Selasa, 27 Agustus 2013

Tidak sempat

Ibuku tidak mencintaiku.
Aku tumbuh dengan anggapan itu selama hampir empat puluh tahun. Sejak kecil tidak ada peluk mesra atau ucapan bangga. Setiap hari hanya kritikan dan perintah untuk menjadi lebih baik, seperti kakakku. 

Membandingkan kami berdua sudah menjadi kebiasaan ibuku. Tidak seperti kakakku, aku tidak pintar, tidak gaul dan tidak berprestasi. Tidak pernah ada pelukan atau ucapan sayang. Bahkan tidak ada kata aku mencintaimu dan menyayangimu yang pernah keluar darinya. 

Orang bilang cinta pertama kali dirasakan di rumah, di dalam keluarga. Di mana kau dicintai apa adanya. Aku tidak menemukan itu. Aku tidak merasakan cinta itu. Aku menganggap bahwa ibuku tidak mencintaiku, sekalipun atau sedikitpun. Lulus sekolah aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Mencari sebuah kebebasan, sebuah penerimaan dan cinta.

---
Malam hari setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku menerima telepon dari kakakku. Tumben, pikirku. 

“Halo, dek. Aku ganggu gak telepon kamu malam-malam begini?”, suaranya terasa canggung. 
“Gak papa.” 
“Gimana kabarmu?” 
“Baik.” 
“Kemarin aku ditelpon ibu. Katanya dia susah sekali menghubungi kamu.” 
"Aku sibuk.” Hening sementara. 
"Gini, kemarin ibu bilang akhir minggu ini dia mau nginap di rumahmu. Kasihan ibu gak ada teman” 
“Aku tau tapi gak bisa”, jawabku dingin. Tidak akan pernah bisa, batinku. 
“Kamu masih marah sama ibu? Mau sampe kapan? Kamu gak capek hidup kayak gitu?” 
Aku hanya bisa diam. 
"Bagaimanapun dia itu tetap ibu kita. Ibumu”, dia menekankan suaranya di bagian akhir. 
“Di akta kelahiran”, jawabku cepat. 
“Gak ada gunanya menyimpan dendam seumur hidup. Ibu sudah tua, gak ada salahnya kan kamu menuruti keinginannyamenginap di tempatmu sebentar?” 
“Justru salah. Salah besar.” 
“Mungkin ini terakhir kalinya kamu bertemu ibu”, jawabnya. “Tidak ada salahnya memberi kesempatan. Suatu hari kita akan menyesal karena hal-hal yang tidak kita lakukan.” 
“Terserah”, ucapku cepat sambil menutup telepon. Tanpa pikir panjang aku  menjawab asal karena tidak ingin melanjutkan perdebatan. Sepanjang malam aku mengutuki diri sendiri.

---

Jumat sore aku menjemput ibuku di bandara. Hampir sepuluh tahun aku tidak melihatnya, sejak pemakaman ayah. Saat itu aku memutuskan untuk sibuk menerima tamu yang berbelasungkawa. Lebih baik begitu daripada harus berada di samping ibuku. 

Deg! 

Aku melihat ibuku keluar dari pintu terminal kedatangan. Ada perasaan aneh ketika aku melihatnya lagi. Dia tampak lebih kurus dan rapuh. Tidak seperti yang kubayangkan selama ini, sosok yang tinggi dan menakutkan. Rambutnya yang dulu hitam lebat sebagian besar telah memutih. Wajahnya yang dulu keras dengan tulang pipi yang tinggi dan tegas tampak melembut. Walaupun menjelang 70 tapi kecantikannya masih terlihat. Dia memakai setelan merah tua. Tangan kanannya menenteng tas bewarna senada dengan sepatunya. Sementara tangannya yang lain menarik koper bewarna kelabu. Dia tersenyum melihatku. Hangat.

Aku menghampirinya untuk membantu membawakan kopernya. Tanpa pelukan, ciuman dan basa-basi menanyakan kabar satu sama lain kami menuju mobilku. Selama perjalanan, kami lebih banyak diam. Sesekali dia bertanya mengenai pekerjaanku. Semuanya kujawab dengan singkat tanpa balik bertanya. Sesampainya di rumah, dia mengernyit. Dia terlihat tidak suka dengan pilihan warna dinding rumahku dan perabotannya.

Ya, aku memilih pewarna yang memang tidak disukai ibuku. Setiap pilihan yang kubuat di hidupku memang tidak pernah sesuai dengan keinginan ibuku. Aku seorang pelukis. Pekerjaan yang dianggap ibuku tidak menjamin masa depan. Aku juga memutuskan untuk tidak menikah. Suatu hal yang sering disebut ibuku sebagai penyakit perempuan masa kini. Dia terlihat ingin berkomentar, namun mengurungkan niatnya. 

Aku kemudian mengantarkan dia ke kamarnya dan meninggalkannya untuk menyiapkan makan malam. Ketika makan malam, rasa canggung memenuhi seluruh ruang makan, sesekali diselingi suara sendok dan garpu yang beradu. Perasaan tidak nyaman membuatku cepat-cepat menyelesaikan makan malam. Selesai makan aku bergegas merapikan meja dan melanjutkan pekerjaanku. “Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja.”, kataku sambil meninggalkannya menonton TV di ruang tengah.

---

Perasaanku berkecamuk ketika melanjutkan pekerjaanku. Pikiranku buntu dan tanganku tidak mau diajak bekerja sama. Aku memikirkan kecanggungan yang akan kuhadapi selama dua hari ke depan. Tiba-tiba pintu ruang kerjaku terbuka. Ibuku masuk sambil membawa dua mug cokelat hangat. 

“Ibu butuh sesuatu?”, jawabku sambil pura-pura melanjutkan lukisanku, sesekali melirik ke arahnya berusaha tidak melihat matanya. Dia memberikan salah satu mug kemudian menyeret satu kursi untuk diduduki di dekatku. 
"Ibu butuh bicara samamu.”, katanya. 
“Tapi aku lagi kerja”, kataku sambil meletakkan minumanku ke bawah kursiku. 
“Kamu cukup mendengar, sambil melanjutkan lukisanmu. Tidak perlu ditanggapi jika kau tak mau.” 
Aku mencoba melanjutkan kembali pekerjaanku.
“Ibu minta maaf... “
Aku sempat menghentikan kegiatanku, lalu pura-pura melanjutkannya seakan tidak peduli. 
“Selama 40 tahun ini ibu telah salah memperlakukanmu. Ibu punya berbagai alasan untuk setiap kesalahan yang ibu lakukan. Tapi ibu tahu, alasan apapun tidak dapat membenarkannya.” 
Aku berbalik dan menatap lekat-lekat matanya. Warnanya cokelat muda, persis sepertiku. 
“Aku telah melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Menganggapmu sebagai penghalang. Menyia-nyiakanmu yang seharusnya merupakan anugerah bagiku” 

Ibuku memang seorang yang berjiwa bebas, tidak ingin terikat dan perfeksionis. Menurutnya memiliki anak sudah cukup membuatnya terkekang setelah memutuskan untuk menikah muda. Namun punya satu anak yang sempurna seperti kakakku masih bisa dia terima. Dia berencana untuk kembali menyusun mimpinya. Tapi aku, muncul tanpa rencana. Kemunculanku dan kekuranganku menghancurkan susunan mimpinya dan dianggap sebagai sebuah kesalahan yang besar. 

“Ibu tahu kata maaf tidak akan cukup untuk mengobati lukamu. Kata maaf juga tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap seperti sihir ibu peri. Memaafkan dengan sepenuh hati membutuhkan waktu.” 

Ada perasaan tulus yang keluar dari kata-katanya. Aku hanya bisa terdiam sambil memandang keriput di wajahnya. Terakhir bertemu keriputnya tidak sebanyak ini. Matanya juga tampak lelah, walaupun sinarnya masih dapat membuatku membisu. Sejak kapan ibu yang selama ini tampak kuat terlihat rapuh seperti ini? 

“Ibu udah selesai? Aku mau lanjut bekerja.”, kataku dingin memotong keheningan yang sempat tercipta. 
"Sudah”, kata ibuku pelan. Dia lalu memegang bahuku dari belakang kemudian pergi meninggalkan ruangan. Perasaan haus langsung melandaku. Cepat-cepat kutenggak cokelat tadi sampai habis. Jantungku berdegup kencang dan keringat mengalir dari dahiku. Aku memutuskan menyudahi pekerjaanku dan kembali ke kamarku. Aku mencoba memejamkan mata, namun sulit. Setiap kata masih teringat jelas dan sentuhannya masih terasa. Aku baru tertidur menjelang subuh karena kelelahan menghadapi perasaanku sendiri.

---

Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Ibuku telah menyiapkan sarapan pagi. Suka atau tidak suka mengakuinya, masakan ibuku memang sangat enak. Setelah sarapan aku memutuskan berjalan-jalan ke taman di dekat rumah bersamanya.

Saat itu cuacanya sejuk. Aku dan ibu duduk di bangku di bawah pohon. Dia menanyakan alasanku mengapa memutuskan tidak menikah. Aku menjawab belum menemukan cinta yang selama ini aku cari. Lalu aku menanyakan bagaimana masa mudanya. 

“Masa mudaku? Sama sepertimu. Umur 17 tahun aku bertengkar dengan ayahku dan memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari kebebasan. Selama tiga tahun aku hidup tidak menentu. Bekerja apa saja demi memenuhi kebutuhanku. Bahkan aku pernah mengalami pelecehan seksual. Aku sempat menyesal dengan keputusa yang kuambil, tapi aku terlalu keras kepala saat itu. Terlalu malu untuk kembali ke orang tuaku, harga diriku tidak mengizinkanku melakukannya. Mau tidak mau aku harus melanjutkan hidupku, sesakit apapun itu.", dia berhenti sebentar. Matanya menerawang. 

"Lalu, di saat aku tidak punya apa-apa lagi, aku bertemu ayahmu. Dia pria yang sangat baik, bahkan terlalu baik. Di dalam dirinya aku menemukan rasa aman. Pada akhirnya aku menerimanya tanpa rasa cinta, tidak sanggup menolak ketulusannya. Lagipula saat itu yang kubutuhkan bukanlah cinta, tapi tempat berlindung dan kepastian dapat melanjutkan hidup." 
"Apakah sampai ayah meninggal kau tetap tidak benar-benar mencintainya?" 
"Jika iya, aku tidak akan mendampinginya sampai akhir hayatnya."
Setelah itu aku dan dia terdiam selama beberapa menit. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku sambil tersenyum, “Kau tahu? Sekarang aku tahu dari mana datangnya sifat keras kepala dan tangguhmu itu ketika menghadapiku selama bertahun-tahun.”

Deg! 

Lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Sinar mata itu dulu sering kulihat, tapi tidak pernah ditujukan kepadaku. Mata yang mengandung rasa bangga dan sayang. Dia lalu menggenggam tanganku sambil melihat ke arah langit senja. 

Malam itu di rumah aku dan dia berbicara hingga subuh. Lebih tepatnya dia yang paling banyak bercerita. Aku hanya menjawab setiap pertanyaannya dengan singkat. Dia menceritakan berbagai hal seakan tidak ada lain waktu untuk melakukannya. Diam-diam ada perasaan hormat yang muncul dalam diriku kepadanya. Saat itu, tanpa kusadari, perasaanku semakin melembut. 

---

Keesokan siangnya aku mengantarkan ibuku ke bandara. Pesawatnya berangkat dua jam lagi. Kami memutuskan untuk minum teh sebentar sambil menunggu. Kali itu kami hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kami menikmati teh masing-masing dan sesekali memandangi satu sama lain. Kadang-kadang terselip senyum dari kedua bibir kami. 

Tiba saatnya ibuku harus masuk ke ruang tunggu. Di depan pintu dia memelukku dengan erat. Belum sempat aku lepas dari keterkejutanku dan memeluknya balik, dia sudah melepaskan pelukannya. Lalu dia masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku langsung balik menuju mobilku, kembali ke rumah, kembali ke kesibukan semula....

---

Itu terakhir kalinya aku melihat ibuku. Seminggu kemudian kakakku mengabari bahwa ibu meninggal dunia. Aku menghadiri pemakamannya. Peti dibuka untuk penghormatan terakhir. Dia terihat anggun dengan gaun putihnya. Aku membelai pipinya dan mencoba mencium keningnya. 

Seketika air mataku mengalir dan aku menyadari sesuatu. Ada rasa sesak memenuhi dadaku, sakitnya membuat seluruh sendiku lemas. Aku terjatuh di samping peti dan mulai menangis. 

Aku terlambat menyadari akhirnya aku jatuh cinta. Aku menemukan cinta yang selama ini aku cari. Aku jatuh cinta sejak melihat senyuman hangatnya di bandara. Aku jatuh cinta dengan sentuhan tangannya yang lembut. Aku jatuh cinta dengan ketulusannya. Aku jatuh cinta dengan tatapan matanya. Aku jatuh cinta dengan masakannya. 

Aku jatuh cinta kepada ibuku. Aku telah diberi kesempatan seminggu setelah kepulangannya dari rumahku. Tapi menelpon sekedar menanyakan kabarnya pun tak kulakukan. Sekarang semuanya sudah terlambat. Cinta ini tidak sempat dan tak akan pernah bisa kuutarakan kepadanya. 

"Suatu hari kita akan menyesal bukan karena hal yang telah kita lakukan, tetapi karena hal-hal yang tidak pernah kita lakukan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar