Setiap hari dia melewati toko itu hanya untuk melihat pujaan hatinya.
"Dia sungguh indah", pikirnya dalam hati.
Sepanjang hidupnya dia belum pernah menemukan perempuan yang bisa menarik perhatiannya.
Pertama kali dia melihatnya seminggu yang lalu, perempuan itu sedang berdiri di dalam tokonya, menggunakan gaun musim panas berwarna putih sepanjang lutut. Belahannya yang rendah menunjukkan lehernya yang jenjang. Gaun itu sesuai dengan cuaca yang saat itu sangat panas. Dia tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. Senyumannya membuat lelaki itu tersipu malu, walaupun bukan ditujukan kepadanya.
Lelaki itu pulang dengan gembira, berharap esok hari akan bertemu kembali.
Keesokan harinya, lelaki itu pulang lebih larut dari tempat kerjanya. Terlalu banyak yang harus diselesaikan. Tangan kecil jamnya menunjuk ke arah angka 10. Toko itu sudah tutup. Dia pulang dengan sedih sambil berharap. "Masih ada esok hari", pikirnya.
Esoknya, lelaki itu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya, yang ada di dalam pikirannya. Setiap hari di pikirannya hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan pulang melewati toko tersebut. Jantungnya berdegup kencang setiap dia hampir sampai toko tersebut.
30 meter lagi
20 meter
10 meter
Deg!
Kali ini perempuan itu memakai gaun musim panas berwarna biru langit dengan pola bunga-bunga kecil bewarna putih. Serasi dengan kulitnya yang pucat.
Pria itu memutuskan untuk melihatnya melalui cafe di seberang toko. Masih ada satu jam lagi sebelum toko ditutup, pikirnya. Dia tidak memilih meja di luar, tetapi di dalam yang sedikit menghadap ke arah toko. Dia takut terlalu mencolok.
Melalui balik kaca cafe, dia memandang perempuan itu sambil menyesap americano double shot espresso tanpa gulanya. Lidahnya seakan tidak merasakan pahit. Seluruh konsentrasinya terpusat pada indera penglihatannya.
Dia menatap setiap jengkal tubuh perempuan itu, sambil memuji setiap bagiannya di dalam hati. Sempurna, terlalu sempurna.
Waktu menunjukkan angka sembilan, toko mulai sepi dan hanya ada 3 pelanggan, tetapi perempuan itu tidak menunjukkan rasa kelelahan. Dia tetap tersenyum kepada pelanggan yang masih mencari barang kebutuhannya. Pria itu lalu memutuskan untuk pulang dan tidak menunggu sampai toko itu tutup. Dia harus mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat esok hari. Sepanjang perjalanan menuju rumah, pria itu tak henti-hentinya berdendang. Belum pernah dia merasa sebahagia itu.
Dia tidak sabar untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu tidur dan bertemu perempuan itu lagi keesokan harinya. Di dalam pikirannya hanya ada dia, dia dan dia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar