak-anak itu memberikan saya contoh bagaimana memuji Tuhan dengan hati gembira. Mengajarkan saya bahwa beribadah itu menyenangkan. Memberi tahu saya bahwa tidak perlu khawatir dengan tatapan orang lain jika nada yang saya nyanyikan fals. Nyanyikan saja dengan semangat!
Mungkin kata orang benar, jika kita mau mendapatkan jawaban yang bijak bertanyalah kepada anak kecil. Selama ini kita sibuk mengajarkan anak kecil bagaimana beribadah dengan benar. Siapa yang mengira kalau kita juga bisa belajar dari mereka? Bukankah Yesus sendiri pernah berkata bahwa kita harus belajar kepada anak kecil?
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Lukas 18: 16- 17)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar