Kamis, 15 Januari 2015

Aku si pilihan

Dari mana aku harus memulainya? Aku tidak pandai merangkai kata yang indah. Tetapi perasaan ini harus diluapkan. Aku, aku si pemilik daya tarik seksual yang tinggi. Kata mereka. Aku, aku si perempuan yang mandiri. Kata mereka. Aku, aku si perempuan yang memiliki otak. Kata mereka. Aku, aku yang mudah menarik perhatian. Kata mereka.

Aku, aku si bodoh ketika jatuh cinta. Kataku. Aku, aku si bodoh yang siap dijadikan pilihan. Kataku. Aku, aku yang tak mampu mengalihkan perhatianku darinya barang sedetikpun. Kataku.

Hari itu, hampir tiga tahun yang lalu, aku yang baru saja mengumpulkan sisa-sisa harga diriku melihatnya. Dia lewat di depanku. Dia menarik perhatianku dalam sekejap. Selama dua tahun itu dia perlahan-lahan menetap dan merajai pikiranku.

Aku baru mulai mengenalnya sekitar beberapa bulan yang lalu. Mungkin kau sedang bertanya apa saja yang kulakukan selama dua tahun itu. Aku mengumpulkan keberanian. Aku memperbaiki diriku. Aku mencoba mencintai diriku sendiri kembali. Kisah yang lama terlalu sakit, bukan karena rasa cinta yang dalam. Bahkan aku tidak merasa ada rasa cinta yang dalam pada kisah sebelumnya. Akan tetapi, sakit itu muncul karena kepercayaan yang kuberikan seutuhnya dilanggar. Apa yang lebih sakit dari pada dikhianati oleh orang terdekatmu? Dua tahun itu aku belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain.

Kali ini berbeda dari sebelumnya, namun aku belum sanggup menyatakan apakah ini cinta atau rasa penasaran. Aku kembali menjadi si bodoh. Si bodoh yang siap memberikan segalanya kepada orang yang disayanginya. Orang yang menurutnya penting. Aku melakukan apa yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Aku si manusia yang selalu berpikir tanpa bertindak, mulai berlaku kebalikannya.

Lalu itu terjadi lagi. Aku menjadi pilihan kedua baginya. Mungkin pilihan kedua. Bisa jadi ketiga, keempat, sesuai dengan kebutuhannya. Sesuai dengan siapa yang punya waktu untuk menemaninya. Aku melihat dia memperlakukan perempuannya berbeda denganku. Dia memperlakukan kekasihnya dengan penuh kasih sayang, bukan dengan penuh nafsu saat bersamaku. Aku menyadari bagaimana dia merasa tidak enak ketika membatalkan janji dengannya, sementara janjinya denganku dapat semudah itu dibatalkan. Kau melihat bagaimana dia meluangkan waktu, bahkan bekerja keras menyempatkan diri di sela watu sibuknya untuk bertemu dengannya. Sementara untukku? Bisa kau bayangkan sendiri. Saat itu aku berpikir semuanya terjadi karena aku baru mengenalnya, sementara dia dan kekasihnya sudah lama saling mengenal.

Lalu dia mulai mendekatiku kembali, setelah dia putus dengan kekasihnya. Di saat aku mulai mengumpulkan harga diriku kembali. Dia mulai mengingatkan janji-janji yang sebelumnya pernah kami buat. Aku terjerumus kembali di lubang yang sama, lebih parah dari keledai. Membuat janji-janji yang baru dan kembali tidak ditepati.
 
Inilah aku sekarang. Berada di persimpangan. Masih memegang harapan akan keajaiban dari kesabaran dan ketekunan, walau harga diriku terasa terinjak. Tetap bertahan menjadi pilihan sampai dia tersadar, entah kapan, bahwa hanya aku satu-satunya pilihan yang tersisa. Atau haruskah aku berhenti mencoba mengarungi lautan demi orang yang bahkan enggan melompati genangan untukku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar