Kedua alisku berkerut memikirkan alasan yang tepat. Jika sekali saja yang kuutarakan tidak sesuai dengan hatinya, maka alasan apapun yang mendukung tidak akan menggoyahkan keteguhannya. Tapi tiba-tiba, belum sempat aku berbicara, dia sudah tertawa.
“You look so funny. Kamu gak perlu capek-capek nyari alasan yang tepat. Cukup bilang ‘tanpa alasan’ mungkin aku bakalan setuju.”, katanya sambil tertawa memamerkan satu lesung pipitnya yang manis.
“Maksudnya?”
"Well, you know. Terkadang tanpa alasan merupakan alasan terbaik melakukan sesuatu. Terutama cinta, justru semakin indah ketika kamu melakukannya tanpa alasan.”, jawabnya sambil menatap lekat-lekat kedua mataku. Mata itu seperti samudra. Sangat dalam, sehingga aku tidak bisa menebak isinya, tetapi memikat, sampai aku rela terseret ombaknya. “Indah..” gumamku dalam hati. Tanpa sadar aku terhanyut kembali oleh kedua mata itu.
Saat itu kami sedang duduk di beranda rumahku. Tiba-tiba hujan deras turun, membuatku memindahkan posisi dudukku jauh ke dalam agar tidak terkena rintikan hujan. Sementara dia bergeming, tetap bersandar di salah satu pilar, menutup kedua matanya dan mengarahkan wajahnya ke arah hujan. Percikan-percikan air hujan yang terbawa angin mulai membasahi wajahnya. Dia menikmati tiap tetesnya sambil tersenyum dan berdendang, mulai hanyut dalam dunianya sendiri.
Kupu-kupu yang lucu
Ke mana engkau terbang
Lagunya tidak sesuai dengan cuaca saat itu. Mana ada kupu-kupu yang terbang ketika hujan deras. Tetapi dia tidak peduli. Dia tetap melanjutkan nyanyiannya sambil mengayunkan tangannya ke kanan dan kiri, seakan mengikuti alur terbang kupu-kupu.
Hilir mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Aku mulai memandangi tiap jengkal tubuhnya. Ada yang bergemuruh di dalam dada, rasa rindu yang ingin menyeruak. Rambutnya hitam lebat sebahu. Aku masih ingat aroma mawar setiap dia tertidur di bahuku. Bibirnya yang mungil dan tebal, basah terkena air hujan. Aku masih ingat bagaimana dia menjilat sisa-sisa susu yang selalu menempel di pinggirnya.
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Rambutnya disibakkan ke sebelah kiri, memperlihatkan leher jenjangnya yang selalu disemprotkan parfum. Lagi-lagi beraroma mawar, misterius dan mengundang. Dia tahu, gairahku selalu meningkat setiap mencium aroma itu. Jari-jarinya mungil dan lentik, dengan kukunya yang diwarnai biru langit. Terlihat kontras tapi serasi dengan warna kulitnya yang tidak terlalu putih. Tangan yang dulu selalu kuggenggam dengan hati-hati, takut meremukkannya jika menggenggam terlalu keras. Tangannya yang dingin, membuatku enggan melepaskannya agar tetap hangat.
Tidakkah sayapmu merasa lelah
Tubuh mungilnya tidak sesuai dengan energinya yang tak pernah habis. Wajahnya yang lembut tidak menggambarkan keteguhan hatinya. Dibalik penampilannya yang rapuh tersembunyi sosok yang keras bagai batu karang. Sosok yang terus membuatku jatuh, sehingga dia menjadi pusat gravitasiku dimanapun aku berada.
"Kamu belum jawab pertanyaanku”, katanya tiba-tiba sambil tersenyum. Sebuah senyum miring yang memikat.
“Masih perlu dijawab?”
“Tergantung seberapa besar keinginanmu.”
“Seberapa besarpun keinginanku sepertinyanya gak akan pernah cukup.”
"Yah, mungkin. Kamu tahu? kupu-kupu itu indah justru ketika dia terbang dengan bebas, bukan waktu dia di dalam kaca. Kepakan sayapnya seakan membalas goyangan daun yang menyapanya. Warnanya justru semakin indah ketika dia hilir mudik di tengah-tengah bunga. “
Dia benar, pikirku. Sudah tujuh tahun aku mengenalnya. Kepribadian kami bagai langit dan bumi, tapi justru saling melengkapi. Aku yang memiliki pembawaan tenang merasa nyaman dengannya yang tidak bisa diam. Aku yang pendiam menikmati peranku jadi pendengar setiap ceritanya yang seakan tidak pernah habis. Aku yang lebih senang di rumah merasa menemukan dunia baru ketika mengikutinya. Dia memiliki jiwa yang bebas. Tidak ada satupun yang dapat mengekang langkahnya. Harinya diisi dengan berbagai hal baru. Jiwanya dipenuhi rasa penasaran dan haus dengan berbagai pengalaman. Kata petualangan seakan mengalir di dalam darahnya. Makin lama aku semakin tidak mampu mengikutinya.
Sesekali dia akan beristirahat dan memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Tapi tidak pernah lama dan tak mungkin bertahan lama. Rasa bosan akan segera menghampirinya. Dia kembali pergi mengunjungi berbagai yang menarik hatinya.
“Ya, keindahan kupu-kupu itulah yang selama ini menarik hatiku.”, jawabku setelah sekian lama kami terdiam.
Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Dia mendekatiku, menatapku dengan tajam, membuatku beku seketika. Tangannya membelai rambutku, kemudian turun ke pipiku.
“Sejauh apa dia menarik hatimu?”, tanyanya sambil terus membelai pipiku. “Sangat jauh. Bahkan terlalu jauh. Keindahannya membuatku selalu mengikutinya. Sampai aku lelah, sampai aku memutuskan untuk berhenti dan mencoba menangkapnya. Membawanya ke rumah dan menikmati keindahannya”, jawabku.
“Ketika kupu-kupu itu ditangkap keindahannya akan hilang saat itu juga.”, jawabnya. Kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Menghentikanku untuk membalas perkataannya lebih jauh. Seperti ada aliran listrik mengaliri tubuhku. Aku membalas ciumannya. Di tengah hujan deras kami bercumbu. Kepalaku terus-menerus menyuruhku untuk berhenti, tapi dorongan dalam dada mendorongku untuk semakin merengkuh tubuhnya. Aku memeluknya sepuasku, merasakan setiap inci tubuhnya. Malam itu kuhabiskan dengannya. Rindu yang tertahan selama ini kulampiaskan semua.
---
Keesokan harinya, seperti biasa, kupu-kupuku terbang lagi. Ternyata alasan ‘tanpa alasan’ tidak cukup. Sebesar apapun keinginanku juga tidak akan pernah cukup untuk membuatnya tinggal. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Kupu-kupuku terlihat lebih indah ketika terbang daripada diam di dalam kaca. Dengan sayapnya yang rapuh namun indah dia pergi lagi, tanpa lelah, meninggalkanku dan cinta yang dia tanam sejak tujuh tahun lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar