Kamis, 29 Agustus 2013

Perempuan itu (2)

Sudah dua bulan berlalu, memerhatikan perempuan itu setiap pulang kerja menjadi sebuah candu baginya. Dia tidak tahu perempuan itu sadar atau tidak akan keberadaannya, tetapi sebisa mungkin dia melakukan semuanya dengan tidak mencolok.

Terkadang dia hanya lewat sepintas di depan toko dan melihat sekilas perempuan itu. Di lain kesempatan, dia akan duduk selama setengah jam atau lebih di cafe depan toko. Agar tidak terlalu kentara dia membuka laptopnya agar terlihat sibuk, walau matanya lebih lama menatap perempuan itu daripada layar. Semua dia lakukan agar tidak disangka sebagai seorang penguntit. Dia takut rutinitasnya ini mengundang salah paham. Padahal yang dia lakukan hanya mengagumi keindahan seorang perempuan, dari jauh.

Sampai saat ini dia masih belum berani mendekati perempuan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang setiap dia berusaha memasuki toko itu. Tangannya berkeringat dingin dan dia hanya bisa mematung di depan pintu. Setiap itu terjadi, dia memutuskan untuk berbalik arah dan pulang ke rumah. Dia belum berani untuk menghampiri langsung perempuan itu. Dia takut lidahnya kelu dan gagapnya kumat jika berada di depan perempuan itu. Dia malu.

Hari itu, setelah puas melihat sekilas ke toko, dia berpikir, mau sampai kapan? Mau sampai kapan dia hanya bisa melihat dari jauh? Sementara dia mulai merasakan ada sebuah tuntutan yang semakin besar dari dalam dirinya. Dia mulai menyadari bahwa dia menginginkan lebih dan lebih lagi. Tidak hanya mencuri pandang. Tidak hanya melihat. Tidak hanya memerhatikan dari jauh. Dia mau lebih dari itu.

Semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya. Dorongan itu terlalu kuat dan tidak bisa dikendalikan. Ada rasa panas di dadanya yang membuat dia terjaga semalaman. Dia tidak sabar menunggu munculnya surya. Seperti ada sebuah motor raksasa yang menggerakkan keberaniannya. Dia telah menetapkan hatinya. Dia akan memenuhi tuntutan itu.

Dia mau lebih dan dia akan mendapatkan lebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar